Oleh: Nurul Jannah*)
Malam ini September akan pergi.
Besok pagi kalender berganti. Jalanan kembali ramai. Anak-anak berangkat sekolah. Orang-orang mengejar pekerjaannya. Hidup berjalan lagi seperti biasa.
Namun bagi negeri ini, 30 September selalu meninggalkan ingatan yang tak mudah berlalu.
Enam puluh satu tahun lalu, ada keluarga yang malamnya berubah untuk selamanya.
Ada pintu yang diketuk keras.
Ada yang pergi tanpa sempat tahu bahwa itulah terakhir kalinya ia melihat rumah.
Ada istri yang kehilangan suami.
Ada anak yang kehilangan ayah.
Ada ibu yang menunggu suara langkah di depan pintu, tetapi yang datang justru kabar yang tak pernah ingin didengarnya.
Hari-hari setelah malam itu membawa luka yang lebih panjang. Kekerasan meluas. Banyak keluarga kehilangan orang yang mereka cintai.
Sebagian bahkan harus menjalani tahun-tahun berikutnya bersama stigma, ketakutan, dan kisah pahit yang tak berani mereka ceritakan.
Peristiwa 1965–1966 kemudian menjadi bagian sejarah yang hingga kini masih terus dibaca, diteliti, dan diperbincangkan.
Namun di antara begitu banyak perdebatan, ada satu sisi yang sering terlupakan, rumah-rumah yang kehilangan orang tercintanya.
Ada kursi yang mendadak kosong.
Ada piring yang tak lagi perlu disiapkan.
Ada nama yang tak berani lagi disebut.
Ada keluarga yang terus menunggu, meski orang yang ditunggu tak pernah pulang.
Dan ada air mata yang tidak pernah tercatat dalam buku sejarah.
**
Enam puluh satu tahun berlalu.
Zaman berubah.
Berita kini datang dalam hitungan detik. Video berpindah dari satu layar ke layar lain. Orang bisa dituduh, dihakimi, bahkan dibenci sebelum seluruh cerita diketahui.
Teknologi semakin maju, tetapi prasangka belum benar-benar pergi.
Prasangka tumbuh ketika kita lebih cepat percaya daripada mencari tahu kebenaran.
Ketika kemarahan datang lebih dahulu daripada keinginan untuk memahami.
Ketika perbedaan membuat kita lupa bahwa orang lain juga memiliki hati yang bisa terluka.
Karena itu, 30 September seharusnya bukan hanya mengajak kita melihat kembali masa lalu.
Tanggal ini seharusnya mengajak kita melihat ke dalam diri sendiri: sudahkah kita belajar dari sejarah tanpa mewariskan kebencian?
Kita tidak bisa mengubah tahun 1965.
Tidak bisa mengembalikan mereka yang telah pergi.
Tidak bisa menyambung pelukan yang terputus atau mengembalikan tahun-tahun yang direnggut keadaan.
Tetapi kita masih bisa memilih apa yang akan diwariskan kepada anak cucu.
Bukan dendam.
Bukan amarah yang dipelihara turun-temurun.
Bukan pula kebencian kepada orang-orang yang bahkan tidak pernah mereka kenal.
Wariskan ingatan.
Wariskan pelajaran.
Wariskan keberanian mencari kebenaran tanpa kehilangan belas kasih.
Sebab seorang anak yang kehilangan ayah tidak perlu ditanya berada di pihak mana agar kita memahami kesedihannya.
Seorang ibu yang kehilangan anak tidak membutuhkan label agar air matanya layak dihormati.
Dan keluarga yang menunggu orang tercintanya pulang tidak lagi memikirkan apa itu ideologi.
Mereka hanya ingin pintu itu terbuka lagi.
Mereka hanya ingin mendengar langkah yang begitu mereka kenal.
Mereka hanya ingin orang yang dicintainya kembali ke rumah.
Sesederhana itulah kehilangan. Namun bagi keluarga yang mengalaminya, luka itu bisa tinggal seumur hidup.
**
Malam ini September kembali menutup pintunya.
Biarlah kita mengenang tanpa menyalakan kebencian.
Belajar tanpa mewariskan dendam.
Mencari kebenaran tanpa kehilangan hati.
Cukuplah sejarah negeri ini menyimpan begitu banyak kehilangan. Jangan biarkan anak cucu kita menulis halaman yang serupa dengan air mata mereka sendiri.
Sebab ketika kebencian dibiarkan tumbuh, yang akhirnya terluka bukan lagi ideologi.
Yang menangis adalah ibu.
Yang kehilangan adalah anak.
Yang menunggu adalah keluarga.
Mereka hanya ingin orang yang dicintainya pulang.
Enam puluh satu tahun telah berlalu.
Kita tidak bisa mengubah apa yang terjadi pada 1965.
Maka biarlah 30 September tetap kita ingat.
Bukan untuk menentukan siapa yang harus dibenci.
Tetapi untuk mengingat betapa mahal harga yang harus dibayar ketika kebencian mengalahkan kemanusiaan.
Karena setelah keributan reda, perdebatan selesai, dan sejarah berganti halaman, yang tertinggal bukan siapa yang paling keras berteriak.
Yang tertinggal adalah kursi kosong.
Pintu yang tak lagi diketuk.
Dan keluarga yang harus menerima bahwa orang yang ditunggunya tidak akan pernah pulang.
Sejarah boleh mencatat tanggal dan peristiwanya. Tetapi keluarga menyimpan luka lebih lama.
Sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk memastikan luka yang sama tidak terulang.
Dan jika setelah begitu banyak kehilangan kita masih belum belajar, berapa banyak lagi air mata yang harus jatuh?
Jakarta, 30 September 2026
Penulis | Akademisi | Pemerhati Lingkungan






