Oleh: Teddy Chaniago*)
SUDAH sebulan ini, info yang diterima masyarakat badarai hanya itu ke itu saja. Tak ada yang benar-benar bisa membuat pikiran tenang, apalagi membuat perut kenyang.

Tapi sudahlah, apa benar pentingnya info itu. Karena belajar dari yang sudah-sudah, itu hanya pekerjaan dari tukang kipeh dan tukang angek saja.
Sebab tak mungkin tukang sate yang akan mengipas, karena mengipas daging sate yang tak tak seberapa besar saja, peluh dingin bercucuran membasahi tubuhnya.
Malanca bukan tak tau apa yang sedang terjadi, tapi menurutnya itu bukan urusannya jadi tak perlu ikut campur.
Namun sepandai-pandainya Malanca menahan diri, tapi saat ditawari teh talua tapai, lunak juga hatinya menerima gibah terkait hal yang sebenarnya tak penting untuk dibahas diceritakan itu.
Ya, begitulah Malanca. Meski imannya cukup kuat menerima godaan. Tapi saat ada kulek kulek didepannya rontok juga pertahanannya.
”Menurut ambo, masalah yang terjadi karena kita tak mau duduk bersama. Cobalah persoalan itu dibahas dengan kepala dingin, rasanya tak ada yang tak terselesaikan,” ucap Malanca bijak.
”Ini hanya main pungkang dan main bagak surang,” lanjutnya menambahkan analisanya.
Meski tak jelas benar pangkal masalahnya, namun Malanca percaya, selaku tukang kipeh dan tukang angek masih ada, akan begini juga masalah yang akan muncul. []
Penulis yang malang melintang di dunia jurnalistik tanah air, pernah mengabdi di Tempo, Jawa Post dan Monitor Depok, menulis biografi sejumlah tokoh dan penulis serial Sutan Batawi*)
