“Ketika Sungai Berhenti Bernyanyi”

Oleh: Nurul Jannah*)

Kesunyian paling menyedihkan adalah bukan ketika manusia berhenti berbicara. Melainkan ketika alam berhenti bersuara.

Ketika burung tak lagi bernyanyi. Ketika capung tak lagi menari. Ketika gemericik sungai hanya tinggal cerita.

Dan yang paling memilukan…ketika anak-anak tumbuh tanpa pernah mengenal suara alam yang dahulu membesarkan kehidupan.

“Ayah.. kenapa sungainya tidak berbunyi lagi?”

Pertanyaan itu meluncur ringan dari bibir mungil Rhealine, gadis kecil berusia delapan tahun yang baru pertama kali diajak ayahnya pulang ke kampung halaman.

Ayahnya terdiam.

Di hadapan mereka terbentang sebuah sungai yang dahulu menjadi nadi kehidupan desa.

Airnya kini tinggal aliran tipis berwarna kecokelatan. Batu-batu besar yang dulu selalu tertutup air kini tampak telanjang. Lumpur mengering di tepian. Rumput liar tumbuh di dasar sungai yang mulai retak-retak.

Sulit dipercaya. Tiga puluh tahun lalu, sungai itu adalah jantung desa.

Di sanalah anak-anak belajar berenang. Para ibu mencuci sambil bercengkerama. Para petani mengairi sawah. Dan para kakek mengajarkan cucunya bahwa air bukan warisan manusia, melainkan titipan Allah yang wajib dijaga.

Ayah Rhealine memandang jauh. Matanya nampak berkaca-kaca.

“Di sini dulu Ayah sering menangkap ikan.”

Rhealine menoleh.

“Ikannya mana, Ayah?”

Ayahnya tersenyum getir.

“Pergi.”

“Ke mana?”

Ayah Rhealine menarik napas panjang. Sesungguhnya ia tahu jawabannya. Ikan-ikan itu sesungguhnya tidak pernah pergi. Mereka hanya kehilangan rumah.

Rhealine terus berjalan menyusuri tepian sungai.

Ia menemukan plastik, botol, dan ranting-ranting kering yang berserakan.

“Ayah…”

“Iya, sayang…?”

“Siapa yang membuat sungai jadi seperti ini?”

Ayahnya kembali terdiam. Pertanyaan itu menghantam dadanya lebih keras dari apa pun. Karena ia sangat tahu jawaban sebenarnya.

Dan jawaban itu ada pada dirinya sendiri.


Tiga puluh tahun silam, ia adalah seorang staf muda di sebuah perusahaan yang membuka kawasan hutan di hulu.

Saat rapat berlangsung, ia pernah berkata, “Pohon bisa ditanam lagi. Yang penting ekonomi bergerak.”

Ia ikut menandatangani dokumen yang mengizinkan pembukaan lahan.

Saat itu ia bangga. Ia merasa sedang membangun masa depan. Ia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari anaknya sendiri akan berdiri di tepi sungai yang telah kehilangan nyanyiannya.

Baca juga:  Menjaga Prinsip Transparansi Koperasi Desa Merah Putih

Kerusakan ternyata tidak datang seperti badai. Ia datang perlahan. Nyaris tak terdengar.

Musim hujan pertama…air mulai keruh.

Musim kedua…sawah kekurangan air.

Musim ketiga…sumur-sumur mengering.

Musim keempat…banjir datang membawa lumpur.

Musim kelima…kemarau terasa lebih panjang daripada sebelumnya.

Ketika semua itu terjadi, barulah semua saling bertanya.

“Siapa yang harus bertanggung jawab, siapa yang harus disalahkan?”

Padahal jawabannya tersebar di mana-mana. Di tunggul pohon yang membusuk. Di lereng yang gundul. Di sungai yang kehilangan nyanyian.

Dan…di hati manusia yang selalu mengira bahwa alam akan selalu memaafkan.


Di ujung desa mereka bertemu seorang lelaki tua.

Namanya Pak Samin. Usianya hampir delapan puluh tahun.

Setiap pagi ia berjalan membawa bibit pohon. Sendirian. Pelan-pelan. Menanam satu demi satu.

“Kakek…” sapa Rhealine riang.

“Kenapa Kakek menanam pohon?”

Pak Samin tersenyum.

“Mungkin kakek tidak sempat menikmati teduhnya. Karena pohon tumbuh besar memerlukan waktu…”

“Lalu untuk siapa?”

“Untuk cucu-cucu yang bahkan belum lahir.”

Ayah Rhealine menunduk. Kalimat sederhana itu terasa lebih tajam daripada seribu nasihat.

Sebelum pulang ke kota, Rhealine memungut sebutir batu dari dasar sungai. Batu itu disimpannya di meja belajar.

Di bawahnya ia menulis, “Kalau aku sudah besar, aku ingin batu ini kembali berada di dasar sungai yang jernih.”

Kalimat itu dibaca ayahnya setiap hari. Dan setiap kali membacanya, ia merasa sedang diadili oleh hati nuraninya sendiri.

Sejak hari itu hidupnya berubah. Ia mengundurkan diri dari pekerjaannya. Bukan karena membenci masa lalunya. Melainkan karena ingin memperbaikinya.

Bersama warga desa ia mulai menanam pohon di hulu. Membuka sekolah sungai. Membersihkan sampah. Menghidupkan mata air.

Mengajak anak-anak mencintai alam sebelum mengajarkan cara mengambil keuntungan darinya.

Banyak memang yang menertawakan.

“Percuma.”

“Hutan tidak akan kembali.”

“Sungai sudah mati.”

Ia hanya tersenyum. Karena ia sadar, kerusakan memang terjadi selama puluhan tahun. Maka memperbaikinya pun membutuhkan kesabaran yang sama.

Baca juga:  Wawako Suryadi Hadiri Pengukuhan Zul Elfian Umar sebagai Ketua DMI Kota Solok Masa Khidmat 2026-2031

Lima belas tahun berlalu.

Suatu pagi terdengar suara yang lama menghilang. Gemericik. Air kembali mengalir. Burung-burung kembali bersarang.

Capung menari di atas permukaan sungai. Anak-anak kembali bermain air. Seekor ikan kecil melompat. Lalu terdengar teriakan seorang bocah.

“Ayaaah… ikannya banyak!”

Pak Samin yang kini duduk di kursi roda hanya tersenyum. Air matanya jatuh perlahan.

“Bukan sungainya yang hidup kembali…” bisiknya.

“Melainkan hati manusianya.”

Sering kali kita berpikir bahwa warisan terbaik adalah rumah. Tanah. Mobil. Tabungan. Padahal semua itu suatu hari akan habis.

Namun sungai yang tetap mengalir, udara yang tetap bersih, pepohonan yang tetap berdiri, akan terus menghidupi anak cucu yang bahkan belum sempat mengenal nama kita.

Kelak, ketika usia kita tinggal kenangan, mereka mungkin tidak lagi mengingat wajah kita. Mereka tidak tahu bagaimana suara kita. Namun mereka akan berteduh di bawah pohon yang kita tanam. Meminum air yang kita jaga. Menghirup udara yang kita selamatkan.

Lalu, tanpa pernah mengenal siapa kita, mereka akan menengadahkan tangan seraya berdoa,

“Ya Allah… rahmatilah orang-orang yang dahulu memilih menjaga bumi, sehingga hari ini kami masih dapat menikmati kehidupan.”

Sebab pada akhirnya…bumi bukan warisan yang kita terima dari leluhur. Bumi adalah titipan anak cucu yang sedang kita pinjam.

Dan ketika sungai berhenti bernyanyi,sesungguhnya yang kehilangan suara bukanlah alam. Melainkan hati manusia yang lupa bahwa menjaga bumi berarti menjaga kehidupan💕💞.

Jakarta, 30 Juni 2026

Penulis adalah Dosen IPB University Bogor, aktif menulis dan literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *