Peduli Lingkungan Dimulai dari Kejujuran yang Tidak Bisa Ditawar

Oleh: Shintalya Azis*)

Suatu pagi di sekolah Harapan Jaya, kepala sekolah menegur para siswanya saat melihat banyak sampah terutama plastik bekas minuman di lingkungan sekolah mereka.

Ketika ditegur, mereka spontan berkilah, “Bukan saya, pak.”
“Iya, bukan kami pak yang membuang sampah tersebut.”

Namun pertanyaan sederhana pun muncul, “Kalau bukan kamu, kalian, lalu siapa?”

Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan tidak cukup hanya dengan aturan, tetapi juga membutuhkan kejujuran dan tanggung jawab.

Kepala sekolah kemudian mengadakan rapat dengan mengundang para stakeholder sekolah guna memulai langkah untuk menunjukkan kegiatan peduli lingkungan yang dimulai dari tindakan nyata .

Bersama-sama mereka tidak segan memungut sampah yang ditemukan, memilah sampah sesuai jenisnya, dan menjaga kebersihan tanpa menunggu orang lain melakukannya terlebih dahulu.

Keteladanan itu perlahan ditiru oleh para siswa. Mereka belajar bahwa mencintai lingkungan berarti berani mengakui kesalahan, bertanggung jawab atas tindakan sendiri, dan ikut menjaga kebersihan bersama.

Tidak hanya di sekolah, para siswa juga mengajak masyarakat sekitar untuk memilah sampah dan tidak membuang sampah sembarangan.

Kini, para siswa dengan lantang dan penuh percaya diri menyatakan diri sebagai pelajar peduli lingkungan. Bukan sekadar slogan, melainkan komitmen yang mereka lakukan setiap hari.

Mereka memahami bahwa kejujuran tidak bisa ditawar, karena dari kejujuran lahir tanggung jawab, dan dari tanggung jawab tumbuh kepedulian terhadap lingkungan.(*)

#33daysintegritychallenge #aksikita #lawankorupsi # biasakanyangbenar #day11 IG: @aclc.kpk

Penulis Gemar Menulis tentang Kehidupan, Budaya, dan Kisah-kisah Kecil yang Menginspirasi.*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *