Oleh: Nurul Jannah*)
Ketika Kampungku Kembali Menjadi Indonesia
Di kampungku di Solo, malam tirakatan datang setiap 16 Agustus. Malam yang membuat sebuah kampung kembali menjadi keluarga.
Kami menyebutnya malam tirakatan, malam menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sejak sore, kampung sudah berubah wajah. Merah Putih berkibar di depan rumah. Umbul-umbul berjajar di sepanjang gang. Bapak-bapak menata kursi dan menggelar tikar. Para pemuda memasang lampu dan pengeras suara.
Dari dapur-dapur rumah, kesibukan lain berlangsung.
“Bu, nasine wis mateng?”
“Sudah. Tinggal urap sama sambalnya.”
“Kerupuk siapa yang goreng?”
“Tak gorenge. Kowe bantu nata piring wae.”
Begitulah tirakatan dimulai. Aku menikmati betul suasana bahu membahu seperti itu. Bukan ketika ketua RT membuka acara, melainkan sejak tangan-tangan warga mulai bekerja bersama, mengalirkan bahagia tiada terkira di sana.
Ada yang membawa beras, telur, ayam, sayur, kerupuk, buah, jajanan pasar, teh, dan gula. Ibu-ibu memasak bersama. Tidak ada yang sibuk menghitung makanan siapa akan dimakan siapa.
Semua diletakkan di satu tempat. Semua akan dinikmati bersama.
Dari dapur-dapur sederhana itulah aku seperti melihat Indonesia dalam wajahnya yang paling jujur: orang-orang memberikan apa yang mereka punya agar kebahagiaan dapat dirasakan bersama.
Menjelang malam, warga mulai berdatangan. Para sesepuh, bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda, hingga anak-anak memenuhi tempat yang telah disiapkan.
Anak-anak tentu yang paling tidak sabar.
“Bu, kapan makannya?”
“Doa dulu.”
“Lama, enggak?”
Tawa riang pun pecah.
Mereka memang belum sepenuhnya memahami panjangnya perjuangan kemerdekaan. Belum mengerti bagaimana negeri ini dahulu ditebus dengan darah, air mata, kehilangan bahkan nyawa.
Namun malam itu, tanpa mereka sadari, mereka sedang belajar tentang Indonesia.
Pelajaran penting yang tidak selalu ditemukan di ruang kelas.
Mereka belajar mengenal tetangga, menghormati orang tua, berbagi makanan, bergotong royong, dan menjadi bagian dari kampungnya. Hidup akan menjadi lebih indah ketika manusia tidak berjalan sendirian
Acara kemudian dimulai. Sambutan singkat disampaikan. Sesepuh kampung mengingatkan tentang perjuangan para pendahulu.
Lalu doa dipanjatkan. Suasana yang sebelumnya riuh perlahan menjadi hening.
Kepala tertunduk. Tangan menengadah. Kami mendoakan para pahlawan, mereka yang namanya tercatat dalam sejarah maupun yang gugur tanpa sempat kami kenal.
Aku memandang anak-anak yang duduk di hadapanku.
Mereka dapat berlari dengan bebas. Bersekolah. Bermain. Tertawa. Bercita-cita.
Bagaimanapun juga, kebebasan yang hari ini terasa begitu biasa, ternyata pernah dibayar dengan harga yang luar biasa.
Dan mendadak dadaku terasa penuh.
Ada pemuda yang pergi berjuang dan tidak pernah kembali. Ada ibu yang kehilangan anak. Ada istri yang kehilangan suami. Ada keluarga yang mengorbankan kebahagiaannya agar generasi setelah mereka dapat mengenal satu kata: MERDEKA.
Setelah doa selesai, suasana kembali riang.
Tumpeng dipotong. Nasi dan lauk dibagikan. Teh hangat dituangkan.
“Yang kecil dulu!”
“Aku mau ayam!”
“Lho, tadi katanya mau telur?”
Gelak ceria kembali memenuhi malam. Aku memperhatikan orang-orang di sekelilingku. Yang tua dan muda duduk berdekatan. Yang berkecukupan dan yang sederhana menikmati makanan yang sama. Malam itu jarak seolah menghilang.
Guyub.
Satu kata Jawa yang sederhana, tetapi menyimpan makna begitu dalam.
Guyub bukan hanya berkumpul, duduk bersama. Guyub adalah ketika makanan sedikit masih dapat dibagi. Ketika pekerjaan berat terasa ringan karena banyak tangan ikut mengangkat. Ketika tetangga bukan hanya orang yang rumahnya bersebelahan dengan kita, tetapi mereka yang hadir ketika kita membutuhkan. Dan ketika perbedaan tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti bersaudara.
Bukankah Indonesia dahulu juga lahir dari semangat seperti itu?
Berbeda suku. Berbeda bahasa. Berbeda daerah. Berbeda jalur kehidupan. Namun para pendahulu memilih berdiri di bawah satu nama: INDONESIA.
Karena itu, bagiku tirakatan tidak boleh berhenti sebagai tradisi tahunan: datang, berdoa, makan, lalu pulang.
Tirakatan adalah malam untuk mengingat, bersyukur sekaligus bercermin.
Para pahlawan dahulu berjuang dengan senjata. Perjuangan kita hari ini berbeda.
Guru berjuang dengan mendidik.
Petani dengan menghasilkan pangan.
Pedagang dengan menjaga kejujuran.
Pemimpin dengan menjaga amanah.
Anak muda dengan belajar dan berkarya.
Ibu-ibu bahkan berjuang dari rumah-rumah sederhana, membesarkan generasi yang kelak akan menerima negeri ini.
Dan kita semua dapat berjuang dengan merawat persaudaraan, menjaga lingkungan, menolak ketidakjujuran, serta tidak mengambil hak orang lain.
Kemerdekaan hari ini memang tidak lagi meminta darah kita dan nyawa kita. Namun ia tetap meminta harga: kejujuran, kepedulian, kerja keras, dan pengabdian kita.
Malam semakin larut.
Tikar mulai digulung. Piring dibereskan. Kursi dikembalikan. Warga pulang satu per satu.
Gang kampungku kembali tenang. Namun Merah Putih masih berkibar di ujung jalan.
Aku berhenti sejenak memandangnya.
Di bawah langit Solo malam itu, sebuah pertanyaan seperti mengetuk hatiku: Para pahlawan telah memberikan kemerdekaan kepada kita. Lalu, apa yang akan kita lakukan untuk menjaganya?
Aku terdiam.
Dan, aku semakin memahami, bahwa Malam Tirakatan bukan hanya malam menjelang 17 Agustus.
Ia adalah malam ketika sebuah kampung berhenti sejenak dari kesibukannya untuk mengingat perjuangan, merawat keguyuban, mensyukuri kemerdekaan, dan menitipkan Indonesia kepada generasi berikutnya.
Kami memasak bersama.
Makan bersama.
Bahagia bersama.
Berdoa bersama.
Mengenang bersama.
Dan malam itu, sekali lagi, kami belajar menjadi Indonesia. Sebab kemerdekaan memang diproklamasikan sekali. Tetapi persaudaraan, keguyuban, dan cinta kepada negeri ini harus diperjuangkan setiap hari.
Dari kampungku di Solo, aku hanya ingin menengadahkan tangan dan melangitkan doa, Ya Allah, rahmatilah mereka yang telah berjuang untuk negeri ini. Mereka yang kami kenal namanya maupun yang gugur dalam sunyi tanpa sempat dicatat sejarah.
Jaga Indonesia kami.
Jangan biarkan perbedaan memisahkan kami. Jangan biarkan kepentingan membuat kami lupa bersaudara. Jangan biarkan kemerdekaan yang dibayar begitu mahal kehilangan makna di tangan generasi kami.
Dan kepada para pahlawan, beristirahatlah dalam damai.
Perjuangan telah dititipkan kepada kami.
Kini, giliran kami menjaganya.
Bukan lagi dengan bambu runcing.
Bukan dengan mengangkat senjata.
Tetapi dengan kejujuran, ilmu, kerja, kepedulian, persaudaraan, dan pengabdian.
Malam tirakatan bukan hanya tentang mengenang bagaimana Indonesia dahulu diperjuangkan. Ia adalah pengingat agar kita tidak menjadi generasi yang pandai menikmati kemerdekaan, tetapi lupa menjaganya.
Dirgahayu Republik Indonesia. 🇮🇩
MERDEKA!
Jakarta, 10 Agustus 2026
Dosen IPB University, Penulis dan penggiat Literasi*)






