Oleh: Shintalya Azis*)
“Kalau memang terhambat oleh dosenmu, mau Mama dan Papa temui? Jangan sampai dihambat seperti ini. Mama tahu, lho. Tante Sri juga datang menemui dosen anaknya supaya skripsinya cepat selesai dan bisa segera wisuda.”
Mai terkejut mendengar ucapan mamanya.
“Jangan, Ma. Biar Mai mengikuti proses yang ada saja. Tolong jangan, ya. Mai akan berusaha semaksimal mungkin. Mama dan Papa doakan saja supaya skripsi Mai cepat mendapat persetujuan dari dosen pembimbing. Masih ada waktu kok, Ma,” jawabnya tergesa-gesa.
“Tut… tut… tut…”
Sambungan telepon terputus.
Mai menghela napas lega. Pandangannya kembali tertuju pada layar laptop di hadapannya.
Sebenarnya skripsinya sudah selesai. Ia hanya sedang menunggu persetujuan kode etik penelitian sebelum bisa mendaftarkan diri untuk ujian skripsi.
Namun orang tuanya tampak semakin tidak sabar. Karena itulah mereka sampai berniat menemui dosennya.
“Lebay banget sih Mama,” gumam Mai pelan. “Memangnya aku sebegitu tidak mampu sampai harus dibantu mencari jalan pintas?”
Ia lalu kembali menatap dokumen skripsinya dan melanjutkan pekerjaannya.
Yang tidak diketahui Mai, ratusan kilometer jauhnya, sesaat setelah telepon ditutup, Papanya tersenyum lebar sambil mengacungkan kedua jempol.
Mamanya pun membentuk tanda hati ala Korea dengan ibu jari dan telunjuknya.
“Syukurlah,” kata Papa sambil tersenyum bangga. “Anak kita masih menjaga integritasnya.”
Mama mengangguk.
“Ternyata yang selama ini kita ajarkan tidak sia-sia. Dia lebih memilih proses yang benar daripada mencari jalan pintas.”
Mereka berdua saling berpandangan. Tidak ada sedikit pun niat untuk benar-benar menemui dosen Mai. Pertanyaan itu sengaja mereka lontarkan sebagai ujian kecil.
Gelar sarjana bisa diperoleh banyak orang, tetapi menggapainya dengan integritas adalah sesuatu yang harus dijaga seumur hidup.(*)
#33daysintegritychallenge #aksikita #lawankorupsi # biasakanyangbenar #day15 IG: @aclc.kpk
Penulis Gemar Menulis tentang Kehidupan, Budaya, dan Kisah-kisah Kecil yang Menginspirasi.*)
