Oleh: Shintalya Azis*)
Di halaman sekolah, tampak para murid berbaris rapi, mengikuti upacara bendera.
Mereka berdiri tegap sembari menggenggam sejumput asa dalam doa bersama.
Mereka tahu, negara berjanji hadir untuk mereka. Memberi gizi, pendidikan, dan masa depan yang lebih baik.
Namun nun jauh di sana,
di tempat yang jauh dari ruang kelas,
di balik meja dan berkas yang bertumpuk,
ada tangan-tangan yang mengubah amanah menjadi kesempatan,
Dana yang seharusnya mengalir ke piring anak-anak,
tersendat di lorong keserakahan.
Program yang lahir dari niat baik, kehilangan makna di tengah manipulasi dan tipu daya.
Sementara itu, guru-guru tetap berdiri di depan kelas, mengajarkan kejujuran dengan suara serak, meski mereka sendiri harus menghadapi keterbatasan yang tak kunjung usai.
Korupsi tidak hanya mencuri uang negara.
Ia mencuri kesempatan.
Mencuri kepercayaan.
Mencuri masa depan yang seharusnya tumbuh bersama harapan.
Anak-anak belajar tentang integritas,
sementara sebagian orang dewasa mempertontonkan keserakahan tanpa batas.
Gizi sekejap,
Guru tersekap.
Sekolah bermunajat,
Koruptor asyik menghujat.
Betapa dalam luka yang ditinggalkannya.
Betapa tajam kepercayaan rakyat yang terkikis olehnya.
Setiap rupiah yang dikorupsi, adalah amanah yang dikhianati.
Dan tatkala harapan dinodai,
Ia menjadi luka bagi bangsa.
Luka besar yang menciderai Indonesia yang terus berusaha tumbuh menjadi lebih baik.(*)
#33daysintegritychallenge #aksikita #lawankorupsi # biasakanyangbenar #day12 IG: @aclc.kpk
Penulis Gemar Menulis tentang Kehidupan, Budaya, dan Kisah-kisah Kecil yang Menginspirasi.*)






