Oleh: Hamdanus, S.Fil.I., M.Si.*
KEHIDUPAN dunia tidak pernah lepas dari ujian. Ada kalanya seseorang mendapatkan perlakuan yang tidak adil, difitnah, dihina, bahkan dizalimi oleh sesama manusia.
Dalam kondisi seperti itu, banyak orang tergoda untuk segera membalas atau mendoakan keburukan bagi orang yang menyakitinya.
Namun, Islam mengajarkan jalan yang lebih mulia, yaitu kesabaran, pengendalian diri, dan menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT.
Sebagaimana disebutkan dalam Kitab Risalah al-Amin karya ulama besar pendiri tarekat Syadziliyyah Imam Abu Hasan asy-Syadzili (wafat 1258 H), para sahabat Rasulullah SAW dan generasi tabi’in pernah mengalami berbagai bentuk penderitaan dan penganiayaan. Mereka tidak tergesa-gesa membalas perlakuan orang-orang yang menzalimi mereka.
Kesabaran mereka lahir dari kedalaman makrifat kepada Allah SWT, keyakinan terhadap keadilan-Nya, serta keridhaan terhadap segala ketetapan-Nya.
Allah SWT berfirman:
“Dan bersabarlah kamu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)
Ayat ini menunjukkan bahwa kesabaran bukan sekadar sikap pasif menahan diri, melainkan bentuk kekuatan spiritual yang mendatangkan pertolongan dan kebersamaan Allah SWT.
Para sahabat memahami bahwa setiap ujian merupakan bagian dari sunnatullah. Mereka yakin bahwa Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya. Karena itu, mereka lebih memilih memperbaiki diri dan memperbanyak doa daripada sibuk memikirkan pembalasan.
Allah SWT berfirman:
“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Kesabaran yang diajarkan Islam bukan berarti menyerah kepada kezaliman. Islam tetap memerintahkan umatnya menegakkan keadilan. Namun, perjuangan menegakkan keadilan harus dilakukan dengan cara yang benar dan hati yang bersih dari kebencian.
Allah SWT berfirman:
“Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fussilat: 34)
Ayat ini mengajarkan bahwa kebaikan memiliki kekuatan untuk melunakkan hati yang keras dan mengubah permusuhan menjadi persaudaraan.
Rasulullah SAW sendiri merupakan teladan terbaik dalam menghadapi kezaliman. Ketika beliau dilempari batu oleh penduduk Thaif hingga berdarah, beliau tidak mendoakan kebinasaan mereka. Sebaliknya, beliau berdoa agar Allah memberikan hidayah kepada keturunan mereka.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda:
“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa ukuran kekuatan dalam Islam bukanlah kemampuan mengalahkan orang lain, melainkan kemampuan mengalahkan hawa nafsu sendiri.
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah seseorang menambah maaf, kecuali Allah akan menambah kemuliaan baginya.” (HR. Muslim)
Betapa indah ajaran Islam. Ketika manusia mengira memaafkan adalah kelemahan, justru Allah menjadikannya sebagai jalan menuju kemuliaan.
Di era digital saat ini, pelajaran tersebut semakin relevan. Media sosial sering menjadi tempat lahirnya fitnah, hujatan, dan pertengkaran. Banyak orang berlomba membalas komentar dengan komentar yang lebih kasar, menyebarkan kebencian, dan memperpanjang permusuhan.
Padahal Allah SWT telah mengingatkan:
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka dengan kata-kata yang menyakitkan, mereka mengucapkan ‘salam’.” (QS. Al-Furqan: 63)
Ayat ini menggambarkan akhlak orang beriman yang tidak mudah terpancing emosi. Mereka memilih jalan kedamaian dan kebijaksanaan.
Momentum Jum’at Barokah hendaknya menjadi sarana muhasabah bagi kita semua. Sudahkah hati ini bersih dari dendam? Sudahkah kita memaafkan orang yang pernah menyakiti kita? Sudahkah kita menyerahkan segala urusan kepada Allah yang Maha Adil?
Allah SWT berfirman:
“Barang siapa bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang diutamakan.” (QS. Asy-Syura: 43)
Semoga kita mampu meneladani kesabaran para sahabat dan tabi’in, memperbanyak istighfar, menjaga lisan, serta menjadikan setiap ujian sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba yang sabar ketika diuji, bersyukur ketika diberi nikmat, dan pemaaf ketika disakiti. Limpahkan kepada kami hati yang ridha terhadap segala ketetapan-Mu. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.” []
Penulis adalah Ketum KONI Sumbar, Kandidat Doktor Pemikiran Politik Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang






