“Omiyage”

Oleh: Nurul Jannah*)

Ketika Rindu Dikemas dengan Begitu Indah dan Cantik

Ada begitu banyak cara kita mengungkapkan, “Aku mengingatmu…” Ada yang menulis sepucuk surat. Ada yang menelepon. Ada pula yang mengirim pesan pendek.

Namun di Jepang, saya menemukan cara lain yang jauh lebih menggetarkan dan membuat hati terasa hangat berhari-hari.

Namanya omiyage.

Bukan tradisi besar. Bukan pula upacara yang megah. Hanya sebungkus kue, sekotak cokelat, atau sehelai kain kecil yang dibawa pulang setelah perjalanan. Namun di balik benda-benda sederhana itu, tersimpan makna yang jauh lebih besar daripada harga yang tertera pada labelnya.

Saya mengenal omiyage jauh sebelum resmi menjadi mahasiswa doktoral di Hiroshima University. Saya telah dua kali mengunjungi Jepang sebelum akhirnya menetap sementara di sana. Pada kunjungan-kunjungan itulah saya mulai memperhatikan kebiasaan yang hampir selalu muncul setiap kali seseorang pulang dari bepergian.

Mereka membawa omiyage. Awalnya saya mengira itu hanyalah oleh-oleh. Tidak lebih. Sama seperti kebiasaan kita membeli makanan khas daerah ketika pulang dari luar kota. Namun waktu mengajarkan pemahaman yang berbeda.

Semakin lama saya hidup di Jepang, semakin saya menyadari bahwa omiyage bukanlah benda. Omiyage adalah perhatian yang diberi bentuk. Ia adalah sebuah kerinduan. Ia adalah cara sederhana untuk berkata, “Saya pergi jauh, tetapi saya tidak akan pernah melupakanmu.”

Dan semakin saya memahaminya, semakin saya merasa akrab dengan tradisi itu. Karena jauh di tanah Jawa tempat saya dibesarkan, nilai yang sama juga hidup sejak lama.

Setiap kali ada yang bepergian, pulang tanpa membawa buah tangan sering terasa kurang lengkap. Karena oleh-oleh adalah tanda bahwa di tengah perjalanan yang panjang, ada wajah-wajah yang tetap diingat. Ada hati-hati yang tetap dibawa pulang.

Ketika Perjalanan Tidak Hanya Tentang Pergi

Dalam banyak budaya, perjalanan sering dipandang sebagai urusan pribadi. Pergi. Menikmati. Pulang. Selesai.

Namun Jepang mengajarkan cara pandang yang berbeda. Di sana, perjalanan tidak hanya tentang orang yang berangkat. Perjalanan juga tentang mereka yang menunggu kepulangan.

Tentang keluarga. Tentang teman. Tentang rekan kerja. Tentang orang-orang yang tetap menjalani hari-harinya ketika kita berada di tempat lain. Mungkin itulah sebabnya hampir setiap stasiun kereta, bandara, rest area, hingga tempat wisata di Jepang memiliki pusat penjualan omiyage.

Bukan satu atau dua toko. Kadang puluhan. Rak-nya dipenuhi makanan khas daerah, cokelat, kerajinan tangan, teh, kue tradisional, hingga berbagai produk lokal yang dikemas dengan sangat indah.

Ketika pertama kali melihatnya, saya sempat heran. Mengapa begitu banyak? Mengapa begitu penting? Mengapa orang rela mengantre panjang hanya untuk membeli oleh-oleh?

Jawabannya baru saya pahami setelah tinggal lebih lama di sana. Karena yang mereka bawa sesungguhnya bukan makanan semata, melainkan perhatian.

Sebuah Kotak Omiyage di Laboratorium

Suatu pagi di laboratorium Hiroshima University, Naomi-san baru kembali dari Kyoto. Di tangannya ada sebuah kotak cantik penuh warna. Ia berjalan perlahan dari meja ke meja.

“Douzo, silakan…”

“Saya baru pulang dari Kyoto.”, bisiknya dengan mata berbinar-binar.

Satu per satu teman laboratorium mengambil isinya. Termasuk saya. Tidak ada acara khusus. Namun suasana ruangan mendadak terasa hangat, hanya karena sekotak omiyage berisi manisan khas Kyoto.

Saya lalu bertanya, “Naomi-san, mengapa repot-repot membawa ini?”

Ia tersenyum. Kemudian menjawab pelan.

“Karena saya pergi.”

Saat itu saya belum sepenuhnya memahami maknanya.

Kini saya mengerti. Omiyage bukan tentang apa yang diberikan. Omiyage adalah tentang siapa yang diingat.

Membawa Indonesia ke Jepang

Ketika akhirnya saya pulang ke Indonesia selama masa studi, saya menghadapi pertanyaan yang sama. Apa yang harus saya bawa, saat kembali ke Jepang untuk teman-teman laboratorium yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan saya.

Saya ingin membawa jejak Indonesia. Saya ingin mereka mengenal negeri yang saya cintai. Saya ingin mereka merasakan sedikit aroma rumah yang saya tinggalkan ribuan kilometer jauhnya.

Saya memilih batik. Saya memilih kopi Toraja. Saya memilih kopi Gayo dari Aceh. Saya memilih makanan ringan tradisional. Saya memilih kerajinan kecil khas Indonesia.

Saat memasukkan semuanya ke dalam koper, ada perasaan haru yang sulit dijelaskan. Seolah saya tidak sedang membawa oleh-oleh, namun membawa Indonesia.

Batik yang Membuka Percakapan

Salah satu omiyage yang paling menarik perhatian teman-teman Jepang adalah batik. Saya tidak membawa kain batik panjang. Hanya saputangan kecil dan aksesori bermotif batik.

Namun respons mereka sungguh luar biasa.

“Indah sekali.”

“Sugoi ne…, motifnya dibuat dengan tangan kah?”

“Setiap daerah berbeda?”

Pertanyaan demi pertanyaan mengalir. Percakapan pun berkembang. Dari batik kami berbicara tentang Solo. Dari Solo kami berbicara tentang Jawa. Dari Jawa kami berbicara tentang Indonesia.

Saat itulah saya menyadari bahwa sehelai kain kecil mampu menjadi duta budaya yang sangat kuat. Ternyata sebuah benda sederhana pun mampu mempertemukan dua dunia yang sebelumnya tidak saling mengenal.

Aroma Kopi yang sarat dengan Kenangan

Suatu hari saya membawa kopi Toraja dan kopi Gayo. Ketika kemasannya dibuka, aroma kopi segera memenuhi ruangan. Profesor saya menghampiri. Beliau mencium aromanya perlahan.

“Harumnya berbeda banget ya…,” sapanya hangat.

Saya pun mulai berkisah. Tentang pegunungan Toraja. Tentang petani yang bangun sebelum matahari terbit. Tentang dataran tinggi Gayo yang sejuk. Tentang keluarga-keluarga yang menggantungkan harapan hidup dari kebun kopi.

Tentang hujan. Tentang tanah. Tentang kerja keras. Saat itu saya menyadari bahwa kopi bukan hanya minuman. Ia adalah kisah panjang tentang manusia, alam, dan kehidupan.

Kampung Halaman yang Ikut Bepergian

Suatu hari Tania san, seorang mahasiswa Thailand memberikan sekotak kue tradisional.

Sambil tersenyum ia berkata, “Saya ingin kalian mencicipi kampung halaman saya.”

Kalimat itu sederhana. Namun membuat dada ini bergetar hebat, karena saya tiba-tiba memahami bahwa ketika Tania san memberikan omiyage, sesungguhnya ia tidak sedang membagikan makanan. Ia sedang membagikan rumah. Membagikan kisah masa kecilnya. Membagikan jalan-jalan yang dikenalnya sejak kecil. Membagikan suara pasar yang akrab di telinganya. Membagikan kenangan yang membentuk dirinya.

Setiap omiyage yang ia suguhkan sesungguhnya adalah kenangan dan cerita tentang kampung halamannya.

Yang Dibungkus Sesungguhnya Bukan Kue

Semakin lama saya hidup di Jepang, semakin saya memahami hakikat omiyage. Ia tidak pernah benar-benar berisi makanan. Yang dibungkus adalah perhatian. Yang dibungkus adalah rasa hormat. Yang dibungkus adalah cinta dan kerinduan.

Mungkin karena itulah masyarakat Jepang memberi perhatian luar biasa pada kemasannya.

Kotaknya indah. Pitanya tertata rapi. Warna-warni yang dipilih pun, penuh pertimbangan. Tidak berlebihan. Namun sarat penghormatan. Karena bagi mereka, cara memberi sama pentingnya dengan apa yang diberikan.

Omiyage mengajarkan pelajaran berharga dengan cara sederhana.

Bahwa perhatian tidak selalu membutuhkan kalimat panjang. Tidak harus mahal. Tidak harus mewah. Tidak harus besar.

Kadang cukup berupa sebungkus kopi. Sehelai saputangan batik. Atau sekotak kue kecil yang dibeli di sebuah stasiun kereta. Namun diberikan dengan hati yang tulus.

Karena pada akhirnya, yang membuat sebuah pemberian berharga bukanlah bendanya. Melainkan perasaan yang ikut menyertainya. Bertahun-tahun telah berlalu sejak saya meninggalkan Hiroshima.

Saya lupa banyak hal. Saya lupa harga omiyage yang pernah saya beli. Saya lupa mereknya. Saya lupa jumlahnya. Namun saya masih mengingat wajah-wajah yang tersenyum saat menerimanya.

Saya masih mengingat percakapan yang lahir karenanya. Saya masih mengingat kehangatan yang memenuhi ruangan hanya karena sebuah kotak kecil cantik berpindah tangan. Dan dari semua pelajaran yang saya bawa pulang dari Jepang, mungkin inilah yang paling membekas.

Bahwa manusia tidak selalu membutuhkan hadiah besar untuk merasa dicintai dan diperhatikan. Karena yang dibutuhkan hanyalah keyakinan bahwa dirinya masih hidup dalam ingatan orang lain. Bahwa di tengah kesibukan dunia, ada yang masih menyempatkan diri untuk mengingatnya. Mungkin itulah sebabnya omiyage tidak pernah benar-benar berisi kue. Tidak pernah benar-benar berisi cokelat.

Yang dibungkus adalah sebongkah rindu. Yang dibawa pulang adalah selaksa perhatian. Maka, yang sesungguhnya diberikan adalah cinta dan perhatian yang memilih hadir dalam bentuk paling sederhana.

Barangkali karena itulah saya tidak pernah lupa omiyage yang pernah saya terima. Dan saya pun tidak pernah lupa wajah-wajah mereka yang selalu mengingat saya.💓

Jakarta, 18 Juni 2026

Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *