LUBUK SIKAPING,FOKUSSUMBAR.COM – Satu tahun perjalanan Program Unggulan (Progul) “Pasaman Bangkit” menjadi momentum penting bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasaman untuk memperkuat arah pembangunan daerah yang lebih terukur, responsif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Melalui rangkaian evaluasi capaian dan konferensi pers Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang berlangsung sejak 18 hingga 21 Mei 2026 di Media Center Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Pasaman, masing-masing OPD menegaskan komitmennya menghadirkan tata kelola pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan berdampak langsung bagi rakyat.
Bupati Pasaman, Welly Suhery, menegaskan bahwa evaluasi program unggulan tidak lagi sekadar berorientasi pada laporan administratif maupun presentasi capaian semata. Menurutnya, seluruh program pembangunan harus diwujudkan melalui kerja nyata yang manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
Penegasan itu disampaikan Welly saat konferensi pers capaian satu tahun Program Unggulan “Pasaman Bangkit” di Ruang Balerong Pusako Anak Nagari, Rumah Dinas Bupati Pasaman, Senin (25/5/2026).
Didampingi Wakil Bupati Pasaman H. Parulian, Welly menekankan bahwa pembangunan daerah tidak boleh berhenti pada slogan, seremoni, maupun rutinitas birokrasi tahunan. Pemerintah daerah, katanya, harus memastikan seluruh kebijakan dan program benar-benar memberi dampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Menurut Welly, sebagian besar program unggulan telah menyentuh kebutuhan dasar masyarakat Pasaman, mulai dari program berobat dan ambulans gratis, bantuan pendidikan, hingga seragam sekolah gratis.
Di sektor kesejahteraan sosial dan ekonomi, program rehabilitasi rumah tidak layak huni (RTLH) serta pemutakhiran data Program Keluarga Harapan (PKH) yang berkaitan langsung dengan perlindungan sosial dan pengurangan beban keluarga miskin juga dinilai berjalan sesuai arah kebijakan.
Sementara itu, program bajak gratis dan pengawalan kuota pupuk yang menyasar sektor pertanian sebagai tulang punggung ekonomi masyarakat Pasaman terus dipercepat pelaksanaannya. Menurut Welly, langkah tersebut penting untuk menopang ketahanan pangan daerah.
Program penciptaan 1.000 lapangan kerja dan Pusat Kreativitas Anak Nagari juga dinilai relevan dalam menjawab persoalan pengangguran serta meningkatkan produktivitas generasi muda.
Selain itu, Gerakan Nagari Bangkit dan Nagari Tangguh Bencana menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya dimaknai sebagai pembangunan fisik, tetapi juga penguatan karakter, solidaritas sosial, dan kesiapsiagaan masyarakat.
“Pasaman Bangkit bukan sekadar jargon. Kita ingin setiap rupiah anggaran benar-benar melahirkan perubahan. Harus ada ukuran yang jelas, capaian nyata, dan manfaat yang dirasakan masyarakat,” tegas Welly Suhery di hadapan jajaran OPD.
Bagi duet kepemimpinan Welly–Parulian, forum evaluasi tahunan tersebut juga menjadi bagian dari pertanggungjawaban moral pemerintah kepada publik. Karena itu, evaluasi program dilaksanakan secara terbuka di hadapan media dan dipublikasikan melalui saluran resmi pemerintah daerah agar masyarakat dapat mengetahui secara langsung perkembangan capaian pembangunan.
Langkah tersebut dinilai sebagai upaya membangun budaya pemerintahan yang transparan sekaligus menjadi instrumen pengujian efektivitas pelaksanaan Program Unggulan “Pasaman Bangkit” berdasarkan indikator evaluasi yang terukur dan menyeluruh.
Semangat itulah yang kini terus didorong kepada seluruh OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pasaman, yakni menghadirkan birokrasi yang lebih responsif, produktif, tangguh, dan berpihak kepada kepentingan rakyat demi mewujudkan Pasaman yang maju, berkarakter, dan berkelanjutan.
Fokus pembangunan daerah pun diarahkan pada hasil nyata yang dapat dirasakan langsung masyarakat, mulai dari sektor pendidikan, kesehatan, infrastruktur, ekonomi kerakyatan, hingga peningkatan kualitas pelayanan publik.
Sejak resmi diluncurkan pada 30 Mei 2025, fondasi kebijakan “Pasaman Bangkit” dinilai mulai menunjukkan hasil positif. Pemerintah Kabupaten Pasaman menilai arah pembangunan daerah saat ini telah berada di jalur yang tepat atau on the track.
Setahun berjalan, pemerintahan dibawah kepemimpinan Bupati-Wakil Bupati, Welly Suhery-H. Parulian berbagai indikator makro daerah menunjukkan tren menggembirakan. Indikator itu disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) kabupaten Pasaman Nita Andriani.
“Kami melihat capaian pembangunan Kabupaten Pasaman selama satu tahun terakhir menunjukkan arah yang positif dan memberikan optimisme bagi masyarakat.” Ujar Nita Andriani.
Dikatakan Nita Andriani, Penurunan angka kemiskinan menjadi 6,02 persen, menurunnya ketimpangan ekonomi yang tercermin dari Koefisien Gini sebesar 0,207, serta meningkatnya IPM dari 70,61 menjadi 71,57 menunjukkan bahwa program pembangunan pemerintah daerah telah berada pada jalur yang tepat (on the track). Ujarnya.
Nita Andriani juga menyampaikan, BPS sebagai lembaga penyedia data statistik dan pembina Sistem Satu Data Indonesia (SDI), mengapresiasi komitmen Pemerintah Kabupaten Pasaman dalam menjadikan data sebagai dasar perencanaan dan evaluasi pembangunan.
Nita mengapresiasi, Pembangunan yang berkualitas tentu harus didukung oleh data yang akurat, mutakhir, terpadu, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ia juga berharap Ke depan, kami minta sinergi BPS dengan seluruh OPD semakin kuat, khususnya dalam meningkatkan kualitas tata kelola data sektoral. Dengan SDI yang semakin baik, proses perencanaan, penganggaran, monitoring, dan evaluasi pembangunan akan semakin tepat sasaran dan efektif. Jelasnya.
Kami juga berharap capaian positif ini terus ditingkatkan melalui penguatan sektor unggulan daerah, pemberdayaan UMKM, peningkatan investasi dan lapangan kerja, serta pengembangan potensi lokal guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia perlu diperkuat melalui pendidikan, kesehatan, dan peningkatan keterampilan masyarakat, disertai pemerataan pembangunan infrastruktur dan layanan dasar untuk mengurangi kesenjangan antarwilayah maupun kelompok masyarakat.
Pihaknya di BPS siap mendukung melalui penyediaan data statistik yang berkualitas dan pembinaan statistik sektoral demi terwujudnya Kabupaten Pasaman yang maju, sejahtera, inklusif, dan berkelanjutan. Jelas Nita.
Sesuai dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2026. Tingkat kemiskinan di Kabupaten Pasaman tercatat turun menjadi 6,02 persen dibanding tahun sebelumnya. Capaian tersebut mencerminkan meningkatnya taraf hidup masyarakat di tengah tantangan ekonomi daerah.
Tidak hanya itu, tingkat ketimpangan ekonomi juga terus menurun. Nilai Koefisien Gini Kabupaten Pasaman pada akhir 2025 berada di angka 0,207, yang menunjukkan distribusi pendapatan masyarakat semakin merata dibandingkan periode sebelumnya.
Kemajuan signifikan juga terlihat pada sektor pembangunan manusia. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Pasaman meningkat dari 70,61 menjadi 71,57 dan kini masuk kategori tinggi. Peningkatan tersebut ditopang membaiknya kualitas kesehatan, pendidikan, serta standar hidup masyarakat.
Pada sektor kesehatan, prevalensi stunting turut mengalami penurunan. Sementara itu, indeks kepuasan masyarakat terhadap pelayanan publik meningkat menjadi 87 dari sebelumnya 83 dengan predikat baik melalui aplikasi “SIKAMEK”.
Bupati Welly menyebut berbagai capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif seluruh elemen pemerintahan bersama dukungan masyarakat Pasaman.
“Penurunan kemiskinan, kenaikan IPM, dan turunnya stunting menunjukkan arah kebijakan sudah berada di jalur yang tepat,” ujarnya.
Pemerintah daerah juga mencatat, 10 program unggulan Bupati dan Wakil Bupati telah terlaksana 100 persen dengan realisasi anggaran mencapai Rp258 miliar hingga 30 April 2026.
Ke depan, Welly menegaskan seluruh program unggulan pemerintah daerah tidak boleh berhenti sebatas dokumen perencanaan ataupun kegiatan seremonial. Setiap program harus memiliki ukuran capaian yang jelas, terukur, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.
