Oleh : Shintalya Azis*)
Rini adalah pedagang gorengan keliling, seorang ibu tunggal yang membesarkan lima orang anak. Penghasilannya tak seberapa.
Tak jarang ia pulang dengan keranjang yang masih berisi gorengan dingin, sementara uang di tangannya nyaris tak cukup untuk memenuhi kebutuhan esok hari. Yang tersisa hanyalah tubuh yang letih, bersimbah keringat, dan air mata yang mengering.
Kisah hidupnya mengundang simpati banyak orang. Mereka menyisihkan sebagian rezekinya agar Rini dan anak-anaknya dapat bertahan.
Namun, seiring waktu, beredar unggahan di salah satu media sosial yang memperlihatkan sisi lain kehidupannya.
Di tengah berbagai cerita tentang kesulitan yang selama ini disampaikan, beberapa unggahan justru menampilkan gaya hidup yang memunculkan tanda tanya banyak orang. Apakah bantuan yang mereka berikan benar-benar digunakan sebagaimana mestinya?
Perlahan bantuan semakin berkurang dan akhirnya nyaris hilang. Bukan karena mereka kehilangan rasa iba, melainkan karena kepercayaan yang telah terkikis.
Menggunakan belas kasihan orang lain untuk memperoleh keuntungan pribadi bisa dianggap sebagai pengkhianatan terhadap amanah. Sedangkan kepercayaan adalah modal yang jauh lebih mahal daripada uang. Sekali rusak, ia membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk dipulihkan.
Korupsi tidak selalu berbentuk uang negara yang digelapkan, tetapi juga dapat hadir dan tumbuh di ruang-ruang kecil, ketika seseorang menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Perbuatan yang tampak kecil dan sepele, namun bisa mengikis integritas sedikit demi sedikit. Tatkala integritas hilang, yang ikut lenyap bukan hanya bantuan, tetapi justru kehormatan diri.(*)
#33daysintegritychallenge #aksikita #lawankorupsi # biasakanyangbenar #day22 IG: @aclc.kpk
Penulis Gemar Menulis tentang Kehidupan, Budaya, dan Kisah-kisah Kecil yang Menginspirasi.*)






