Oleh: Hamzah Irfanda, S.Sos., M.Pd*
Pergantian Tahun Baru Islam 1448 Hijriah bukan sekadar momentum seremonial yang ditandai dengan pergantian angka pada kalender.
Tahun baru dalam Islam mengandung makna yang jauh lebih dalam, yakni kesempatan untuk melakukan refleksi terhadap perjalanan hidup yang telah dilalui serta menata langkah menuju kehidupan yang lebih baik.
Sering kali manusia menjalani hari demi hari tanpa menyadari bahwa waktu terus bergerak dan umur terus berkurang.
Selama 365 hari yang telah berlalu, begitu banyak kesempatan yang diberikan Allah SWT untuk berbuat kebaikan, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Namun tidak sedikit pula waktu yang terlewat tanpa makna, bahkan terkadang digunakan untuk hal-hal yang menjauhkan manusia dari tujuan hidup yang sesungguhnya.
Islam mengajarkan bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara.
Ibarat seorang musafir yang berteduh sejenak di sebuah gubuk saat hujan turun, setelah hujan reda ia akan melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhirnya.
Demikian pula kehidupan manusia. Dunia bukanlah tempat tinggal yang abadi, melainkan tempat menyiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal di akhirat.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa rata-rata usia umatnya berada pada rentang enam puluh hingga tujuh puluh tahun.
Usia yang tampak panjang sesungguhnya sangat singkat jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang tidak berbatas.
Karena itu, sangat merugi apabila umur yang diberikan Allah SWT hanya dihabiskan dalam kesibukan duniawi tanpa meninggalkan jejak amal saleh yang bernilai di sisi-Nya.
Bagi orang yang beriman, bertambahnya usia merupakan karunia sekaligus peluang untuk memperbanyak amal kebaikan.
Selama hayat masih dikandung badan, pintu taubat tetap terbuka dan kesempatan berbuat baik masih tersedia. Sebaliknya, ketika ajal telah tiba, seluruh kesempatan itu akan terhenti.
Tidak ada lagi ruang untuk memperbaiki kesalahan ataupun menambah amal kebajikan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Mulk ayat 2 bahwa Dia menciptakan hidup dan mati untuk menguji siapa di antara manusia yang paling baik amalnya.
Ayat ini menegaskan bahwa ukuran keberhasilan hidup bukanlah banyaknya harta, tingginya jabatan, atau luasnya kekuasaan, melainkan kualitas amal yang dilakukan selama hidup di dunia.
Oleh karena itu, datangnya bulan Muharram sebagai salah satu dari Asyhurul Hurum atau bulan-bulan yang dimuliakan hendaknya menjadi momentum penguatan spiritual.
Muharram mengajarkan pentingnya hijrah, yaitu berpindah dari keadaan yang kurang baik menuju keadaan yang lebih baik.
Hijrah tidak selalu berarti perpindahan fisik, tetapi juga perubahan sikap, perilaku, pola pikir, dan kualitas keimanan.
Tahun baru juga menjadi saat yang tepat untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri.
Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah perjalanan hidup selama ini sudah berada di jalan yang diridhai Allah SWT?
Apakah ibadah semakin meningkat atau justru menurun?
Apakah hubungan dengan sesama semakin baik atau malah dipenuhi konflik dan kebencian?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar kita mampu melihat kekurangan dan segera melakukan perbaikan.
Setiap manusia tentu memiliki kesalahan dan dosa, baik yang disadari maupun yang tidak disadari, baik yang kecil maupun yang besar.
Namun Allah SWT adalah Zat Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Karena itu, sebaik-baik manusia bukanlah yang tidak pernah salah, melainkan yang segera kembali kepada Allah ketika menyadari kesalahannya.
Momentum Tahun Baru Islam 1448 H hendaknya menjadi titik awal untuk memperindah kehidupan.
Keindahan hidup bukan terletak pada kemewahan materi, tetapi pada ketenangan hati, keberkahan usia, dan manfaat yang dapat diberikan kepada sesama.
Mari menjadikan pergantian tahun ini sebagai kesempatan untuk memperkuat iman, memperbanyak amal saleh, memperbaiki akhlak, serta menata masa depan yang lebih baik di bawah ridha Allah SWT.
Semoga Tahun Baru Islam 1448 H menjadi awal perubahan menuju pribadi yang lebih bertakwa, lebih bermanfaat, dan lebih siap menghadapi kehidupan dunia maupun akhirat. []
Penulis adalah Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam Institut Agama Islam Sumatera Barat. *

Good