Oleh : Shintalya Azis*)
Pak Kades A demikian panggilannya. Baginya, menjadi kades berarti hadir di tengah masyarakat, mendengar, dan bekerja bersama rakyat.
Ia percaya, desa yang maju bukan dibangun oleh satu orang, tetapi oleh tangan-tangan warga yang diberi ruang untuk tumbuh.
Saat melihat banyak remaja desa memiliki ide dan kreativitas namun tak tahu harus menyalurkannya ke mana, Pak A membangun wadah kegiatan kepemudaan. Sehingga mereka tak lagi merasa harus pergi jauh ke kota untuk berkembang. Desa menjadi tempat yang memberi harapan.
Di sisi lain, Pak A juga melihat potensi besar pada para ibu rumah tangga. Bersama perangkat desa, Pak A membentuk program pemberdayaan yang menghimpun hasil produksi warga dan menampungnya melalui BUMDes.
Sedikit demi sedikit, perubahan mulai terasa. Produk-produk rumahan dipasarkan lebih luas. Ibu-ibu kini merasa lebih percaya diri karena karya mereka dihargai. Pendapatan keluarga meningkat.
Namun bagi Pak A, keberhasilan BUMDes bukan semata tentang keuntungan. Ia selalu mengingatkan bahwa hasil usaha desa harus kembali kepada rakyat.
Sebagian keuntungan digunakan untuk memperbaiki jalan, membangun fasilitas umum serta meningkatkan dan memperbanyak program pelatihan keterampilan masyarakat.
Tak hanya itu, BUMdes juga menjadi penopang bagi warga yang membutuhkan. Fakir miskin dibantu dengan program kebutuhan pokok dan warga tidak mampu mendapat pendampingan usaha kecil, pengembangan UMKM.
Di tengah keberhasilan itu, ujian justru datang silih berganti. Banyak yang heran melihat besarnya dana desa yang dikelola.
Ada saja pihak yang mencoba menghembuskan gosip yang dibisikkan bahwa pak Kades mengambil dana untuk kepentingan pribadi, memanfaatkan jabatan untuk keluarga, atau menyiasati laporan demi keuntungan pribadi.
Namun Pak A selalu menjawab dengan tenang,
“Jabatan ini hanya titipan. Kalau uang rakyat dipakai untuk diri sendiri, apa yang akan tersisa untuk masa depan desa?”
Keteguhannya menjaga amanah membuat masyarakat semakin percaya. Terlihat bahwa tak ada pembangunan mangkrak, tak ada keresahan soal anggaran yang hilang, karena semua dilakukan transparan dan dalam rapat umum terbuka.
Desa mereka tumbuh menjadi tempat yang aman, nyaman, dan penuh semangat gotong royong. Anak-anak bermain dengan riang, para remaja merasa optimis bergairah, ibu-ibu produktif, dan warga lanjut usia merasa diperhatikan.
Orang-orang dari desa lain mulai datang untuk belajar bagaimana sebuah desa kecil bisa berkembang tanpa kehilangan nilai kebersamaan.
Pak A memahami satu hal sederhana: membangun negeri tak selalu dimulai dari kota besar atau gedung megah. Kadang, perubahan besar justru disulam perlahan dari desa, melalui kejujuran, kepedulian, dan keberanian menjaga amanah.
Menurutnya, ketika pemimpin memilih jujur, rakyat tidak hanya merasa dipimpin tapi mereka merasa dimiliki dan diperjuangkan.(*)
#33daysintegritychallenge #aksikita #lawankorupsi # biasakanyangbenar #day10 IG: @aclc.kpk
Penulis Gemar Menulis tentang Kehidupan, Budaya, dan Kisah-kisah Kecil yang Menginspirasi.*)






