Oleh: Nurul Jannah*)
Harga Sebuah Pertemuan
Tidak ada yang benar-benar siap mengucapkan selamat tinggal kepada orang-orang yang selama bertahun-tahun hadir dalam keseharian. Tidak ada yang siap melepaskan tawa yang sudah terasa akrab. Tidak ada yang siap meninggalkan meja yang setiap hari menjadi saksi perjuangan.
Dan tidak ada yang siap menerima kenyataan bahwa kebersamaan yang selama ini terasa begitu indah, ternyata suatu hari akan berubah menjadi kenangan.
Ada banyak hal menyenangkan yang saya dapatkan selama menjadi mahasiswa doktoral di Jepang. Menerima surat kelulusan. Presentasi berjalan lancar. Makalah diterima jurnal internasional. Musim sakura pertama. Salju pertama. Potluck penuh tawa dan ceria
Namun ada satu acara yang selalu datang membawa perasaan campur aduk. Acara yang tidak pernah benar-benar saya sukai. Namanya Farewell Party. Pesta perpisahan. Atau dalam bahasa Jepang sering disebut Sayonara Party.
Ironisnya, justru Farewell Party menjadi kenangan yang paling sulit dilupakan. Sebab di sanalah saya memahami satu hal yang sering luput disadari: setiap pertemuan selalu membawa benih perpisahan.
Kita bahagia ketika dipertemukan. Namun jarang menyadari bahwa suatu hari nanti kita juga harus belajar melepaskan.
Semua kisah itu bermula ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Hiroshima.
Saya datang seorang diri. Tanpa keluarga. Tanpa sahabat.Tanpa wajah yang dikenal.
Yang menyambut hanyalah deretan nama yang asing, bahasa yang belum akrab di telinga, dan kehidupan baru yang harus dipelajari dari awal.
Saat itu saya belum tahu bahwa orang-orang yang masih asing tersebut kelak akan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup saya. Dan saya juga belum tahu bahwa suatu hari nanti, saya akan menangis ketika harus mengucapkan selamat tinggal kepada mereka.
Persahabatan yang Tidak Direncanakan
Persahabatan terbaik sering lahir tanpa rencana. Tidak ada rapat pembentukan. Tidak ada kontrak. Tidak ada janji. Ia tumbuh diam-diam. Seperti pohon. Seperti akar. Seperti hujan yang perlahan meresap ke dalam tanah.
Begitu pula yang terjadi di laboratorium. Ada teman dari Jepang. Ada teman dari Thailand. Ada dari Nepal. Ada dari Korea.Ada dari Tiongkok. Ada dari Iran. Ada dari Mesir. Ada dari Brasil.
Kami datang dari berbagai negara. Berbeda warna kulit. Berbeda bahasa ibu.
Berbeda keyakinan. Namun penelitian yang sama, membuat kami berada dalam satu perahu.
Hari Kelulusan Tiba
Waktu ternyata jauh lebih cepat daripada yang dibayangkan. Baru kemarin rasanya kami berkenalan. Ternyata hari itu tiba. Hari kelulusan. Hari kepulangan. Hari perpisahan.
Dan seperti biasa, laboratorium mengadakan Farewell Party. Ruangan yang berubah. Pagi hari ruangan itu masih seperti biasa. Penuh jurnal. Penuh data penelitian. Namun menjelang sore, semuanya berubah.
Meja disusun ulang. Makanan mulai berdatangan. Minuman disiapkan. Hadiah diletakkan di sudut ruangan. Suasana terlihat meriah. Namun saya yakin, di balik senyum semua orang, ada kesedihan yang diam-diam bersembunyi.
Karena semua tahu. Setelah malam itu. Tidak semua akan bertemu lagi.
Sensei-Profesor Terlihat Berbeda
Yang paling menarik adalah melihat para Sensei. Biasanya mereka tampak serius. Formal. Penuh wibawa. Namun saat Farewell Party, sisi lain mereka muncul. Mereka bercerita. Bercanda.
Tertawa.
Bahkan bisa mengungkapkan berbagai kejadian lucu selama penelitian.
