Sampai Akhir Hayat

Oleh : Nurul Jannah*)

Catatan Syukurku Hari Ini

“Belajarlah sungguh-sungguh, Nak. Ilmu adalah teman yang tidak akan meninggalkanmu.”

Entah mengapa, kalimat Ayah tiba-tiba terngiang lagi pagi ini. Padahal sudah bertahun-tahun beliau mengucapkannya.

Saat itu aku hanya tersenyum saja. Nasihat itu terdengar seperti kalimat yang biasa diucapkan setiap orang tua kepada anaknya yang hendak berangkat sekolah.

Aku belum memahami maknanya. Aku belum tahu bahwa kelak hidup akan membuktikan setiap kata yang pernah beliau titipkan.

Hari ini aku baru mengerti.

Belajar tidak berhenti ketika kita meninggalkan bangku sekolah. Belajar berlangsung sepanjang kehidupan. Demikian pula karier bukan hanya tentang jabatan atau pencapaian, melainkan tentang bagaimana setiap amanah menjadikan kita lebih dewasa, lebih bijaksana, dan lebih bermanfaat. Semoga Allah menjadikan setiap ilmu yang kita pelajari sebagai cahaya, setiap pekerjaan sebagai ladang ibadah, setiap keberhasilan melahirkan kerendahan hati, dan setiap langkah yang kita tempuh menjadi jejak manfaat yang terus hidup, bahkan ketika nama kita telah lama tak lagi disebut.

Dulu, ketika masih duduk di bangku sekolah, aku berpikir bahwa belajar akan berakhir pada hari kelulusan. Hari ketika ijazah diterima.

Hari ketika toga dikenakan.

Hari ketika kedua orang tua berdiri di antara kerumunan, memandang anaknya dengan mata yang berkaca-kaca.

Masih kuingat, setelah acara wisuda selesai, Ayah menepuk pelan pundakku.

“Alhamdulillah… sekarang kamu lulus.”

Aku tersenyum lebar.

“Akhirnya selesai juga.”

Betapa polosnya pikiran aku waktu itu.

Aku mengira semua ujian telah usai. Aku mengira hidup setelah itu akan berjalan lebih mudah.

Ternyata aku keliru.

Hari kelulusan bukanlah garis akhir.

Ia justru pintu masuk menuju ruang kelas yang jauh lebih luas.

Ruang kelas bernama kehidupan. Di sana tidak ada bel yang berbunyi. Tidak ada guru yang membagikan soal.

Tidak ada buku yang menyediakan seluruh jawaban.

Kehidupanlah yang menjadi ruang kelas.

Peristiwalah yang menjadi buku.

Setiap orang yang Allah pertemukan menjadi guru.

Dan waktu menjadi penguji yang tak pernah salah memberi nilai.

Di ruang kelas kehidupan itulah aku mulai belajar.

BACA JUGA :  Tak Pernah Kebetulan

Belajar bahwa keberhasilan membuat kita bersyukur. Namun kegagalan membuat kita bertumbuh.

Belajar bahwa pujian memang menyenangkan. Namun kritik sering kali jauh lebih menyelamatkan.

Belajar bahwa orang-orang yang mencintai kita menghadirkan kekuatan. Sedangkan mereka yang pernah melukai hati sering kali justru mengajarkan kedewasaan.

Pernah, di awal perjalanan karier, aku merasa sangat lelah.

Amanah datang bertubi-tubi. Tanggung jawab terasa semakin besar.

Aku duduk sendirian sambil memandangi tumpukan pekerjaan.

“Ya Allah… mengapa semuanya terasa begitu berat?”

Jawaban itu tidak datang melalui suara. Tidak pula melalui mimpi.

Jawabannya hadir perlahan melalui hari-hari yang aku lalui.

Allah sedang mengajarkan aku bahwa beban bukan untuk mematahkan pundak.

Beban adalah cara Allah menguatkan pundak agar sanggup memikul amanah yang lebih besar.

Sejak saat itu aku mulai memandang pekerjaan dengan cara yang berbeda.

Setiap amanah bukan lagi daftar tugas.

Ia adalah ruang pembelajaran. Tempat kesabaran ditempa. Tempat kejujuran diuji. Tempat integritas dipertahankan.

Tempat hati belajar tetap rendah meski keberhasilan mulai berdatangan.

Aku menyadari, kecerdasan saja tidak cukup. Ilmu tanpa akhlak dapat melukai. Jabatan tanpa amanah dapat menyesatkan.

Prestasi tanpa keikhlasan juga akan mudah melahirkan kesombongan.

**

Semakin bertambah usia, semakin aku memahami bahwa karier bukan perlombaan untuk berdiri di tempat paling tinggi.

Karier adalah perjalanan untuk menjadi semakin berguna.

Karena jabatan memiliki masa. Penghargaan memiliki batas. Tepuk tangan pada akhirnya pun akan berhenti.

Bahkan nama yang dahulu sering disebut perlahan akan menghilang dari percakapan.

Namun manfaat…

Manfaat tidak pernah mengenal masa pensiun.

Ia terus hidup jauh setelah pemiliknya berpulang.

Betapa banyak guru yang telah lama wafat, tetapi ilmunya masih hidup di dalam murid-muridnya.

Betapa banyak orang tua yang telah tiada, tetapi nasihatnya masih menjadi kompas kehidupan anak-anaknya.

Betapa banyak pribadi sederhana yang tidak pernah masuk berita, tetapi kebaikannya terus tumbuh dalam kehidupan banyak orang.

Barangkali…

Itulah warisan yang paling indah.