Ia mengingatkan seluruh OPD agar bekerja nyata dan berorientasi pada kepentingan masyarakat. Menurutnya, realisasi program pembangunan akan dievaluasi berdasarkan dampak konkret yang dirasakan masyarakat, bukan sekadar pelaksanaan kegiatan administratif.
Dalam program unggulan penciptaan 1.000 lapangan kerja, misalnya, Pemerintah Kabupaten Pasaman akan melakukan pengukuran capaian secara berkala melalui indikator ketenagakerjaan, seperti angka kebekerjaan, penempatan tenaga kerja, dan penurunan tingkat pengangguran terbuka.
Pada sektor pendidikan, evaluasi difokuskan pada peningkatan Indeks Partisipasi Sekolah (IPS) yang dikomparasikan dengan efektivitas program unggulan yang dijalankan. Begitu pula dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai tolok ukur pembangunan kesejahteraan masyarakat dari aspek angka harapan hidup, pendidikan, dan standar hidup layak.
Seluruh indikator tersebut akan diukur berdasarkan target pembangunan daerah. Hal serupa juga diterapkan pada sektor perekonomian dan pembangunan lainnya melalui indikator makro kesejahteraan masyarakat, termasuk rasio gini, pertumbuhan ekonomi, serta indikator pembangunan berbasis data lainnya.
Secara keseluruhan, capaian pembangunan Kabupaten Pasaman ke depan akan dievaluasi melalui indikator makro yang mencakup aspek kependudukan, kemiskinan, ketenagakerjaan, partisipasi pendidikan, IPM, kesetaraan gender, hingga sektor pertanian seperti produksi, luas panen, dan produktivitas padi.
“Untuk itu, saudara-saudara seluruh OPD, lakukan kerja nyata, bekerja secara serius dan penuh tanggung jawab demi mewujudkan cita-cita masyarakat Pasaman menuju daerah yang bangkit, berkarakter, maju, dan berkelanjutan,” tegas Welly.
Ia juga meminta agar tidak ada lagi pola penyusunan program yang bersifat rutin tanpa inovasi ataupun sekadar menyalin program tahun sebelumnya. Menurutnya, seluruh OPD harus mampu menyusun target dan capaian program secara sistematis serta berbasis indikator yang terukur.
“Data dan angka capaian tidak pernah berdusta. Jika seluruh kepala OPD bekerja serius, maka setiap tahun akan terlihat peningkatan pembangunan yang signifikan. Sebaliknya, apabila tidak ada kerja nyata, capaian akan stagnan dan target pembangunan sulit diwujudkan,” ujarnya.
Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Pasaman menyadari tantangan pembangunan ke depan masih cukup besar. Persoalan pengawasan pupuk, kendala sektor pertanian, hingga percepatan pemulihan pascabencana menjadi fokus utama pemerintah daerah pada 2026.
Menurut Welly, pengawasan pupuk membutuhkan sistem yang lebih efektif, terpadu, dan kolaboratif. Sementara percepatan pemulihan pascabencana dinilai penting agar aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat dapat kembali berjalan normal secepat mungkin.
Di tengah menurunnya Transfer ke Daerah (TKD), Pemerintah Kabupaten Pasaman juga menghadapi tantangan fiskal yang cukup berat. Namun demikian, pemerintah daerah memastikan kualitas pelayanan publik tetap menjadi prioritas utama.
“Kita akan melakukan efisiensi terhadap belanja non-prioritas serta mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) agar program-program strategis tetap dapat berjalan,” tegasnya.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Pasaman berkomitmen mempercepat pelayanan publik, memperkuat digitalisasi layanan pemerintahan, serta mengoptimalkan berbagai potensi pendapatan daerah guna menjaga keberlanjutan pembangunan.
Lebih dari sekadar evaluasi tahunan, momentum satu tahun “Pasaman Bangkit” menjadi refleksi bahwa pembangunan sejati bukan diukur dari banyaknya seremoni, melainkan dari perubahan nyata yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui duet kepemimpinan Welly Suhery dan H. Parulian, Kabupaten Pasaman diarahkan menuju tata kelola pemerintahan yang lebih terukur, responsif, transparan, dan semakin berpihak kepada kepentingan masyarakat demi mewujudkan daerah yang berkarakter, maju, dan berkelanjutan. (Zul)




