Oleh : Drs. Tarma Sartima, M.Si., Ph.D. *)
DI tengah dunia yang semakin riuh, diam seringkali disalahpahami. Diam dianggap kelemahan, ketidakberanian, bahkan ketidakpedulian. Padahal, dalam banyak hal, diam justru menyimpan makna yang lebih dalam daripada kata-kata.
Dalam mitologi Jepang, Kuebiko –sosok orang-orangan sawah yang tak bergerak namun mengetahui segalanya — menjadi simbol kebijaksanaan yang lahir dari keheningan.
Kuebiko tidak berbicara, tetapi ia menyaksikan. Kuebiko tidak bergerak, tetapi memahami. Dalam diamnya, kuebiko menjadi pengamat yang jujur — tidak terjebak dalam kepentingan, tidak terseret arus kebisingan.
Jika kita menoleh ke realitas kampus dan birokrasi hari ini, sosok Kuebiko terasa semakin relevan. Kita hidup dalam ruang yang penuh suara : rapat demi rapat, diskusi tanpa henti, pernyataan yang berseliweran.
Semua orang ingin didengar, semua ingin terlihat berkontribusi. Namun di tengah itu, muncul pertanyaan mendasar, apakah semua suara benar-benar bermakna?
Seringkali, kebisingan justru menutupi substansi. Rapat menjadi ajang formalitas, diskusi berubah menjadi pengulangan, dan keputusan diambil tanpa kedalaman refleksi. Banyak yang berbicara, tetapi sedikit yang benar-benar memahami. Banyak yang hadir, tetapi tidak semua terlibat secara utuh.
Di kampus, fenomena ini tampak dalam budaya akademik yang kadang lebih sibuk dengan simbol dari pada substansi. Seminar digelar, forum dibuka, opini disampaikan — tetapi kedalaman berpikir tidak selalu menyertai.
Ada dorongan untuk selalu tampil, untuk selalu bersuara, seolah diam adalah kekosongan. Padahal, justru dalam diamlah proses berpikir menemukan ruangnya.
Di birokrasi, kebisingan itu hadir dalam bentuk lain seperti tumpukan koordinasi, rapat yang berulang, dan komunikasi yang tidak selalu efektif. Banyak energi dihabiskan untuk berbicara, tetapi tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas keputusan. Dalam kondisi seperti ini, suara menjadi banyak, tetapi arah menjadi kabur.
Kuebiko hadir sebagai pengingat, bahwa tidak semua hal harus direspons dengan suara. Ada saat di mana mendengar lebih penting daripada berbicara. Ada ruang di mana refleksi lebih bernilai daripada reaksi.
Namun, diam yang dimaksud bukanlah pasif. Kuebiko adalah diam yang sadar — diam yang menyerap, memahami, dan menimbang. Diam yang tidak tergesa untuk menilai, tetapi sabar untuk mengerti. Dalam konteks ini, diam adalah bentuk kecerdasan, bukan kekurangan.
Sayangnya, dalam budaya yang semakin menekankan ekspresi, kemampuan untuk diam justru terpinggirkan. Kita terbiasa mengukur kontribusi dari seberapa sering seseorang berbicara, bukan dari seberapa dalam ia berpikir. Akibatnya, kualitas seringkali kalah oleh kuantitas.
Lebih jauh lagi, kebisingan yang berlebihan dapat mengaburkan tanggung jawab. Ketika semua orang berbicara, tidak jelas siapa yang benar-benar memimpin arah. Ketika semua terlibat dalam percakapan, tidak semua terlibat dalam penyelesaian.
Di sinilah pentingnya menghadirkan kembali “ruh Kuebiko” dalam kehidupan kampus dan birokrasi. Bukan untuk membungkam suara, tetapi untuk menyeimbangkannya dengan kesadaran. Bahwa berbicara perlu, tetapi memahami lebih utama. Bahwa kehadiran tidak hanya diukur dari suara, tetapi dari kontribusi yang nyata.
Pada akhirnya, dunia tidak membutuhkan lebih banyak kebisingan, tetapi lebih banyak kejernihan. Dan kejernihan itu seringkali lahir dari keheningan.
Mungkin kita tidak perlu selalu menjadi yang paling lantang. Cukup menjadi seperti kuebiko, bahwa diam tetapi mengerti, diam tetapi sadar dan diam namun tetap memberi makna. Sebab di tengah kebisingan yang terus bertambah, justru mereka yang mampu diam dengan bijaklah yang paling jernih melihat arah. []
Dekan FISIPOL Universitas Ekasakti; Pemerhati Kebijakan dan Lingkungan*)




