Oleh : Dilla Daniela *)
Di sebuah desa kecil yang dikelilingi perbukitan hijau, hiduplah seorang gadis bernama Senja. Senja memiliki mata seindah mentari sore dan hati selembut embun pagi.
Ia sangat menyukai senja, waktu di mana langit memancarkan warna-warna hangat dan damai. Terlebih lagi di bulan Ramadan, senja menjadi waktu yang sangat dinanti-nanti.
Setiap sore di bulan Ramadan, Senja selalu mendaki Bukit Cahaya, bukit tertinggi di desanya. Dari sana, ia bisa menyaksikan matahari terbenam dengan pemandangan yang memukau, sembari menunggu waktu berbuka puasa.
Suatu hari, saat senja sedang menikmati senja yang indah, ia melihat seorang lelaki tua duduk di atas batu besar. Lelaki itu tampak sedih dan kesepian.
Senja berjalan perlahan mendekati Kakek tersebut. Beliau adalah Kakek Surya seorang pelukis yang dulunya terkenal dan ternama. Namun, karena suatu kejadian, ia kehilangan semangatnya untuk melukis, terlebih di bulan Ramadan yang seharusnya penuh berkah ini. Mereka pun mulai bercakap-cakap.
Kakek duduk termenung di atas batu besar. Senja menyapanya dengan suara lembut, “Assalamualaikum, Kakek. Senja ganggu ya?”
Kakek Surya tersentak kaget, lalu menoleh ke arah Senja. “Waalaikumsalam, Nak Senja. Eh, tidak mengganggu kok. Kakek cuma lagi… merenung,” jawabnya dengan suara lesu.
Senja duduk di samping Kakek Surya, menatap wajahnya yang tampak sedih. “Merenung apa, Kek? Kok kayaknya sedih gitu? Padahal kan lagi bulan Ramadan, harusnya semangat dong kek!” ujar Senja dengan semangat. Dia memang gadis yang ceria dan baik hati.
Kakek Surya menghela napas panjang. “Iya, Nak Senja. Tapi Kakek lagi kehilangan semangat melukis. Dulu, Kakek selalu semangat melukis senja Ramadan. Tapi sekarang…” jawab kakek dengan wajah lesu dan tergurat kesedihan di sana.
Senja memiringkan kepalanya, penasaran. “Sekarang kenapa, Kek? Apa kuasnya hilang? Atau catnya kering?” jawab Senja dengan wajah antusias.
Kakek Surya menggeleng lemah. Sambil tersenyum tipis melihat tingkah ceria Senja “Bukan, Nak Senja. Tapi… Kakek lupa cara melukis awan yang bagus.”
Senja mengerlingkan matanya dan tertawa kecil. “Lupa? Wah, gawat itu! Awan kan penting, Kek. Kayak gorengan ketika buka puasa, kurang lengkap kalau nggak ada!” jawab senja asal.
Kakek Surya yang tadi sedih jadi tertawa kecil mendengar jawaban Senja yang polos. “Iya, Nak Senja. Kakek jadi bingung. Awan Kakek selalu kelihatan kayak… kayak gumpalan kapas yang ketumpahan kopi.” jawab kakek.
Kemudian, dengan suara yang sedikit bergetar, Kakek Surya melanjutkan, “Sebenarnya, Nak Senja, bukan hanya lupa cara melukis awan. Tapi… Kakek juga kehilangan kepercayaan diri. Dulu, saat melukis senja Ramadan, Kakek selalu merasa damai dan bahagia.
Tapi suatu hari, saat Kakek sedang melukis, tiba-tiba datang badai petir yang sangat dahsyat. Kanvas Kakek terbawa angin, dan cat Kakek tumpah berantakan. Sejak saat itu, Kakek merasa seperti kehilangan sentuhan magis dalam melukis. Kakek takut gagal lagi, takut senja Ramadan Kakek tidak lagi indah.”
Senja mendengarkan cerita Kakek Surya dengan penuh perhatian. Ia merasa sedih melihat Kakek Surya yang kehilangan semangat. Senja pun berusaha menghibur Kakek Surya dengan menceritakan keindahan senja Ramadan yang ia lihat setiap hari.
“Kakek, badai pasti berlalu. Seperti halnya Ramadan, setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Lihatlah, senja Ramadan hari ini sangat indah, bukan? Dan Kakek, lihatlah, Kakek masih bisa melukis. Badai itu tidak mengambil bakat Kakek, hanya kepercayaan diri Kakek.
Ia juga menceritakan tentang warna-warni langit, awan yang berbentuk unik, dan perasaan damai yang ia rasakan saat menyaksikan senja, terlebih saat menunggu waktu berbuka.
Kakek Surya terdiam sejenak, lalu menatap Senja dengan mata berbinar. Ia merasa seperti mendapatkan kembali semangatnya. Ia pun mengeluarkan kuas dan kanvas dari tasnya, dan mulai melukis senja Ramadan yang dilihatnya bersama Senja.
Senja menatap Kakek Surya dengan penuh perhatian. Mari kita kembalikan kepercayaan diri itu bersama-sama.”
Kakek Surya terdiam sejenak, lalu menatap Senja dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih, Nak Senja. Kamu telah mengingatkan Kakek akan keindahan senja Ramadan, dan kekuatan untuk bangkit kembali.”
Senja tersenyum kecil sambil berkata, Coba deh, Kek, lihat awan sekarang. Bagus kan? Kayak es buah campur warna-warni!”
Kakek Surya mengikuti arah pandang Senja, menatap langit senja yang memukau. “Wah, iya ya. Bagus sekali. Tapi… kok kayaknya awannya pada rebutan warna ya? Yang merah nyolek yang kuning, yang biru nyempil di antara yang putih.”
Senja mengangguk setuju. “Nah, itu dia, Kek! Awan juga pengen eksis di bulan Ramadan. Mereka juga pengen kelihatan cantik buat menyambut waktu berbuka. Makanya, mereka pada dandan warna-warni!”
Kakek Surya tertawa terbahak-bahak, semangatnya seolah kembali. “Hahaha, Nak Senja ini ada-ada saja! Tapi benar juga, Kakek jadi semangat lagi. Ayo, kita lukis awan Ramadan yang rebutan warna ini!”
Sesaat Kakek Surya mulai menggoreskan kuasnya di atas kanvas. Lukisan Kakek Surya kembali hidup, penuh dengan warna-warni senja Ramadan yang indah. Ia pun kembali menjadi pelukis yang terkenal, dan Senja selalu menjadi inspirasinya.
Persahabatan mereka pun semakin erat, seperti senja yang selalu setia menemani malam, dan seperti berkah Ramadan yang selalu hadir di antara mereka.
Tiba-tiba terdengar suara perut keroncongan. Wah, sebentar lagi azan magrib, yuk Kek kita siap-siap untuk berbuka.” ujar Senja. Mereka berdua membuka takjil yang dibawa Senja.
Kakek Surya tersenyum melihat warna kolak yang dibawa Senja” Wah, lukisan ini juga terlihat seperti kolak ya? Warna-warni dan menggiurkan!”
Senja tersenyum, menatap lukisan Kakek Surya yang semakin berwarna. “Iya, Kek. Tapi sayangnya, ini cuma lukisan. Bukan kolak beneran. Nih yang beneran, walaupun satu bungkus yuk kita makan berdua.” Ujar senja dengan senyum termanisnya.
Ketika adzan maghrib berkumandang, mereka pun berbuka puasa bersama dengan hidangan sederhana yang dibawa Senja. Mereka bersyukur atas nikmat Ramadan dan keindahan senja yang telah mereka saksikan bersama. []
Biodata Penulis : Dilla Daniela adalah seorang guru Bahasa dan Sastra Indonesia. Ia berasal dari Bukittinggi, Sumatera Barat. Selain mengajar, ia juga aktif menulis karya inspiratif. Tulisan-tulisannya banyak mengangkat tema pendidikan, karakter, dan budaya. Ia percaya bahwa menulis adalah cara menyampaikan nilai kebaikan. Pengalaman hidup dan dunia pendidikan menjadi sumber inspirasinya. Dilla menyukai gaya bahasa yang ringan dan dekat dengan generasi muda. Ia ingin menghadirkan bacaan yang tidak hanya menarik, tetapi juga bermakna. Melalui karyanya, ia berharap dapat menginspirasi anak-anak Indonesia. Baginya, menulis adalah ladang amal yang penuh manfaat. *)




