Bonus Rp50 Juta dan Tekad Besar, Mentawai Tak Mau Lagi Jadi Pelengkap

Bupati Kepulauan Mentawai, Rinto Wardana, Ketua KONI Sumbar, Hamdanus, Wakil Ketua Revdi Iwan Syahputra saat jamuan makan malam di rumah dinas bupati. (Foto KONI Sumbar)

Kamis malam, 30 April 2026, berjalan santai. Obrolan mengalir ringan di rumah dinas bupati. Tawa sesekali pecah.

Tapi di balik suasana hangat itu, lahir satu pernyataan yang langsung mengubah arah cerita olahraga Mentawai.

Bupati Kepulauan Mentawai, Rinto Wardana, tanpa banyak basa-basi, melontarkan komitmen yang tegas: bonus Rp50 juta untuk setiap atlet Mentawai yang meraih medali emas di Pekan Olahraga Provinsi Sumatera Barat 2026.

Di meja yang sama, duduk Ketua Umum KONI Sumatera Barat, Hamdanus. Ia mendengar langsung pernyataan itu.

Bukan sekadar janji seremonial, tapi sinyal bahwa Mentawai sedang bersiap keluar dari peran lama, bukan lagi pelengkap.

“Mentawai harus berprestasi, bukan sekadar berpartisipasi,” kata Rinto, singkat, tapi mengena.

Kalimat itu seperti pemantik. Di daerah kepulauan yang selama ini identik dengan keterbatasan akses dan fasilitas, mimpi besar sering kali terdengar terlalu jauh.

Tapi malam itu berbeda. Target tidak lagi dibisikkan pelan-pelan. Tapi diucapkan lantang.

Bonus Rp50 juta mungkin terlihat sebagai angka. Tapi bagi atlet, itu adalah pengakuan. Bagi pelatih, itu energi baru.

Dan bagi daerah, itu pernyataan: Mentawai serius.

Di sisi lain, mesin organisasi juga mulai dipanaskan. KONI Kepulauan Mentawai kini dipimpin wajah baru, Ali Nurdin.

Tidak menunggu lama, ia langsung bergerak. Memetakan atlet, menyusun program latihan, hingga merancang strategi menuju Porprov.

“Target kami jelas. Porprov 2026 jadi panggung pembuktian,” ujarnya.

Langkah ini bukan tanpa tantangan. Mentawai bukan daerah dengan fasilitas olahraga lengkap.

Transportasi antar pulau saja sudah menjadi perjuangan tersendiri. Tapi justru dari situlah tekad itu tumbuh.

Hamdanus melihatnya sebagai sesuatu yang berbeda. Ada keseriusan yang jarang terlihat sebelumnya.

“Kalau konsisten, Mentawai bisa jadi kejutan,” kata Hamdanus.

Dan mungkin, di situlah letak ceritanya. Bukan tentang siapa yang paling siap hari ini, tapi siapa yang paling berani berubah.

Porprov 2026 masih beberapa bulan lagi. Tapi bagi Mentawai, pertandingan sudah dimulai sejak sekarang.

Di ruang-ruang latihan, di rapat-rapat kecil, bahkan dari meja makan sederhana yang melahirkan tekad besar.

“Ini soal harga diri,” kata Rinto.

Kalimat penutup itu tidak terdengar seperti slogan. Lebih seperti pengingat, bahwa di balik setiap medali nanti, ada perjalanan panjang yang dimulai dari keyakinan.

Dan Mentawai, tampaknya, sudah mengambil langkah pertamanya. (hendri parjiga)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *