BUKITTINGGI, FOKUSSUMBAR.COM – Di tengah kuatnya arus tradisi Minangkabau yang menyatu dengan dinamika pendidikan modern, Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi kembali mencetuskan langkah terobosan. Mengawali rangkaian Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026, UIN Bukittinggi menegaskan komitmennya dalam mencetak akademisi berkelas dunia.
Di hadapan mahasiswa baru yang didominasi Generasi Z, Rektor UIN Bukittinggi Prof. Dr. Silfia Hanani menghentak lewat redefinisi mendasar mengenai makna mahasiswa internasional.
“Mulai hari ini, mahasiswa baru UIN Bukittinggi adalah mahasiswa internasional—mahasiswa dunia,” tegas Prof. Silfia di Gedung Student Center, Gurun Aua, Rabu (19/8/2026).
Pernyataan tersebut meruntuhkan asumsi konvensional perguruan tinggi yang kerap mengerdilkan label “internasional” sebatas kepemilikan paspor, mobilitas fisik lintas negara, atau hak istimewa sosial-ekonomi.
Bagi UIN Bukittinggi, esensi mahasiswa internasional terletak pada wawasan yang luas, daya kritis, kapasitas kreatif, serta keberanian mendobrak batas intelektual.
Sinergi Karakter Gen Z dan Filosofi Merantau
Prof. Silfia merajut sosiologi Gen Z dengan falsafah Minangkabau. Karakter dasar Gen Z yang dinamis dan haus eksplorasi dinilai selaras dengan tradisi merantau—sebuah etos kebudayaan untuk menuntut ilmu serta mencari pengalaman di luar tanah kelahiran.
“Kalian semua adalah Generasi Z. Salah satu karakternya adalah suka menjelajah. Untuk mendukung penjelajahan itu, saya dorong kalian untuk terus berkarya dan berinovasi,” ujar Prof. Silfia.
Penjelajahan ini diwujudkan secara konkret melalui program magang dan pengabdian masyarakat internasional yang telah menjangkau Malaysia hingga Thailand. Kendati demikian, penjelajahan terpenting tetaplah pengembaraan pemikiran.
Tiga Pilar Penjaga Intelektual
Agar etos “merantau” Gen Z tidak kehilangan arah di tengah arus globalisasi, UIN Bukittinggi menetapkan tiga pilar utama yakni Budaya Literasi Ilmiah: membaca bukan sekadar rutinitas, melainkan kebutuhan akademik guna melahirkan publikasi ilmiah bereputasi.
Kemudian Karakter Keagamaan yang Mendalam: sebagai PTKIN, analisis global yang tajam harus diimbangi kedalaman spiritual dan kompetensi sosial-keagamaan.
Dan Kesadaran Sejarah: tokoh besar seperti Sjech M. Djamil Djambek yang diabadikan sebagai nama kampus harus menjadi kompas moral dan intelektual.
Tantangan kini berada di pundak para mahasiswa baru. Dari kampus Gurun Aua, etos merantau siap melahirkan intelektual berwawasan global yang tetap teguh menjaga martabat almamater dan bangsa. (irwandi)
