Oleh: Idal, M.Pd.*)
Hujan baru saja reda ketika aku berdiri di beranda rumah yang mulai lapuk dimakan usia. Di hadapanku, halaman terlihat berantakan. Rumput tumbuh liar. Pot bunga yang dulu dirawat istriku kini dipenuhi ilalang. Daun-daun kering berserakan di mana-mana.
Aku memandangnya lama.
Entah mengapa, halaman itu seperti cermin yang sedang memperlihatkan wajah kehidupanku sendiri.
Baserak.
Berantakan.
Tak terurus.
Aku tersenyum pahit.
Orang Minang punya satu kalimat yang sering diucapkan orang tua dahulu.
“Dek ulah tasasak mangkonyo baserak.”
Karena tidak siap, akhirnya berantakan.
Dulu aku menganggap kalimat itu hanya petuah biasa. Sekadar nasihat yang lewat di telinga lalu hilang dibawa angin.
Kini aku tahu, kalimat itu adalah ramalan yang perlahan menjadi kenyataan dalam hidupku.
###
Sejak muda aku memiliki banyak mimpi.
Aku ingin sukses.
Aku ingin menjadi orang yang dihormati.
Aku ingin membahagiakan orang tua.
Aku ingin membangun keluarga yang tenang dan bahagia.
Aku ingin banyak hal.
Terlalu banyak.
Namun aku memiliki satu kebiasaan buruk yang diam-diam tumbuh seperti benalu.
Menunda.
Hari ini bisa dikerjakan besok.
Besok bisa dikerjakan minggu depan.
Minggu depan bisa menunggu bulan depan.
Begitulah seterusnya.
Awalnya tampak sepele.
Bahkan terasa nyaman.
Aku merasa masih memiliki banyak waktu.
Bukankah hidup masih panjang?
Bukankah usia masih muda?
Bukankah kesempatan akan selalu datang?
Aku tertawa setiap kali mendengar orang mengingatkan.
“Nanti saja.”
“Itu gampang.”
“Masih sempat.”
Kalimat-kalimat itu menjadi teman akrabku.
Tanpa kusadari, mereka juga menjadi jalan sunyi menuju kehancuranku.
###
Suatu hari ayah menatapku yang masih asyik rebahan.
“Sudah selesai urusanmu?”
“Nanti, Yah.”
Ayah mengangguk pelan.
Beberapa saat kemudian beliau berkata,
“Orang yang selalu berkata nanti, suatu saat akan bertemu hari ketika semua hal datang bersamaan.”
Aku tidak mengerti.
Atau mungkin aku tidak mau mengerti.
Aku menganggap ayah terlalu khawatir.
Padahal aku merasa baik-baik saja.
###
Tahun-tahun berlalu.
Pekerjaan semakin banyak.
Tanggung jawab semakin besar.
Usia terus bertambah.
Tetapi kebiasaanku tidak berubah.
Tugas menumpuk.
Janji terlupakan.
Target tertinggal.
Impian hanya menjadi catatan yang menguning di dalam buku.
Aku mulai merasa lelah.
Bukan karena terlalu banyak bekerja.
Melainkan karena terlalu banyak menunda.
Semakin lama kutunda, semakin berat beban yang harus kupikul.
Seperti orang yang membiarkan sampah menumpuk di halaman rumah.
Awalnya hanya satu lembar daun.
Lalu dua.
Lalu sepuluh.
Sampai akhirnya halaman berubah menjadi semak yang tak lagi dikenali.
Begitu pula hidupku.
Sedikit demi sedikit menjadi baserak.
###
Yang pertama berantakan adalah waktu.
Aku sering terlambat.
Terlambat datang.
Terlambat menyelesaikan pekerjaan.
Terlambat meminta maaf.
Terlambat bersyukur.
Aku terus berlari mengejar waktu yang sebenarnya dulu pernah menungguku.
Tetapi waktu tidak pernah mau menunggu terlalu lama.
Ia pergi.
Dan tidak pernah kembali.
###
Yang kedua berantakan adalah hubungan.
Suatu malam istriku berkata pelan,
“Abang masih ingat janji kita?”
“Janji yang mana?”
Ia tersenyum sedih.
“Itulah masalahnya.”
Aku terdiam.
Ada banyak janji yang kutunda.
Ada banyak percakapan yang kuanggap bisa dilakukan nanti.
Ada banyak pelukan yang kusimpan untuk hari esok.
Padahal tidak semua orang memiliki esok yang panjang.
Aku mulai melihat jarak yang perlahan tumbuh.
Bukan karena pertengkaran.
Tetapi karena pengabaian.
Karena kata “nanti”.
Karena merasa masih ada waktu.
###
Yang ketiga berantakan adalah mimpi.
Aku menemukan buku lama yang berisi target hidupku saat muda.
Di sana tertulis banyak rencana.
Banyak harapan.
Banyak cita-cita.
Namun sebagian besar hanya menjadi tulisan.
Aku memandang lembaran itu dengan mata yang mulai berkaca.
Bukan karena gagal.
Melainkan karena aku tidak pernah benar-benar memulai.
Betapa menyakitkan melihat mimpi mati bukan karena kekurangan kemampuan.
Tetapi karena terlalu lama ditunda.
###
Suatu malam aku duduk sendirian di musala.
Lampu redup menggantung di langit-langit.
Angin malam berembus perlahan.
Aku memandang sajadah yang terbentang.
Lalu untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku menangis.
Bukan menangis karena kehilangan.
Bukan karena kemiskinan.
Bukan pula karena kegagalan.
Aku menangis karena menyadari bahwa banyak kekacauan dalam hidupku ternyata berasal dari diriku sendiri.
Bukan dari keadaan.
Bukan dari orang lain.
Tetapi dari kebiasaan kecil yang terus kubiarkan hidup.
Menunda.
Aku teringat kata-kata ayah.
“Suatu saat semua hal akan datang bersamaan.”
Dan ternyata hari itu telah tiba.
Tagihan datang bersamaan.
Pekerjaan datang bersamaan.
Masalah datang bersamaan.
Penyesalan datang bersamaan.
Semua memenuhi ruang hidupku yang sudah sempit.
Aku merasa sesak.
Sangat sesak.
Barulah aku memahami makna petuah lama itu.
“Dek ulah tasasak mangkonyo baserak.”
Karena tidak siap, akhirnya semuanya berantakan.
###
Malam semakin larut.
Aku mengusap air mata.
Lalu berdiri.
Di luar, hujan kembali turun perlahan.
Aku melihat halaman rumah yang berserakan.
Untuk pertama kalinya, aku mengambil sapu.
Daun demi daun mulai kukumpulkan.
Rumput liar mulai kubersihkan.
Tidak banyak.
Tidak langsung sempurna.
Tetapi aku memulai.
Dan ternyata hidup juga seperti itu.
Kekacauan tidak selesai dalam satu malam.
Namun ia bisa diperbaiki dengan satu langkah kecil yang dilakukan hari ini.
Bukan besok.
Bukan minggu depan.
Bukan ketika semuanya sudah terlambat.
Tetapi sekarang.
##
Menjelang subuh, halaman rumah terlihat lebih rapi.
Aku duduk memandang langit yang mulai terang.
Ada ketenangan yang lama hilang.
Aku sadar hidup tidak selalu memberi kesempatan kedua.
Namun selama napas masih ada, selalu ada kesempatan untuk memulai kembali.
Hari itu aku berjanji kepada diriku sendiri.
Aku tidak ingin lagi hidup sebagai penumpang yang terus berkata “nanti”.
Aku ingin menjadi pejalan yang berani melangkah hari ini.
Karena ternyata hidup tidak berantakan dalam satu malam.
Ia berantakan sedikit demi sedikit karena kelalaian yang terus dipelihara.
Dan hidup juga tidak akan membaik dalam satu malam.
Ia membaik sedikit demi sedikit karena keberanian untuk memulai.
Aku tersenyum menatap matahari yang muncul dari balik awan.
Lalu berbisik pelan,
“Maafkan aku yang terlalu lama menunda.”
Angin subuh berembus lembut.
Seolah membawa pesan dari masa lalu.
Bahwa hidup memang tidak selalu mudah.
Tetapi jangan biarkan ketidaksiapan membuat semuanya menjadi baserak.
Sebab waktu yang hilang tak pernah kembali.
Dan penyesalan selalu datang paling akhir.
TAMAT
Cerpen ini mengangkat falsafah Minangkabau “Dek ulah tasasak mangkonyo baserak” sebagai refleksi mendalam tentang disiplin, tanggung jawab, dan kebiasaan menunda yang sering menjadi penyebab berbagai kekacauan dalam kehidupan.
Penulis adalah Guru SMPN 18 Padang*)
