Oleh: Nurul Jannah*)
Ketika masih kecil, aku pernah mengira belajar hanya berlangsung di ruang kelas.
Ada guru yang menjelaskan. Ada buku yang dibaca. Ada ujian yang harus dikerjakan. Lalu tibalah hari kelulusan.
Saat itu aku berpikir, proses belajar telah selesai. Namun ternyata, justru setelah meninggalkan bangku sekolah, pelajaran yang sesungguhnya baru dimulai.
Tidak ada lagi bel yang berbunyi. Tidak ada lagi papan tulis. Tidak ada lagi rapor yang dibagikan setiap akhir semester.
Yang menjadi ruang kelas adalah kehidupan. Yang menjadi guru adalah setiap peristiwa. Dan yang menjadi buku pelajaran adalah perjalanan yang Allah tuliskan untuk setiap hamba-Nya.
Aku belajar dari kegagalan yang pernah membuatku menangis.
Aku belajar dari keberhasilan agar tidak terjebak dalam kesombongan.
Aku belajar dari kehilangan agar memahami bahwa tidak ada yang benar-benar menjadi milikku.
Aku belajar dari sakit agar menghargai nikmat sehat.
Aku belajar dari perpisahan agar lebih menghargai kebersamaan.
Aku belajar dari mereka yang mencintaiku. Pun sekaligus belajar dari mereka yang pernah melukai hatiku.
Semakin panjang perjalanan hidup, semakin aku menyadari bahwa Allah tidak pernah berhenti mengajar. Setiap hari selalu ada pelajaran baru. Setiap ujian membawa hikmah baru. Setiap perjumpaan meninggalkan makna baru.
Demikian kehidupan.
Sering kali Allah tidak mengubah keadaan lebih dahulu. Allah mengubah hati kita terlebih dahulu.
Karena ketika hati berubah, cara kita memandang kehidupan pun berubah.
Yang dahulu dianggap musibah, perlahan berubah menjadi pelajaran.
Yang dahulu dianggap kegagalan, ternyata menjadi jalan menuju keberhasilan yang lebih indah.
Yang dahulu membuat kita menangis, kelak justru menjadi kisah yang menguatkan banyak hati.
Belajar bukan tentang menambah banyak pengetahuan. Belajar adalah proses menumbuhkan kebijaksanaan.
Ilmu membuat kita mengetahui. Pengalaman membuat kita memahami. Ujian membuat kita dewasa. Dan ketakwaan membuat semua ilmu menemukan maknanya.
Sayangnya, tidak sedikit di antara kita yang berhenti belajar ketika meninggalkan bangku sekolah. Merasa sudah cukup. Merasa sudah tahu. Merasa tidak lagi perlu mendengar nasihat.
Padahal…
Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah hatinya.
Karena setiap ilmu baru akan memperlihatkan betapa luasnya pengetahuan Allah dan betapa terbatasnya pengetahuan manusia.
Bukankah Allah sendiri mengajarkan doa yang begitu indah,
“Rabbi zidnī ‘ilmā.”
“Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Taha: 114)
Jika Nabi Muhammad SAW saja diperintahkan untuk terus memohon tambahan ilmu, lalu bagaimana mungkin kita merasa telah cukup?
Hari ini aku semakin yakin. Selama napas masih Allah titipkan, selama itu pula aku adalah seorang murid. Murid kehidupan. Murid kesabaran. Murid keikhlasan. Murid syukur. Murid cinta.
Dan di atas semuanya, murid yang sedang belajar mengenal Allah. Mungkin karena itulah usia bukanlah tanda bahwa seseorang telah selesai belajar. Justru semakin bertambah usia, seharusnya semakin banyak pelajaran yang berhasil dipetik.
Bukan hanya kepala yang semakin penuh ilmu. Tetapi juga hati yang semakin lembut. Lisan yang semakin santun. Langkah yang semakin bijaksana.
Dan tangan yang semakin ringan menolong sesama.
Lalu aku membayangkan…
Ketika suatu hari Allah memanggilku pulang, barangkali Allah tidak akan bertanya berapa banyak buku yang pernah aku baca. Bukan pula berapa banyak gelar yang pernah aku sandang. Melainkan…
“Apa yang telah engkau lakukan dengan ilmu yang telah Aku titipkan?”
Sebab ilmu bukan untuk disimpan. Ilmu adalah amanah yang harus menerangi jalan kehidupan, menguatkan yang lemah, mengangkat yang jatuh, menjaga bumi, memuliakan sesama, dan mendekatkan pemiliknya kepada Allah.
Karena pada akhirnya, kita semua sedang belajar. Belajar menjadi hamba yang lebih baik. Belajar mencintai lebih tulus. Belajar memaafkan lebih ikhlas. Belajar bersyukur lebih dalam. Belajar menerima takdir dengan lapang dada.
Dan belajar pulang kepada Allah dengan hati yang tenang.
Maka selama Allah masih menghadiahkan hari ini, jangan pernah berhenti belajar. Belajarlah dari ayat-ayat Al-Qur’an.
Belajarlah dari alam yang tidak pernah berdusta. Belajarlah dari air mata yang pernah jatuh. Belajarlah dari setiap insan yang Allah pertemukan dalam perjalanan hidup.
Sebab setiap hari adalah halaman baru dalam madrasah kehidupan, dan setiap napas adalah kesempatan untuk menjadi hamba yang lebih baik daripada hari kemarin.
Selama napas masih berembus, selama itu pula perjalanan menuntut ilmu belum selesai. Dan semoga ketika Allah memanggil kita pulang, kita kembali bukan hanya sebagai orang yang banyak mengetahui, tetapi sebagai hamba yang telah belajar mengamalkan ilmunya dengan penuh keikhlasan, hingga Allah berkenan menerima kepulangan kita dengan rida-Nya.💕❣️
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Jakarta, 2 Agustus 2026
Dosen IPB University, penulis dan penggiat literasi*)