Bukan rumah yang megah.

Bukan kendaraan yang mahal.

Bukan pula angka yang terus bertambah di dalam rekening.

BACA JUGA :  Car Free Day Jadi Panggung Talenta Pelajar, Sekda Solok Selatan Dorong Pembinaan Berkelanjutan

Melainkan manfaat yang tetap mengalir, bahkan ketika tubuh telah lama berbaring di dalam tanah.

Alhamdulillah…

Hari ini aku kembali bersyukur. Allah masih memberi aku kesempatan belajar. Masih mempertemukan aku dengan orang-orang yang mengajarkan banyak hikmah. Masih mempercayai aku memikul amanah.

Kini aku mengerti.

Masalah yang Allah hadirkan bukan untuk menjatuhkan. Ia sedang meluaskan cara pandang. Beban yang Allah titipkan bukan untuk melemahkan. Ia sedang menguatkan jiwa.

Dan orang-orang yang Allah hadirkan di tempat kerja bukan hanya rekan. Mereka adalah guru yang dikirim Allah dengan cara yang berbeda-beda.

Ada yang mengajarkan keteladanan. Ada yang mengajarkan keberanian. Ada yang mengajarkan kesabaran. Ada yang mengajarkan ketegasan. Bahkan ada yang mengajarkan betapa indahnya memaafkan.

Lalu aku tersadar…

Mungkin setiap hari Allah sedang mengajukan pertanyaan yang sama.

Bukan, “Sudah setinggi apa jabatanmu?”

Bukan pula, “Berapa banyak penghargaan yang telah kau kumpulkan?”

Melainkan, “Hari ini, siapa yang hidupnya menjadi lebih baik karena kehadiranmu?”

Aku terdiam. Karena pertanyaan itu tidak dapat dijawab dengan pidato. Tidak dapat dijawab dengan daftar prestasi. Tidak dapat dijawab dengan gelar yang berjajar di belakang nama.

Jawabannya hanya dapat ditulis oleh cara kita memperlakukan sesama. Oleh kejujuran yang kita jaga. Oleh manfaat yang kita tinggalkan. Oleh kasih sayang yang kita tebarkan.

**

Pagi ini aku kembali menengadahkan tangan.

“Ya Allah… jangan biarkan aku berhenti belajar sebelum Engkau memanggil aku pulang. Jadikan setiap ilmu yang aku pelajari sebagai cahaya, bukan kesombongan. Jadikan setiap pekerjaan ini sebagai ibadah, bukan hanya jalan mencari penghidupan. Jagalah hati ini agar tetap rendah ketika berhasil, tetap sabar ketika gagal, dan tetap ikhlas ketika kebaikan yang ada, tidak pernah diketahui siapa pun.”

**

Lalu aku membayangkan. Suatu hari nanti meja kerja itu akan ditempati orang lain. Kursi yang setiap hari aku duduki akan digunakan oleh orang yang berbeda. Pintu ruang kerja akan tetap terbuka seperti biasa.

Rapat akan tetap berjalan. Program akan terus dilaksanakan. Dunia tidak pernah berhenti karena kepergian satu orang.

BACA JUGA :  Peluk Sahabat

Lalu mungkin terdengar percakapan sederhana.

“Bu, siapa yang dulu bekerja di ruangan ini?”

Seseorang menjawab,

“Oh, dia sudah lama tidak di sini.”

Barangkali hanya itu.

Lalu pembicaraan berganti. Namun diam-diam aku berharap…

Masih ada yang menambahkan satu kalimat.

“Dia orang baik.”

“Kami banyak belajar darinya.”

“Ia tidak pernah pelit ilmu.”

“Ia selalu berusaha membantu ketika kami kesulitan.”

“Semoga Allah melapangkan kuburnya.”

Andai hanya kalimat-kalimat sederhana itu yang tertinggal setelah kepergianku. Rasanya, itu sudah lebih berharga daripada seribu penghargaan yang pernah aku terima selama hidup.

Karena pada akhirnya, yang kita bawa pulang bukan lagi kartu nama. Melainkan hanyalah amal jariyah, berupa ilmu yang pernah diajarkan. Kejujuran yang pernah dipertahankan. Maupun tangan yang pernah menggenggam mereka yang hampir menyerah.

Doa-doa yang diam-diam dipanjatkan oleh banyak orang karena pernah merasakan manfaat dari kehadiran kita.

Kita tidak sedang membangun karier untuk dikenang oleh dunia. Kita membangun amal untuk dikenal langit.

Dan ketika perjalanan belajar ini benar-benar berakhir. Semoga yang kembali menghadap Allah bukan hanya seorang yang pernah bekerja. Melainkan seorang hamba yang telah berusaha menjadikan ilmunya sebagai cahaya, pekerjaannya sebagai ibadah, akhlaknya sebagai teladan, dan seluruh hidupnya sebagai jalan hadirnya manfaat bagi sebanyak mungkin hati.

Karena kelulusan yang sesungguhnya bukanlah ketika kita menerima ijazah di dunia. Kelulusan yang sesungguhnya adalah ketika Allah memanggil kita pulang, lalu para malaikat menyambut dengan kabar gembira, sementara doa-doa dari banyak hati masih terus melangit, menjadi saksi bahwa hidup kita pernah menghadirkan kebaikan.

Insya Allah, saat hari itu tiba, kita pulang dalam keadaan lulus sebagai hamba-Nya. Aamiin😍.

Jakarta, 26 Juli 2026

Dosen IPB University, penulis dan penggiat literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *