Dari Masjid Al Bahri Parak Jigarang, Api Nasionalisme Itu Terus Menyala

Wakil Komandan Komando Daerah Angkatan Laut II (Wadan Kodaeral II) Laksamana Pertama TNI Mulyadi, S.E., CRMP., M.Tr.Opsla, bertindak sebagai inspektur upacara Peringatan HUT RI di Masjid Al Bahri Parak Jigarang, Senin (17/2026). (Foto Hendri Parjiga/ FokusSumbar.Com)

PADANG — Pagi itu, halaman Masjid Al Bahri di Parak Jigarang, Kelurahan Anduriang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, berubah menjadi lapangan upacara.

Bukan lapangan kantor pemerintahan. Bukan pula halaman markas militer.

Di tempat yang setiap hari menjadi ruang sujud dan doa itu, Sang Merah Putih berkibar, Senin (17/8/2026).

Di bawah kibaran bendera, berbagai elemen masyarakat berdiri tegak. Ada prajurit TNI Angkatan Laut, majelis taklim, masyarakat, unsur kelurahan, organisasi kemasyarakatan, mahasiswa hingga pelajar.

Mereka datang dengan satu semangat: memperingati 81 tahun Indonesia merdeka.

Tak tanggung-tanggung. Upacara itu dipimpin Wakil Komandan Komando Daerah Angkatan Laut II (Wadan Kodaeral II) Laksamana Pertama TNI Mulyadi, S.E., CRMP., M.Tr.Opsla, yang bertindak sebagai inspektur upacara.

Namun, upacara di Masjid Al Bahri bukan sekadar seremoni tahunan.

Ada pesan kebangsaan yang ingin terus dirawat: bahwa cinta Tanah Air tidak mengenal sekat tempat, profesi, usia maupun latar belakang.

Masjid pun menjadi bagian dari ruang perjuangan itu.

Dalam amanat Komandan Kodaeral II Laksamana Muda TNI Sarimpunan Tanjung yang dibacakan Mulyadi, kemerdekaan dimaknai bukan hanya sebagai sebuah peristiwa sejarah. Kemerdekaan adalah amanah.

Karena itu, setiap generasi memiliki tugas untuk mengisinya dengan karya, pengabdian dan kontribusi terbaik bagi bangsa.

Masjid, menurut pesan tersebut, memiliki posisi penting dalam membangun kekuatan sosial masyarakat. Dari masjid, ukhuwah diperkuat. Persaudaraan dirawat. Persatuan ditumbuhkan.

“Indonesia bersatu, Indonesia maju,” menjadi semangat yang harus terus dikobarkan melalui peran masing-masing warga negara.

Sebab, kemerdekaan yang diperjuangkan dengan darah dan air mata para pahlawan tidak boleh berhenti sebagai cerita yang hanya dikenang setiap 17 Agustus.

BACA JUGA :  Dua Hari Ditempa, 52 Peserta OKK Resmi Jadi Keluarga Besar PWI Sumbar

Kemerdekaan harus terasa dalam tindakan. Harus hadir dalam kepedulian.
Harus hidup dalam semangat membangun negeri.

17 Agustus dan Pertanyaan yang Tak Pernah Usai

Bayangkan kembali suasana 17 Agustus 1945.

Bangsa Indonesia baru saja memproklamasikan kemerdekaan. Belum ada kepastian tentang masa depan. Belum ada jaminan bahwa negara baru itu akan bertahan.

Tetapi para pendiri bangsa memilih berdiri dan mengatakan kepada dunia: Indonesia merdeka.

Kini, 81 tahun kemudian, generasi yang menikmati kemerdekaan itu berdiri di halaman Masjid Al Bahri.

Pertanyaannya bukan lagi bagaimana merebut kemerdekaan.

Pertanyaannya: apa yang sudah kita lakukan untuk menjaganya?

Ancaman terhadap bangsa juga berubah.
Bukan lagi sekadar penjajah yang datang dengan senjata. Ancaman dapat muncul ketika persatuan dirusak, ketika nilai kebangsaan diabaikan, ketika masyarakat mudah dipecah belah, atau ketika empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara mulai dirongrong.

Karena itu, semangat bela negara tidak selalu harus diwujudkan dengan mengangkat senjata.

Belajar dengan sungguh-sungguh adalah bela negara.

Bekerja dengan jujur adalah bela negara.

Menjaga persatuan adalah bela negara.

Menghormati perbedaan adalah bela negara.

Dan memberikan manfaat bagi masyarakat juga merupakan bentuk bela negara.

Lima Tahun, Masjid Al Bahri Menjaga Tradisi

Bagi Masjid Al Bahri, upacara kemerdekaan bukan sesuatu yang baru. Tahun ini merupakan kali kelima masjid tersebut menggelar upacara HUT Kemerdekaan RI. Tradisi itu terus dijaga.

Pembina Masjid Al Bahri Joni Putra Sikumbang menyebut keterlibatan berbagai unsur masyarakat menjadi kekuatan tersendiri dalam setiap pelaksanaan upacara.

BACA JUGA :  Teh Talua Palinggam Juara Lomba HUT ke-81 RI Antarwartawan

TNI AL, majelis taklim, masyarakat, unsur kelurahan, organisasi kemasyarakatan, mahasiswa dan pelajar berdiri dalam satu barisan.

Tidak ada sekat. Satu bendera berkibar di atas mereka. Merah Putih.

“Masjid bukan hanya tempat ibadah. Masjid juga dapat menjadi ruang untuk memperkuat silaturahmi, kebersamaan, pendidikan kebangsaan dan kepedulian terhadap lingkungan,” kata Joni.

Tradisi itu sekaligus menghidupkan kembali peran masjid sebagai pusat kehidupan masyarakat.

Bukan hanya tempat manusia mendekatkan diri kepada Tuhan, tetapi juga tempat manusia belajar mencintai sesama dan mencintai negerinya.

Doa untuk Sang Pembina

Ada suasana haru setelah upacara selesai.

Wadan Kodaeral II Laksamana Pertama TNI Mulyadi memimpin doa untuk Joni Putra Sikumbang yang sejak Minggu (16/8/2026) menjalani perawatan di rumah sakit.

Doa mengalir dari tempat yang selama ini ikut dirawat dan dihidupkan Joni bersama masyarakat.

Di tengah peringatan kemerdekaan, doa menjadi pengingat bahwa perjuangan juga memiliki wajah kemanusiaan.

Bahwa di balik upacara, bendera dan lagu kebangsaan, ada persaudaraan yang harus terus dijaga.

Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut dengan ziarah dan tabur bunga ke pusara pewakaf tanah Masjid Al Bahri, Idrus Rajo Bungsu dan Hj. Jaliar, yang berada di kompleks masjid.

Bunga ditaburkan. Doa dipanjatkan. Nama mereka dikenang.

Ada pesan sederhana dari kegiatan itu: sebuah tempat ibadah tidak berdiri begitu saja.

Ada tangan-tangan yang berwakaf. Ada orang-orang yang mengorbankan sesuatu untuk kepentingan generasi setelahnya.

BACA JUGA :  Bawaslu Pesisir Selatan Segera Launching Majalah Digital "Suara Pengawasan"

Begitu pula dengan Indonesia. Negeri ini berdiri di atas pengorbanan.

Para pahlawan menyerahkan tenaga, pikiran, harta, bahkan nyawa agar generasi berikutnya dapat hidup sebagai bangsa merdeka.

Maka, cara terbaik menghormati mereka bukan hanya dengan upacara dan tabur bunga. Tetapi dengan meneruskan perjuangan.

Merdeka untuk Apa?

Pertanyaan itu barangkali layak direnungkan setiap kali Sang Merah Putih dikibarkan.

Merdeka untuk apa?

Untuk menjadi bangsa yang terpecah. Tentu bukan.

Untuk saling mencurigai? Jelas bukan.

Untuk melupakan sejarah? Juga bukan.

Kemerdekaan adalah kesempatan untuk membangun bangsa yang kuat, bermartabat, bersatu dan maju.

Dari halaman Masjid Al Bahri, pesan itu kembali digaungkan.

Bahwa nasionalisme tidak harus selalu hadir dalam pidato besar.

Ia bisa tumbuh dari halaman masjid.

Dari doa seorang ibu.

Dari langkah seorang pelajar menuju sekolah.

Dari kerja seorang nelayan.

Dari pengabdian seorang prajurit.

Dari kejujuran seorang pejabat.

Dari kepedulian seorang warga.

Dan dari keberanian setiap anak bangsa untuk berkata: Indonesia adalah rumah kita bersama. Merah Putih adalah kehormatan kita. Kemerdekaan adalah amanah yang harus kita jaga.

Karena 81 tahun Indonesia merdeka bukanlah garis akhir. Tap8 adalah pengingat bahwa perjuangan belum selesai. (Hendri Parjiga)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *