Setitik Pesan, Selaksa Makna

Oleh : Shintalya Azis*)

Ruang keluarga sore itu terasa hangat dan akrab. Maysa duduk di antara Mamanya dan adiknya. Di atas meja tersaji kudapan ringan yang pelan tapi pasti berpindah dari piring ke mulut.

Sembari menikmati sedapnya kudapan, percakapan mengalir akrab. Kadang tentang hal kecil, kadang diselingi tawa, lalu tiba-tiba berbelok ke sesuatu yang lebih serius saat bercerita tentang pekerjaan Maysa.

Ia menceritakan tentang hari-harinya di perusahaan asing tempat ia sekarang menjalani masa magang. Tentang orang-orang yang ditemuinya, hal-hal baru yang dipelajarinya, dan tentang kegelisahan yang diam-diam ada di kepalanya mengenai apa yang akan terjadi setelah masa magang selesai.

Mama mendengarkan sambil sesekali mengangguk.
Adiknya lebih banyak menyimak sambil menikmati kudapan. Mama kemudian berkata,
“Nak, Mama rasa kamu tidak perlu terlalu melihat dirimu sebagai seseorang yang masih mencari.”

Maysa menoleh. Mama tersenyum.
“Kamu sebenarnya sudah punya perjalanan.”

Maysa mendengarkan dengan tertarik insights yang dikatakan oleh Mamanya. Memang bukan perjalanan yang panjang. Tetapi cukup untuk memberi pengalaman mengenal dunia kerja dari beberapa sisi.

Sebagai seorang magang profesional bagian rekruitmen, pengalaman di dunia retail sudah pernah ia rasakan. Di dunia perekrutan asuransi juga pernah. Dan sekarang ia berada di lingkungan perusahaan asing, dimana bertemu dengan cara kerja dan orang-orang dari latar yang mungkin berbeda dengan apa yang selama ini dikenalnya.

“Kadang kita terlalu sibuk melihat apa yang belum kita punya,” kata Mama, “sampai lupa melihat apa yang sudah kita kerjakan.”
Maysa terdiam sejenak.

Mama tidak melanjutkan dengan nasihat panjang. Ia memperlihatkan bahwa pengalaman, sekecil apa pun, akan memiliki arti ketika seseorang mampu memahami apa yang dipelajarinya dari sana. Bahkan dari pengalaman sebagai pengurus OSIS di sekolah yang selama ini hanya dianggap sebagai bagian dari masa sekolah, sebenarnya menyimpan banyak kemampuan yang bermakna tinggi.

Hal ini berkaitan tentang bagaimana bekerja bersama orang lain.
Tentang mengatur beban tanggung jawab.
Tentang menghadapi perbedaan pendapat. Tentang belajar memimpin dan dipimpin. Dan banyak lagi potensi yang berkembang di sana.

“Jadi jangan buru-buru menganggap sesuatu tidak penting hanya karena sudah lama berlalu,” ujar Mama.

Baca Juga :  Golkar Koto Tangah Bagikan Masker, Ajak Masyarakat Peduli Kesehatan Saat Udara tak Sehat

Adiknya tiba-tiba menyahut,
“Berarti pengalaman aku study banding juga penting ya Ma?”

Mama tertawa.
“Tergantung kamu belajar apa dari kegiatan tersebut.”

Mereka semua tertawa. Percakapan pun kembali ke hal-hal ringan. Namun beberapa saat kemudian, entah bagaimana pembicaraan sampai pada zaman ketika Mama masih seusia Maysa.

Ada sedikit nuansa sendu di dalam suara Mama. “Dulu tidak seperti sekarang.”
Informasi tidak datang begitu cepat.

Tidak semua orang bisa dengan mudah mengetahui apa yang sedang terjadi di tempat lain. Hanya ada surat kabar, majalah, radio, berita di televisi. Tidak semua informasi datang tepat waktu. Terkadang butuh waktu berjam-jam, berhari-hari untuk sampai. Bahkan terkadang bilangan bulan baru mendapat berita.

Untuk belajar sesuatu, sering kali seseorang harus mengalami sendiri, bertanya dari satu orang ke orang lain, atau menempuh perjalanan yang panjang. Jaringan juga tidak terbentuk dengan mudah.

Banyak keputusan akhirnya lahir setelah seseorang menjalani sendiri konsekuensinya.
“Kadang kita baru tahu sesuatu itu tidak baik setelah kita jatuh,” kata Mama.

Mama tersenyum kecil, seperti sedang mengingat beberapa bagian dari perjalanan hidupnya sendiri.
“Ada juga yang dari jauh kelihatannya bagus sekali. Begitu didekati, ternyata di depannya ada jurang.”

Maysa mendengarkan dengan seksama saat Mama menceritakan betapa berbedanya kesempatan yang dimiliki generasi sekarang.

Hari ini, dunia begitu terbuka. Seseorang bisa membaca pengalaman orang lain dari belahan dunia yang berbeda. Bisa belajar dari buku, tulisan, video, percakapan, maupun berbagai sumber yang tersedia di internet. Dan itu semuanya tidak harus dialami sendiri.

“Gunakan kesempatan itu,” kata Mama.
“Bukan supaya kamu tahu semuanya. Tapi supaya sebelum mengambil keputusan, kamu punya lebih banyak bahan untuk berpikir.”

Maysa mengangguk.
Ada begitu banyak hal yang bisa dipelajari tanpa harus menunggu harus mengalami sendiri.

Mama lalu menatap kedua anaknya.
“Makanya kalian sekarang jangan malas belajar.”
Adiknya terkekeh sambil menyeruput es tehnya. “Aduh, belajar terus, Ma?”

“Belajar itu bukan cuma buka buku,” jawab Mama.
Kali ini mereka semua tersenyum. Mengangguk setuju.
Belajar bisa berarti membaca.
Bisa berarti mendengarkan.
Bisa berarti memperhatikan orang lain.
Bisa berarti berani bertanya. Dan bisa juga berarti melihat dunia lebih luas dari apa yang ada di depan mata.

Baca Juga :  Satgas Yuridis PTSL Bergerak, Pastikan Data Pertanahan Akurat dan Valid

Semakin luas seseorang melihat dunia, semakin banyak ide yang bisa dibayangkan dan dikembangkan. Termasuk merencanakan hal-hal baik yang akan dilakukan.

Inilah yang Mamanya lakukan agar Maysa bisa menentukan langkah menyulam masa depannya. Maysaa sekarang berkesempatan untuk membuka pintu-pintu kecil yang mungkin suatu hari mengarah ke tempat yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Yang penting,” Mama melanjutkan, “kalau ada yang sedang kamu pikirkan, jangan takut untuk bercerita.”
Maysa tersenyum.
Mama menyebut satu per satu. Bisa cerita dengan Papa. Bisa dengan Mama. Dengan kakak, dan dengan adik.

Bukan karena keluarga selalu memiliki jawaban yang benar. Tetapi karena kadang-kadang seseorang membutuhkan orang lain untuk membantunya melihat sesuatu dari sudut yang berbeda. Dan keluarga tidak akan mengkhianati.

Ada keputusan yang terasa rumit ketika dipikirkan sendirian, tetapi menjadi lebih jernih setelah dibicarakan. Ada pula keputusan yang akhirnya tetap harus dibuat sendiri, meskipun sudah mendengarkan banyak pendapat.

“Itu bagian dari menjadi dewasa,” kata Mama.
“Mendengar banyak suara, lalu belajar menemukan suara hatimu sendiri.”

Ruangan mendadak hening. Maysa memandang ke arah piring yang tadinya penuh kudapan di atas meja di depannya.

Ada sesuatu yang sedang ia pikirkan. Yang tampaknya selama ini menjadi pertimbangannya.
Lalu Mama berkata,
“Dan satu lagi. Jangan takut punya mimpi.”

Kali ini suara Mama lebih lembut.
“Bermimpilah sebelum mimpi itu dilarang oleh pemerintah eh…bukan, oleh keadaan.”
Maysa tersenyum mendengar guyonan mama itu.

“Mama percaya, mimpi seseorang tidak harus selalu sama sepanjang hidupnya.
Mimpi bisa berubah setelah membaca sesuatu, setelah tukar pikiran. Dan bahkan bisa berubah setelah melihat dunia dari perspektif yang berbeda.

Karena itulah, Mama mendorong untuk banyak membaca, menonton dan mendengar hal-hal yang menginspirasi.

“Biar mimpimu punya ruang untuk tumbuh.”
Mungkin hari ini ingin sesuatu yang sederhana.
Besok, setelah mengetahui dunia lebih luas, mungkin menginginkan sesuatu yang berbeda.

Tidak apa-apa. Mimpi boleh dimodifikasi.
Yang penting jangan berhenti berharap dan jangan berhenti berusaha.

Baca Juga :  Pimpin Apel, Wabup Yulian Efi Tekankan Kesiapan Pilwana dan Percepatan APBD Perubahan

Sore semakin beranjak.
Kudapan di atas meja tinggal beberapa.
Percakapan yang semula terasa ringan ternyata telah membawa mereka cukup jauh. Mulai dari pekerjaan, ke pengalaman, ke zaman yang berbeda, lalu ke mimpi dan masa depan.

Namun Mama tahu, semua pembicaraan itu pada akhirnya tetap harus dikembalikan kepada satu hal yang lebih besar daripada rencana manusia. Kepada Allah SWT.

“Kita boleh punya banyak rencana,” katanya.
“Boleh punya mimpi yang tinggi. Boleh berusaha sekuat tenaga.”
“Tapi jangan lupa berdoa.”

Tidak semua yang direncanakan manusia akan menjadi jalan yang terbaik baginya.
Ada kalanya pintu yang sangat diinginkan tidak terbuka.

Ada kalanya justru pintu yang tidak pernah terpikirkan menjadi jalan menuju sesuatu yang jauh lebih baik.
Tugas manusia adalah berusaha sebaik-baiknya, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Maysa mendengar sembari mengangguk pelan. Tidak ada jawaban pasti tentang apa yang akan terjadi setelah masa magangnya. Tetapi mungkin memang bukan jawaban itu yang sedang dicari.

Ia membutuhkan dorongan semangat untuk berani melihat dirinya dengan lebih jernih. Satu keyakinan bahwa ia tidak sedang berjalan sendirian.

Di ruang keluarga yang sederhana itu, bersama Mama dan adiknya, Maysa mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sebuah nasihat.

Ia mendapatkan ruang untuk berpikir.
Ruang untuk bermimpi.
Ruang untuk bertanya.
Dan sebuah keluarga yang selalu siap menjadi tempatnya pulang.

Sore berlalu seperti sore-sore sebelumnya. Suatu saat kelak, ketika Maysa sudah berada jauh di depan dalam perjalanan hidupnya, ia akan teringat pada percakapan sederhana itu.

Percakapan sambil menyantap kudapan lezat. Percakapan santai yang mungkin hanya terasa seperti setitik pesan, namun ternyata menyimpan selaksa makna.(*)

Jakarta, 22 September 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *