PADANG, FOKUSSUMBAR.COM – Di tengah pesatnya teknologi peringatan dini modern, kekuatan pengetahuan lokal masyarakat Minangkabau kini kembali dilirik sebagai fondasi vital dalam menghadapi risiko bencana di Sumatera Barat.
Hal ini menjadi inti pembahasan dalam diskusi bedah buku Mitigasi Kultural: Pengetahuan Lokal Kebencanaan Masyarakat Sumatera Barat karya Yose Hendra di Bagindo Aziz Chan Youth Center, Selasa (10/3/2026).
Para pakar dan praktisi yang hadir sepakat bahwa teknologi canggih saja tidak cukup jika masyarakat tercerabut dari akar budayanya sendiri dalam membaca tanda-tanda alam.
Antropolog Lucky Zamzami menegaskan bahwa masyarakat Minangkabau sejatinya memiliki sistem pertahanan bencana yang terstruktur dalam nilai, sikap, dan praktik sosial. Namun, tantangan besar muncul ketika pola pembangunan modern mulai mengabaikan peringatan tradisional tersebut.
Hal senada diungkapkan Febyandi YS. Ia menyoroti ironi pembangunan permukiman masa kini yang sering kali menabrak zona bahaya, seperti bekas aliran sungai. Padahal, melalui berbagai pepatah dan mamangan, leluhur Minangkabau telah lama memberi batas tegas mana kawasan yang layak huni dan mana yang harus dijaga.
“Berbagai pepatah sebenarnya adalah peta risiko bencana. Sayangnya, dalam praktik pembangunan modern, nilai-nilai ini sering kali kita abaikan,” ujar Febyandi.
Akademisi Wirdaningsih mendorong agar mitigasi berbasis kearifan lokal ini tidak hanya berhenti di tataran diskusi, melainkan diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan formal dan nonformal.
Menurutnya, keterampilan menjaga kelestarian lingkungan adalah kunci keberlanjutan hidup di daerah rawan bencana.
Di sisi lain, penulis buku Yose Hendra menjelaskan bahwa karyanya bertujuan mendokumentasikan tradisi lisan—seperti petuah dan syair—agar tidak hilang ditelan zaman. Ia menekankan peran krusial masyarakat sebagai “penolong pertama” saat bencana terjadi.
“Masyarakat sekitar adalah pihak pertama yang ada di lokasi sebelum lembaga formal sampai. Di sinilah relevansi pengetahuan lokal menjadi sangat kuat,” jelas Yose.
Wali Kota Padang, Fadly Amran, yang turut hadir dalam diskusi tersebut, menggarisbawahi bahwa kekuatan utama Minangkabau terletak pada sifat komunal dan kekerabatan yang kuat. Ia menilai struktur sosial seperti RT, RW, masjid, dan forum warga adalah infrastruktur mitigasi yang paling efektif.
“Penanganan bencana tidak bisa hanya mengandalkan lembaga formal. Kekuatan tetangga dan komunitas adalah modal sosial kita dalam sistem kesiapsiagaan,” tegas Fadly.
Diskusi yang dipandu M. Hidayat ini menyimpulkan bahwa sinergi antara teknologi modern dan kearifan lokal adalah harga mati. Keduanya tidak perlu dipertentangkan, melainkan harus saling melengkapi untuk membangun sistem mitigasi yang lebih tangguh dan berkelanjutan di Sumatera Barat. (Taufik/Filsa)




