Kutikula dan Korupsi

Oleh: Shintalya Azis*)

Saya sering merasa terganggu oleh kutikula yang terkadang mengering dan menjadi keras. Biasanya, tanpa sadar saya menggeseknya dengan ibu jari.

Sebagian memang terkelupas, tetapi tidak tuntas. Bahkan sering kali kulit yang tersisa menjadi semakin keras, kering, dan terasa menusuk.

Kalau dibiarkan, memang akhirnya akan lepas sendiri. Saat mandi, cuci tangan, kulit menjadi lebih lunak, sedikit demi sedikit mengelupas, lalu hilang seiring waktu. Hanya saja prosesnya lama dan membutuhkan kesabaran.

Cara yang lebih cepat bagi saya adalah memotongnya dengan gunting kuku hingga ke pangkalnya. Saya lakukan dengan hati-hati agar hanya bagian yang mengganggu yang terangkat tanpa melukai kulit sehat di sekitarnya.

Alternatif lain adalah pergi ke salon untuk perawatan kuku profesional, tetapi tentu ada biaya yang harus dikeluarkan.

Hari ini saya kembali memotong kutikula yang mengering dan sudah mati. Saya lantas teringat pada upaya memberantas korupsi.

Jika mental korup ingin berubah dengan sendirinya, mungkin saja itu bisa terjadi. Pendidikan, pembiasaan, dan perubahan budaya dapat bekerja perlahan seperti kutikula yang akhirnya lepas setelah berkali-kali terkena air.

Namun, prosesnya panjang dan hasilnya tidak selalu pasti.

Di sisi lain, ketika korupsi sudah mengakar dan merusak, sering kali diperlukan tindakan yang cepat, tegas, dan terukur. Bukan sekadar mengelupasi permukaannya, melainkan memotong sumber masalahnya tanpa merusak sistem yang masih sehat.

Tantangannya adalah mencari keseimbangan. Jangan sampai biaya dan energi yang dikeluarkan untuk memberantas korupsi justru menjadi pemborosan yang mendekati kerugian akibat korupsi itu sendiri.

Tujuan akhirnya bukan hanya menghukum pelaku, melainkan memulihkan tata kelola agar masyarakat memperoleh manfaat yang lebih besar daripada biaya yang telah dikeluarkan.

Dan bagi saya, baik merawat kuku maupun memberantas korupsi mengajarkan hal yang sama: masalah yang dibiarkan setengah-setengah cenderung muncul kembali. Yang dibutuhkan adalah ketegasan dan ketepatan saat menentukan cara terbaik untuk menanganinya. (*)

#33daysintegritychallenge #aksikita #lawankorupsi # biasakanyangbenar #day16 IG: @aclc.kpk

Penulis Gemar Menulis tentang Kehidupan, Budaya, dan Kisah-kisah Kecil yang Menginspirasi.*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *