Ketika Hati Menolak Berkhianat

Oleh: Shintalya Azis*)

Bowo dikenal sebagai karyawan yang berdedikasi. Bertahun-tahun ia bekerja dengan penuh tanggung jawab, menjaga kepercayaan perusahaan seperti menjaga nama baiknya sendiri. Baginya, pekerjaan bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga tentang memegang amanah.

Suatu hari, sebuah tawaran datang dari pihak luar. Nilainya besar, cukup untuk mengubah hidup dalam waktu singkat. Yang diminta pun tampak sederhana: Informasi penting perusahaan yang selama ini hanya diketahui oleh segelintir orang.

“Tidak akan ada yang tahu,” kata mereka meyakinkan.

Namun bagi Bowo, persoalannya bukan tentang diketahui atau tidak. Yang dipertaruhkan adalah harga diri, kepercayaan, dan prinsip hidup yang selama ini ia pegang.

Ia teringat bagaimana perusahaan memberinya kesempatan bertumbuh, bagaimana rekan kerja mempercayainya, dan bagaimana sebuah pengkhianatan kecil bisa menjadi luka besar bagi banyak orang.

Tanpa banyak pertimbangan, Bowo menolak. Baginya, loyalitas bukan sesuatu yang dijual saat ada harga tinggi. Integritas bukan nilai yang berubah hanya karena kesempatan datang.

Menjadi orang yang dipercaya jauh lebih berharga daripada keuntungan yang diperoleh dengan mengkhianati.

“Kesetiaan diuji bukan saat keadaan mudah, tetapi saat pengkhianatan tampak menguntungkan.” (*)

#33daysintegritychallenge #aksikita #lawankorupsi # biasakanyangbenar #day9 IG: @aclc.kpk

Penulis Gemar Menulis tentang Kehidupan, Budaya, dan Kisah-kisah Kecil yang Menginspirasi.*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *