Oleh: Dr. Rahmawati, M.Ag.*)
Demam Korean Wave atau Hallyu agaknya sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat kita. Drama Korea ditonton mulai dari anak-anak, remaja putri, ibu-ibu hingga orang tua. Musik K-Pop terdengar di berbagai tempat, sementara gaya berpakaian, skincare, makanan, bahasa, dan berbagai atribut idola Korea ikut masuk ke dalam kehidupan sehari-hari.
Di kalangan remaja, pengaruh tersebut terasa semakin kuat karena dunia mereka sangat dekat dengan media sosial dan berbagai platform digital. Apa yang sedang populer di belahan dunia lain dapat hadir di hadapan mereka dalam hitungan detik.
Fenomena Korean Wave menarik dilihat dari perspektif pendidikan. Mengapa budaya Korea begitu cepat diterima oleh generasi muda kita? Jawabannya tentu beragam. Industri kreatif Korea sangat pandai membaca perkembangan teknologi dan karakter masyarakat digital. Musik dan drama mereka dikemas dengan visual yang menarik, cerita yang kuat, serta kemampuan membangun ikatan emosional dengan penonton.
Mereka juga berhasil memanfaatkan media digital untuk memperkenalkan budaya Korea ke berbagai belahan dunia. K-Wave, kalau dibandingkan dengan budaya populer dari Jepang atau Mandarin, memang tampak lebih menonjol dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu tidak serta-merta berarti budaya Korea lebih baik, tetapi menunjukkan betapa siapnya industri mereka menghadapi perubahan zaman.
Pandemi COVID-19 pada 2020–2022 ikut mempercepat keadaan tersebut. Ketika aktivitas sosial dibatasi, penggunaan gawai dan internet meningkat tajam. Waktu yang sebelumnya digunakan untuk berbagai aktivitas di luar rumah beralih ke layar.
Platform streaming dan media sosial kemudian menjadi ruang utama bagi masyarakat, terutama anak-anak dan remaja, untuk memperoleh hiburan sekaligus mengenal budaya global. K-Pop dan K-Drama mendapat ruang yang sangat luas dalam situasi tersebut sehingga pengaruhnya semakin mudah masuk ke dalam kehidupan sehari-hari.
Di Kota Padang, misalnya, pengaruh Korean Wave dapat ditemukan dalam berbagai bentuk. Ada siswa yang mengikuti tren fesyen Korea, menggunakan produk skincare Korea, menggemari kuliner Korea, membeli merchandise idola, mengikuti komunitas penggemar, melakukan dance cover, hingga menggunakan sejumlah istilah Korea dalam percakapan sehari-hari seperti oppa, kamsahamnida, dan saranghae.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa budaya populer global sudah menjadi bagian dari ruang sosial generasi muda kita. Budaya Korea ibarat air yang terus mengalir. Ketika dibendung, ia akan mencari jalan lain. Karena itu, tantangan kita adalah menyiapkan jembatan agar arus budaya global tersebut dapat dilalui generasi muda tanpa membuat mereka kehilangan pijakan terhadap budaya sendiri.
Ketika Budaya Global Bersentuhan dengan Identitas Lokal
Pengaruh budaya luar pada dasarnya merupakan sesuatu yang sulit dihindari. Persoalannya muncul ketika kegemaran terhadap suatu budaya berkembang menjadi peniruan gaya hidup tanpa proses penyaringan. Pada sebagian remaja, pengaruh Korean Wave dapat terlihat dari pola konsumsi, gaya berpakaian, penggunaan produk kecantikan, hingga ketertarikan terhadap berbagai produk yang berkaitan dengan idola. Dalam batas tertentu, hal tersebut merupakan bagian dari dinamika budaya populer. Namun, ketika konsumsi dilakukan secara berlebihan dan mulai mengarah pada perilaku konsumtif, pendidikan perlu hadir untuk memberikan pemahaman dan pendampingan.
Hal yang sama perlu diperhatikan dalam penggunaan waktu. Menonton drama Korea atau mengikuti perkembangan idola tentu bukan persoalan selama dilakukan secara wajar. Yang menjadi masalah ketika aktivitas tersebut mulai mengambil porsi yang terlalu besar sehingga waktu belajar, ibadah, istirahat, interaksi dengan keluarga, dan kegiatan sosial menjadi terganggu. Fanatisme di media sosial juga perlu mendapat perhatian. Komunitas penggemar dapat menjadi ruang kreativitas dan pertemanan yang positif, tetapi tetap perlu disertai kemampuan mengendalikan diri dan memahami batas-batas yang sehat dalam menggunakan media digital.
Bahasa juga menjadi bagian yang tidak boleh luput dari perhatian. Penggunaan istilah Korea seperti oppa, kamsahamnida, dan saranghae dapat dipahami sebagai bentuk ekspresi dalam komunitas penggemar. Namun, pada saat yang sama, kita perlu memastikan bahwa generasi muda tetap memiliki kedekatan dengan bahasa daerahnya sendiri. Bahasa Minang merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Minangkabau.
Di dalamnya terkandung tata krama dan cara menempatkan diri ketika berkomunikasi dengan orang lain yang tercermin dalam konsep Kato Nan Ampek: kato mandaki, kato manurun, kato mandata, dan kato malereang. Ketika penggunaan bahasa ibu semakin berkurang, yang dikhawatirkan bukan sekadar hilangnya kosa kata, tetapi juga berkurangnya pemahaman terhadap nilai yang terkandung di dalamnya.
Nilai lain yang perlu diperkuat adalah rasa malu dalam pengertian positif, sopan santun, penghormatan kepada orang yang lebih tua, semangat kebersamaan, dan gotong royong. Perubahan pola interaksi akibat perkembangan media sosial membuat anak-anak semakin banyak berhubungan melalui ruang virtual.
Komunitas digital tentu dapat memberikan manfaat, tetapi hubungan sosial di keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat tetap perlu dijaga. Generasi muda perlu memiliki keseimbangan antara dunia digital dengan kehidupan nyata di sekitarnya.
Dalam konteks Sumatera Barat, pembicaraan mengenai karakter dan budaya tentu tidak dapat dilepaskan dari falsafah Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Falsafah tersebut menjadi salah satu pijakan penting dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.
Karena itu, budaya yang masuk dari luar perlu ditempatkan dalam kerangka nilai yang kita miliki. Kita dapat belajar dari Korea mengenai kedisiplinan, kerja keras, profesionalisme, kreativitas, serta keberhasilan membangun industri kreatif. Namun, gaya hidup dan nilai tertentu yang tidak sejalan dengan ajaran agama, adat, dan norma masyarakat tentu perlu disikapi secara kritis. Di sinilah pendidikan karakter dan literasi budaya menjadi semakin penting bagi generasi muda.
Dari Menolak Menjadi Menyaring
Menghadapi derasnya budaya global dengan larangan semata agaknya tidak cukup. Generasi yang sejak kecil tumbuh bersama internet akan tetap bersentuhan dengan berbagai budaya dari luar. Karena itu, pendekatan pendidikan perlu diarahkan pada kemampuan menyaring. Anak-anak perlu dibiasakan memahami isi sebuah konten, mengenali nilai yang dibawanya, kemudian menentukan sikap terhadap apa yang mereka lihat dan ikuti.
Mereka boleh mengagumi profesionalisme, kerja keras, kedisiplinan, dan kreativitas industri Korea, tetapi tetap perlu memahami bahwa tidak semua gaya hidup yang ditampilkan harus menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Pada saat yang sama, budaya Minangkabau perlu mendapatkan cara penyampaian yang lebih sesuai dengan kehidupan generasi digital. Muatan Lokal Budaya Alam Minangkabau (BAM) sudah berjalan di sekolah, tetapi masih menghadapi tantangan dalam hal metode pembelajaran.
Materi budaya yang disampaikan secara terlalu teoretis dan monoton akan sulit bersaing dengan konten budaya global yang dikemas secara visual dan interaktif. Karena itu, revitalisasi BAM perlu diarahkan pada pemanfaatan teknologi digital. Cerita adat, sejarah Minangkabau, tokoh-tokoh Minang, filosofi ABS-SBK, kesenian, kuliner, permainan tradisional, hingga silek dapat dikembangkan dalam bentuk video kreatif, animasi, podcast, aplikasi, permainan edukatif, dan konten media sosial.
Anak-anak perlu diperkenalkan kepada budaya Minangkabau dengan cara yang membuat mereka merasa dekat dan bangga. Mereka perlu melihat bahwa budaya Minang bukan sekadar materi pelajaran yang harus dihafalkan untuk ujian, tetapi sesuatu yang hidup dan dapat menjadi sumber kreativitas.
Kalau industri Korea mampu mengemas budaya mereka sedemikian rupa sehingga menarik perhatian anak muda di berbagai negara, kita pun perlu belajar bagaimana mengemas kekayaan budaya Minangkabau agar hadir secara menarik di ruang digital. Semangat Proud to be Minang perlu dibangun melalui pengalaman nyata, bukan sekadar slogan.
Karena itu, salah satu program prioritas yang perlu didorong adalah Digitalisasi dan Revitalisasi Pembelajaran Budaya Minangkabau melalui Mulok BAM Interaktif. Program ini dapat menjadi ruang untuk mempertemukan pendidikan budaya dengan teknologi digital.
Sekolah dapat mengembangkan bahan ajar yang lebih kreatif, guru memperoleh dukungan untuk menggunakan media pembelajaran yang relevan, sedangkan siswa memiliki kesempatan mengenal budaya daerah melalui media yang dekat dengan kehidupan mereka. Dengan cara seperti itu, pelestarian budaya tidak berhenti pada upaya mempertahankan tradisi, tetapi juga memberi ruang bagi tradisi untuk berkembang mengikuti zaman.
Tentu sekolah tidak dapat bekerja sendiri. Orang tua memiliki peran besar dalam mendampingi anak menggunakan gawai dan memilih tontonan. Sekolah perlu menyediakan ruang ekspresi budaya sekaligus memperkuat literasi digital. Tokoh adat dan agama dapat menghadirkan kegiatan kepemudaan melalui seni tradisi, silek, masjid, dan surau.
Pemerintah perlu memberikan dukungan berupa regulasi, anggaran, serta fasilitas yang memungkinkan budaya lokal berkembang secara kreatif. Sinergi tersebut penting agar pendidikan karakter tidak berhenti sebagai materi di ruang kelas, tetapi menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, Korean Wave tidak perlu ditempatkan sebagai sesuatu yang harus diperangi. Fenomena tersebut justru dapat menjadi bahan pembelajaran bagi kita. Korea telah menunjukkan bagaimana budaya dapat dikembangkan menjadi kekuatan industri kreatif dan dikenal masyarakat dunia.
Sumatera Barat memiliki kekayaan budaya yang tidak kalah besar. Tantangannya adalah bagaimana kekayaan tersebut dikemas, diwariskan, dan diperkenalkan kepada generasi muda dengan bahasa zaman mereka.
Kita boleh mengagumi K-Pop, menonton drama Korea, mengikuti perkembangan fesyen, atau belajar dari keberhasilan industri kreatif Korea. Namun, di tengah derasnya arus budaya global, anak-anak kita tetap perlu tahu siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan nilai apa yang menjadi pegangan hidupnya.
Menjadi modern tidak mengharuskan seseorang meninggalkan identitas. Mengenal dunia juga tidak berarti harus melupakan budaya sendiri. Justru generasi yang kuat adalah generasi yang mampu membuka diri terhadap kemajuan zaman sambil tetap berdiri teguh di atas akar budaya, agama, dan nilai yang membentuk dirinya.
Semoga generasi muda Sumatera Barat menjadi generasi yang mampu berjalan mengikuti perkembangan zaman dengan tetap membawa identitas Minangkabau dalam dirinya: generasi yang beriman, cerdas, kreatif, berbudaya, dan berakhlak mulia.[]
Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Imam Bonjol Padang, Ketua Dewan Pendidikan Sumatera Barat*)