Profesor pembimbing saya berdiri sambil tersenyum. Beliau melihat satu per satu mahasiswa yang akan meninggalkan laboratorium. Di matanya ada kebanggaan. Tetapi di matanya juga saya menemukan perasaan kehilangan yang dalam.
Sebuah Pidato yang Sulit Diselesaikan
Salah seorang mahasiswa internasional diminta memberikan sambutan.
Ia berdiri. Membuka secarik kertas. Lalu mulai berbicara.
Awalnya lancar. Ia mengucapkan terima kasih kepada profesor.
Terima kasih kepada teman-teman satu laboratorium. Terima kasih kepada Jepang.
Namun ketika sampai pada bagian: “Laboratorium ini sudah menjadi rumah kedua saya…”
Suaranya tiba-tiba berhenti. Matanya nampak memerah. Ruangan mendadak sunyi. Ia mencoba melanjutkan.
Namun air mata lebih dulu jatuh. Dan saat itu semua orang mengerti. Kadang perpisahan tidak membutuhkan kata-kata. Karena air mata sudah menjelaskan semuanya.
Setelah makan malam selesai, tibalah sesi yang selalu ada dalam setiap Farewell Party. Mengabadikan momen kebersamaan ke dalam gambar. Semua berkumpul. Tersenyum. Membentuk barisan. Kamera diatur.
Lalu terdengar suara: “One… two… three…”
Klik.
Selesai.
Hanya beberapa detik. Namun kelak ia menjadi kenangan yang sangat berharga.
Bertahun-tahun kemudian, sebagian orang dalam foto itu akan tersebar ke berbagai penjuru dunia. Ada yang menjadi profesor. Ada yang menjadi peneliti. Ada yang menjadi direktur. Ada yang menjadi pejabat pemerintah. Ada yang mungkin tidak pernah bertemu lagi.
Namun foto itu tetap menjadi bukti bahwa pernah ada masa ketika mereka berada dalam satu ruangan yang sama.
Hadiah yang Tidak Harus Mahal
Di Jepang, Farewell Party biasanya disertai pemberian hadiah. Hadiah yang dipilih dengan hati. Kadang berupa album foto. Kadang pena. Kadang buku. Kadang bingkai kecil berisi pesan-pesan dari teman laboratorium.
Yang membuatnya berharga tentu saja bukan harga barangnya. Melainkan kenangan yang melekat di dalamnya.
Saat Giliran Saya Tiba
Ada satu hal yang tidak pernah saya sadari sebelumnya. Kadang kita mengira perpisahan hanya milik orang lain. Sampai suatu hari giliran kita sendiri yang berdiri di titik itu.
Tahun demi tahun berlalu. Disertasi selesai. Hari kepulangan semakin dekat. Dan tiba-tiba saya berada di posisi yang sama. Menjadi orang yang akan meninggalkan laboratorium.
Meninggalkan Hiroshima. Meninggalkan Jepang.
Malam Terakhir
Malam itu terasa berbeda. Saya memandang teman-teman laboratorium lebih dekat dari biasanya. Mendengarkan tawa mereka lebih lama dari biasanya. Menyimpan setiap detail lebih sungguh-sungguh dari biasanya. Karena hati tahu. Kenangan sedang bekerja.
Diam-diam menyimpan semuanya. Untuk dibuka kembali bertahun-tahun kemudian.
Dialog yang Tidak Terlupakan
Seorang teman Jepang menghampiri.
“Jangan lupakan kami.”
Saya tersenyum.
“Bagaimana mungkin?”
Ia tertawa kecil.
“Orang selalu bilang begitu saat akan pulang.”
“Mungkin benar ada yang lupa. Tetapi ada juga yang membawa kenangan itu seumur hidup.”
Bandara dan Kesunyian
Perpisahan sebenarnya bukan terjadi saat Farewell Party. Perpisahan sesungguhnya terjadi di bandara. Ketika
koper sudah ditimbang. Ketika tiket sudah di tangan. Ketika panggilan keberangkatan terdengar. Ketika pelukan terakhir diberikan. Dan ketika kita menyadari bahwa setelah melewati pintu imigrasi, kehidupan akan berubah. Saat itulah hati benar-benar memahami arti kehilangan.
Yang Tertinggal
Banyak orang mengira yang paling berharga dari studi luar negeri adalah gelar. Sebagian mengira penelitian. Sebagian mengira pengalaman akademik. Semua itu benar.
Namun setelah bertahun-tahun berlalu, yang paling saya rindukan justru kehadiran individu di dalamnya. Tawa mereka. Kebaikan mereka. Persahabatan mereka. Kebersamaan sederhana yang dulu terasa biasa, kini menjadi sangat berharga.
Mengapa Perpisahan Menyakitkan?
Karena kita pernah bahagia bersama. Itu saja. Semakin besar kebahagiaan yang pernah dibagikan, semakin dalam rasa kehilangan ketika harus berpisah. Dan mungkin itulah alasan mengapa Farewell Party selalu membuat hati sesak. Ia mengingatkan bahwa setiap pertemuan memiliki batas waktu.
Tetapi Perpisahan Tidak Selalu Kehilangan.
Tahun-tahun berlalu. Media sosial hadir. Email masih tersimpan. Pesan masih sering datang. Kadang ada kabar: “Alhamdulillah, pengajuan Guru Besar/Profesor saya sudah disetujui.”, “Saya sudah menikah.”, “Anak saya sudah masuk sekolah.”, “Saya akan berkunjung ke Indonesia.”
Dan tiba-tiba jarak ribuan kilometer terasa tidak terlalu jauh.
Saya mulai memahami bahwa perpisahan tidak selalu berarti kehilangan.
Kadang perpisahan hanyalah cara kehidupan memperluas lingkaran persahabatan ke berbagai penjuru dunia.
Pelajaran Terbesar
Farewell Party mengajarkan pelajaran yang tidak ditemukan dalam jurnal ilmiah. Bahwa hidup bukan hanya tentang pencapaian, gelar atau karir semata. Tetapi juga tentang manusia.Tentang hubungan. Tentang kebaikan yang diberikan dan diterima sepanjang perjalanan.
Karena pada akhirnya, yang paling kita kenang bukanlah berapa banyak makalah yang diterbitkan. Melainkan tentang siapa saja yang pernah berjalan bersama kita dalam perjalanan itu.
Kini, setiap kali melihat foto-foto lama di Hiroshima, hati selalu berhenti sejenak. Ada wajah-wajah yang mungkin tidak pernah lagi saya temui. Ada suara-suara yang hanya tersisa dalam ingatan. Ada tawa yang hanya hidup dalam kenangan. Namun semua tetap terasa dekat.
Seolah mereka masih duduk di laboratorium yang sama. Masih membawa kopi. Masih bercanda saat potluck. Masih menyiapkan Farewell Party berikutnya. Karena persahabatan sejati memang tidak mengenal jarak. Ia tinggal di hati, di tempat yang tidak bisa dipisahkan oleh waktu.
Farewell Party bukan semata acara perpisahan. Ia adalah perayaan atas sebuah pertemuan. Ia adalah ucapan terima kasih kepada waktu yang pernah mempertemukan orang-orang baik dari berbagai penjuru dunia.
Ia adalah pengingat bahwa tidak semua hal yang berakhir harus disesali. Karena ada perpisahan yang justru membuktikan betapa berharganya sebuah kebersamaan.
Dan hingga hari ini, ketika mengingat Hiroshima, saya tidak hanya mengingat kampus, laboratorium, atau ruang kelas.
Saya mengingat sebuah ruangan yang dipenuhi tawa, makanan, hadiah kecil, foto bersama, mata yang berkaca-kaca, dan orang-orang baik yang pernah menjadi keluarga jauh dari rumah.
Karena sesungguhnya, Farewell Party bukanlah tentang mengucapkan selamat tinggal. Ia adalah cara hati mengatakan: “Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya.”
Dan beberapa orang, meskipun telah pergi jauh, akan tetap tinggal selamanya di dalam kenangan. 🥰
Jakarta, 22 Juni 2026
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)






