Di Balik Kesunyian Integritas

Oleh : Shintalya Azis*)

Lina dikenal sebagai sosok kakak tertua yang tegas namun penuh kasih. Baginya keberhasilan bukan sekadar jabatan tinggi atau hidup berkecukupan.

Namun, keberhasilan adalah ketika seseorang mampu menjaga nama baik, hati nurani, dan integritas di tengah dunia yang sering kali menawarkan jalan pintas.

“Jangan pernah bermain-main dengan ketidakjujuran,” pesan Lina suatu malam kepada adik-adiknya.
“Sekecil apa pun, kalau itu bukan hak kita, jangan disentuh. Rezeki yang baik tidak datang dari cara yang salah.”

Nasihat itu selalu diingat Yuni, adiknya.

Yuni bekerja sebagai ASN di sebuah kelurahan. Ia mencintai pekerjaannya karena bisa membantu masyarakat, terutama warga kecil yang kesulitan mengurus administrasi. Baginya, pelayanan publik adalah amanah.

Namun seiring waktu, Yuni mulai merasakan sesuatu yang mengusik batinnya.

Di kantor, ada kebiasaan yang dianggap lumrah oleh sebagian pegawai yaitu menerima uang “terima kasih” dari warga setelah pelayanan selesai. Tidak pernah diminta secara terang-terangan, tetapi diterima dengan terbuka.

Awalnya Yuni mencoba memahami.

“Ah, mungkin memang begini budaya kerjanya,” pikirnya.

Tetapi lama-kelamaan, ia mulai tidak nyaman.

Suatu hari, setelah membantu mengurus berkas seorang warga lansia yang cukup berbelit, perempuan tua itu menyelipkan sejumlah uang kecil ke meja Yuni.

“Nak, terima kasih ya sudah membantu ibu. Ini sedikit uang lelah,” katanya tulus.

Yuni terdiam dan segera mengembalikannya dengan halus.

“Tidak usah, Bu. Ini memang tugas saya.”

Namun belum sempat warga itu pergi, salah seorang rekan kerjanya tersenyum sinis.

“Jangan kaku gitu, Yun,” katanya pelan. “Kamu kan tidak minta, tapi mereka yang memberi. Itu tanda terima kasih atas pelayanan terbaik kita.”

Yang lain ikut menimpali.

“Ini namanya rezeki, Yun. Masa rezeki ditolak?”

Seorang pegawai senior bahkan menambahkan sambil tertawa kecil,

“Inikan uang bersama. Dikumpulkan, nanti dibagi. Jangan takut dibilang korupsi. Korupsi itu kalau kau makan sendiri.”

Kalimat-kalimat itu terus terngiang di kepala Yuni.

Hari demi hari, tekanan semakin terasa. Ia mulai dijauhi. Beberapa orang mulai menganggapnya sok suci.

Yuni pulang ke rumah dengan hati lelah.

Malam itu, saat bertemu dengan Lina, Yuni akhirnya bercerita. Suaranya bergetar.

“Aku capek, Kak,” katanya lirih.
“Aku tidak mau terima uang tanda terimakasih itu, tapi kalau terus menolak, aku dimusuhi. Apa aku mengajukan mutasi saja ya?”

Lina yang sejak tadi diam akhirnya berbicara pelan.

“Yuni,” katanya lembut namun tegas, “orang jujur memang sering merasa sendirian. Integritas memang sunyi. Tidak selalu dipuji, bahkan sering dianggap aneh.”

Yuni menatap kakaknya.

“Lalu aku harus bagaimana, Kak?”

“Jangan berhenti hanya karena lingkungan belum ideal,” jawab Lina. “Kalau kamu masih bisa bekerja dengan benar, tetaplah bertahan. Pertahankan prinsipmu. Tolak dengan sopan. Tidak perlu menghakimi orang lain, tapi jangan ikut arus.”

Lina berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

“Kalau suatu saat kamu dipaksa melakukan sesuatu yang melanggar hukum atau hati nurani, baru pikirkan langkah berikutnya. Tapi selama kamu masih bisa berdiri dengan jujur, bertahanlah. Sistem tidak berubah karena semua orang baik pergi.”

Yuni terdiam lama.

Ia akhirnya sadar, perjuangan menjaga integritas memang jauh dari tepuk tangan. Kadang justru sunyi, melelahkan, bahkan membuat seseorang tampak berbeda dari lingkungannya.

Namun dari kesunyian itulah, seseorang sedang menjaga sesuatu yang jauh lebih berharga: kehormatan diri dan ketenangan hati.

Jabatan bisa berganti, lingkungan kerja bisa berubah, tetapi nama baik dan nurani yang bersih adalah warisan yang akan tinggal paling lama.(*)

#33daysintegritychallenge #aksikita #lawankorupsi # biasakanyangbenar #day7 IG: @aclc.kpk

Penulis Gemar Menulis tentang Kehidupan, Budaya, dan Kisah-kisah Kecil yang Menginspirasi.*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *