Tujuh Belasan di Tanah Pasundan, Bogor

Oleh : Nurul Jannah*)

Ketika Gang Kecil Menjadi Rumah Besar Bernama Indonesia

Aku lahir dan tumbuh dengan akar budaya Jawa. Namun kini aku tinggal di Bogor, di tanah Pasundan.

Bertahun-tahun hidup di sini membuatku belajar satu hal: di mana bumi dipijak, di sana kita belajar menghormati budaya, menyapa kehidupan, dan menjadi bagian dari masyarakatnya.

Maka ketika Agustus datang, aku pun larut dalam kegembiraan warga Bogor menyambut kemerdekaan.

Orang Sunda biasa menyebut tujuh belas dengan tujuh welas. Namun apa pun sebutannya, suasananya sama: meriah, akrab, dan penuh keguyuban.

Sejak awal bulan Agustus, kampung mulai bersolek. Merah Putih berkibar di depan rumah. Umbul-umbul menghiasi gang. Gapura diperindah. Bapak-bapak sibuk menyiapkan perlombaan, ibu-ibu mengatur konsumsi, sementara anak-anak sudah bertanya jauh-jauh hari:

“Bu, lombana iraha?”

“Tanggal tujuh belas.”

“Abdi bade ngiring lomba!”

Aku bahagia melihat semangat mereka.

Kemerdekaan rupanya mempunyai bahasa yang sangat sederhana bagi anak-anak: hari ketika kampung menjadi tempat paling menyenangkan di dunia.

Gang yang biasanya dilalui kendaraan berubah menjadi arena pertandingan.

“Hayu… hayu… siap!”

Anak-anak berbaris mengikuti lomba makan kerupuk, balap karung, membawa kelereng, memasukkan pensil ke botol hingga estafet air.

Yang bertanding memang anak-anak. Tapi
Yang tegang justru orang tuanya.

“Hayu, geulis… saeutik deui!”

Kerupuk bergoyang.
Anaknya tertawa.
Ibunya berteriak.
Penonton pun pecah dalam tawa.

Tidak ada yang peduli hadiahnya seberapa mahal.

Hari itu, kebahagiaan tidak dihitung dari harga hadiah, tetapi dari berapa banyak tawa yang berhasil dibagikan.

BACA JUGA :  Gelar Seleksi Pemain, PSP Padang U17 Pastikan Ikut Piala Soeratin

Lalu giliran ibu-ibu.

Nah, ini biasanya lebih seru.

Ada estafet, joget balon, lomba sarung, sampai permainan yang entah siapa penciptanya, tetapi selalu berhasil membuat ibu-ibu kehilangan sedikit jaimnya.

“Aduh, Bu… ulah seuri wae!”

“Kumaha teu seuri, lombana kieu!”

Tawa kembali meledak.
Bapak-bapak pun tidak mau kalah. Tarik tambang menjadi arena pembuktian.

“Hiji… dua… tilu!”

Tali ditarik.

Kaki menahan tanah.
Penonton bersorak.
Lalu satu kelompok roboh bersama. Bukannya kecewa, mereka malah tertawa paling keras.

Aku memandang semuanya dengan bahagia. Ternyata menjadi merdeka juga berarti mempunyai ruang untuk tertawa bersama. Dari RT ke RT, dari RW ke RW, suasana serupa terasa.

Ada jalan sehat, senam, bulu tangkis, lomba kebersihan, pentas seni, bazar warga, hingga makan bersama.

Yang mempunyai rezeki lebih, menyumbang hadiah. Yang punya tenaga membantu, menyiapkan tempat.
Yang pandai memasak, menyiapkan makanan.
Pemuda menjadi panitia.

Anak-anak menjadi sumber keramaian.

Dan para sepuh hadir, tersenyum menyaksikan generasi setelah mereka bergembira.

Tidak ada yang terlalu kecil untuk berkontribusi.
Di situlah aku kembali memahami indahnya hidup bertetangga di tanah Pasundan.

Ada keramahan.

Ada silih asah.

Ada silih asih.

Ada silih asuh.

Saling mencerdaskan, saling mengasihi, dan saling menjaga.

Aku yang berakar Jawa tidak merasa menjadi orang luar.

Justru aku belajar bahwa Indonesia menjadi indah karena kita dapat datang dari budaya yang berbeda, lalu menemukan rumah di tengah budaya lainnya tanpa kehilangan jati diri.

BACA JUGA :  Selamat Jalan Pak Tarma, Teruslah ke Syurga…

Di tengah riuh perlombaan, mataku tertuju pada Merah Putih yang berkibar di ujung gang.

Tiba-tiba ada rasa haru yang mengalir.

Anak-anak itu dapat berlari bebas. Mereka dapat tertawa. Bersekolah. Bermain. Bercita-cita.

Hal yang bagi mereka terasa biasa itu dahulu ldibayar dengan harga yang luar biasa.

Ada darah, kehilangan, doa, dan nyawa para pendahulu di balik kebebasan yang hari ini kita rayakan dengan tawa.

Maka tujuh belasan bagiku bukan hanya lomba. Ia adalah cara sederhana warga mensyukuri kemerdekaan.

Dari anak-anak, aku belajar berjuang tanpa takut kalah.

Dari ibu-ibu, aku belajar bahagia tidak mengenal usia.

Dari bapak-bapak, aku belajar kekuatan lahir ketika tangan-tangan mau bekerja bersama.

Dari para pemuda, aku belajar bahwa kebersamaan harus ada yang merawatnya.

Dan dari warga Bogor, aku belajar bahwa menjadi tetangga bukan hanya tinggal berdekatan. Tetangga adalah mereka yang datang ketika kita membutuhkan, ikut bahagia ketika kita bergembira, dan tetap menyapa meskipun kehidupan kita berbeda.

Itulah kemerdekaan dari sudut gang kecil.

Menjelang sore, hadiah dibagikan.

Kursi mulai dibereskan.

Sampah dipungut.

Jalan kembali dibuka.

Besok kami akan kembali kepada kesibukan masing-masing. Namun aku berharap satu hal tidak ikut selesai: kebersamaan.

Jangan sampai kita kompak hanya ketika tujuh belasan.

Jangan sampai tangan kuat menarik tambang bersama, tetapi enggan terulur ketika tetangga membutuhkan pertolongan.

Jangan sampai anak-anak hanya mewarisi lombanya, tetapi kehilangan nilai yang tersembunyi di baliknya.

BACA JUGA :  Dari Sampah ke Cuan, Universitas Ekasakti Dampingi LPS Air Pacah

Sebab kemerdekaan bukan hanya warisan untuk dirayakan. Kemerdekaan adalah amanah untuk dijaga.

Aku pun.kembali memandang Merah Putih.

Di Bogor, tanah Pasundan yang kini menjadi tempatku pulang, aku semakin memahami: Indonesia tidak hanya hidup di gedung-gedung besar. Indonesia hidup di RT dan RW.

Di pos ronda.

Di gang-gang kecil.

Di tangan warga yang memasang bendera.

Di dapur ibu-ibu yang menyiapkan makanan.

Di pemuda yang bekerja sejak pagi.

Dan di tawa anak-anak yang berlari mengejar kemenangan.

Selama ini aku memang selalu membawa akar budaya Jawa dalam diriku. Namun hari ini aku hidup dan belajar mencintai kehidupan di tanah Sunda.

Dan di bawah Merah Putih, perbedaan itu tidak perlu dipertentangkan. Sebab Jawa mengajariku dari mana aku berasal. Pasundan mengajariku bagaimana menjadi bagian dari tempat aku berpijak.

Dan Indonesia mengajariku bahwa keduanya dapat hidup indah dalam satu hati.

Itulah tujuh belasan di kampungku.

Kami berlomba.

Kami tertawa.

Kami berbagi.

Kami bersyukur.

Dan melalui cara yang sangat sederhana, kami sedang belajar menjaga Indonesia bersama-sama.

Wilujeng tepang taun, Indonesiaku. 🇮🇩

Dirgahayu Republik Indonesia!

Merdeka!🇮🇩

Jakarta, 12 Agustus 2026

Dosen IPB University, Penulis dan penggiat Literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *