Review Lukisan Tangan Canting Puji Setya Wilujeng, dengan tema “Pulsasi Kromatik”

Oleh : Nurul Jannah*)

Media : Akrilik di Kanvas
Ukuran : 25 x 30 cm

“Sebuah dialog sunyi antara warna dan jiwa. Denyut yang tak pernah berhenti, meski dunia mengira ia telah diam.”

Pulsasi Kromatik bukan hanya paduan komposisi warna. Ia adalah ledakan sunyi. Energi yang tidak berteriak, namun mengguncang dari dalam.

Pada bidang kanvas yang terbatas, warna-warna bergerak liar sekaligus terarah. Biru tua yang dalam, seperti samudra batin yang menyimpan rahasia panjang. Hijau yang hidup seakan membawa sisa harapan yang enggan padam. Merah yang mengalir seperti luka yang belum sepenuhnya pulih. Dan kuning yang menyala seolah menggambarkan cahaya yang bertahan, menolak untuk menyerah.

Semua berputar, saling tarik, saling dorong, membentuk denyut yang terasa hidup.

Tidak ada garis yang benar-benar patuh. Tidak ada bentuk yang benar-benar diam. Segalanya berdenyut. Segalanya bergerak. Segalanya hidup.

Lukisan ini adalah refleksi dari fase kehidupan yang sering disalahpahami. Fase ketika tubuh melambat, namun jiwa justru menemukan kebebasan yang lebih luas.

Saat dunia melihat penarikan diri sebagai keheningan, karya ini justru berbicara sebaliknya. Bahwa diam bukan berarti berhenti, bahwa menjauh bukan berarti kehilangan makna, bahwa sepi justru menjadi ruang paling jujur bagi jiwa untuk kembali bernapas.

Ada jejak masa kecil di dalamnya. Sentuhan seni yang diwariskan, yang dulu mungkin terpendam, kini muncul kembali, tidak lagi sebagai latihan, melainkan sebagai kejujuran yang tak bisa lagi ditahan.

Setiap aliran warna adalah nadi. Setiap pertemuan warna adalah detak.

Pulsasi.
Kromatik.
Hidup.

Lukisan ini tidak meminta untuk dipahami. Ia hanya ingin dirasakan.

Dan bagi siapa pun yang memandang dengan hati terbuka, akan menemukan satu rasa yang pelan-pelan merambat.

Bahwa di balik semua riuh warna itu, tersimpan satu pesan sederhana namun menghantam; bahagia tidak selalu datang dari dunia luar, kadang ia tumbuh… dari keberanian untuk kembali pada diri sendiri, dan berdamai dengan seluruh warna kehidupan.

Karena pada akhirnya, yang paling berbahaya bukanlah kehilangan arah, melainkan ketika jiwa berhenti berdenyut, padahal tubuh masih terus berjalan.

Dan lukisan ini, adalah bukti selama warna masih bergerak, selama jiwa masih bergetar, hidup… belum benar-benar berhenti

Bogor, 21 April 2026❤️

Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *