SORE itu, suasana Ramadan terasa berbeda bagi puluhan anak dari Panti Asuhan Bhakti dan Panti Asuhan Aisyiyah di Lubuk Alung. Senyum mereka merekah sejak tiba di lokasi berbuka puasa bersama yang digelar Komunitas Lapau BABE.
Sebanyak 50 anak panti duduk berbaur dengan anggota komunitas. Tidak ada sekat. Tawa kecil dan cerita ringan mengalir menunggu azan Magrib berkumandang.
Bagi Komunitas Lapau BABE, kegiatan ini bukan sekadar berbuka puasa bersama. Ramadan selalu menjadi momentum untuk berbagi kebahagiaan dengan mereka yang membutuhkan.
Ketua panitia, Tomi, mengatakan kegiatan ini sudah menjadi tradisi tahunan komunitas tersebut.
“Alhamdulillah, ini sudah yang ke-10 kalinya kami adakan. Setiap Ramadan kami ingin berbagi kebahagiaan dengan adik-adik panti,” ujarnya.
Namun kebahagiaan itu ternyata belum berhenti saat hidangan berbuka selesai. Ada kejutan lain yang membuat mata anak-anak itu berbinar.
Malam itu, mereka diajak berbelanja pakaian ke toko. Setiap anak diberi kesempatan memilih satu pasang pakaian sesuai kebutuhan mereka—bisa baju, bisa juga celana.
Bagi sebagian anak, mungkin ini adalah pengalaman sederhana. Tetapi bagi anak-anak panti tersebut, memilih sendiri baju Lebaran adalah kebahagiaan yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
Ada yang sibuk mencoba ukuran baju. Ada pula yang berkali-kali menanyakan kepada pendamping apakah pakaian yang dipilihnya cocok.
Di tengah suasana hangat itu, Happy Neldy bersama sang istri, Nora, turut hadir mendampingi kegiatan tersebut. Ia mengaku terharu melihat kebahagiaan anak-anak panti.
“Alhamdulillah, rasanya sangat nikmat bisa berbuka bersama adik-adik panti ini. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini terus berjalan setiap tahun dan kita semua dirahmati oleh Allah SWT,” ungkapnya.
Bagi Komunitas Lapau BABE, kegiatan ini bukan sekadar agenda sosial. Lebih dari itu, ini adalah cara sederhana menanamkan nilai kepedulian kepada generasi muda—bahwa kebahagiaan sering kali justru hadir ketika kita berbagi.
Dan bagi anak-anak panti itu, Ramadan tahun ini mungkin akan selalu diingat. Bukan hanya karena sepiring hidangan berbuka, tetapi karena sepasang baju Lebaran yang mereka pilih sendiri—dari tangan-tangan yang peduli. (hendri parjiga)




