PADANG, FOKUSSUMBAR.COM – Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasco Ruseimy, dan Rektor Universitas Negeri Padang (UNP), Dr. Ir. Krismadinata, S.T., M.T., menerima penghargaan dari Pusat Riset Pencak Silat UNP.
Penghargaan diserahkan oleh Kepala Pusat Riset Pencak Silat UNP sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) UNP, Prof. Dr. Nurul Ihsan, M.Pd., pada pembukaan Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Pencak Silat Rektor UNP Championship 2026 di GOR UNP, Kampus Air Tawar, Padang, Kamis (25/6/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Vasco Ruseimy menerima Anugerah Insan Muda Pemerhati Budaya, sementara Rektor UNP Dr. Ir. Krismadinata, S.T., M.T., menerima Anugerah Cendekiawan Muda.
Prof. Nurul Ihsan mengatakan penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi keduanya dalam mendukung pelestarian budaya dan pengembangan pencak silat di Sumatera Barat maupun tingkat nasional.
Menurutnya, Vasco Ruseimy memiliki perhatian besar terhadap pelestarian silek tradisi sebagai bagian dari identitas budaya Minangkabau. Dukungan tersebut sejalan dengan upaya berbagai pihak dalam menjaga keberlangsungan pencak silat sebagai warisan budaya bangsa.
“Budaya merupakan instrumen penting untuk menanamkan nilai penghormatan terhadap jati diri bangsa. Pencak silat menjadi salah satu komponen utama dalam pelestarian budaya tersebut,” ujar Prof. Nurul.
Ia menjelaskan, salah satu program unggulan yang telah berjalan adalah gerakan Silek Tradisi Masuk Sekolah. Program yang digagas dan dieksekusi bersama berbagai pemangku kepentingan itu kini telah diterapkan di lebih dari 500 SMA sederajat di Sumatera Barat dengan melibatkan lebih dari 75.000 peserta didik.
“Program ini menjadi role model pelestarian budaya silek yang mendapat perhatian di tingkat nasional. Generasi muda tidak hanya belajar bela diri, tetapi juga memahami nilai-nilai budaya dan karakter yang terkandung di dalamnya,” katanya.
Prof. Nurul menambahkan, perhatian Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terhadap pengembangan pencak silat dan silek tradisi menjadi modal penting dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya Minangkabau di tengah perkembangan zaman.
Sementara itu, Vasco Ruseimy menyampaikan terima kasih atas penghargaan yang diberikan kepadanya.
Menurutnya, penghargaan tersebut bukan hanya untuk dirinya secara pribadi, tetapi juga untuk seluruh pihak yang selama ini konsisten menjaga dan mengembangkan silek tradisi di Sumatera Barat.
“Penghargaan ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus mendorong pelestarian budaya Minangkabau, khususnya silek tradisi. Silek bukan sekadar olahraga atau bela diri, tetapi juga mengandung nilai-nilai adat, karakter, disiplin, dan penghormatan kepada sesama yang harus diwariskan kepada generasi muda,” ujar Vasco.
Vasco menegaskan, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mendukung penuh program Silek Tradisi Masuk Sekolah karena dinilai mampu memperkuat karakter pelajar sekaligus menjaga kelestarian budaya daerah.
“Ketika lebih dari 75 ribu pelajar terlibat dalam pembelajaran silek tradisi, sesungguhnya kita sedang menyiapkan generasi yang tidak hanya sehat dan berprestasi, tetapi juga memahami akar budayanya sendiri. Ini investasi budaya yang sangat penting untuk masa depan Sumatera Barat,” katanya.
Vasco menyebutkan kebijakan tersebut juga telah mendapat perhatian nasional dan berpotensi menjadi model yang diterapkan di daerah lain di Indonesia.
“Sumbar kini menjadi percontohan nasional dalam pengembangan silat tradisi. Program ini ke depan akan didorong agar dapat diterapkan secara nasional sehingga pencak silat semakin kuat sebagai identitas bangsa,” tuturnya.
Sementara, Anugerah Cendekiawan Muda untuk itu, Rektor UNP Dr. Ir. Krismadinata, S.T., M.T. menurut Prof. Nurul, merupakan bentuk pengakuan terhadap komitmen perguruan tinggi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi yang berpijak pada nilai-nilai budaya bangsa.
UNP akan terus mendukung pengembangan riset pencak silat melalui berbagai program akademik dan kolaborasi lintas disiplin ilmu guna memperkuat posisi pencak silat sebagai warisan budaya Indonesia yang mendunia.
Sebab, melalui riset yang berkelanjutan, tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga menghasilkan pengetahuan baru yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan, olahraga prestasi, dan penguatan identitas bangsa di masa depan. (jiga)
