Oleh : Nurul Jannah*)
Yang lama, yang setia, yang mematangkan makna
Tidak semua yang lama itu membosankan. Sebagian justru sedang bekerja diam-diam, mematangkan hidup tanpa kita sadari.
“Kok lama sekali sih, Nek? Dari tadi cuma diaduk…”
Nenek tersenyum tanpa menoleh.
“Kalau mau cepat, masak mie instan saja. Kalau mau enak, ya sabar.”
Nenek menjawab dingin, tetap dalam posisi semula, tetap mengaduk.
Kita hidup di zaman serba cepat. Serba instan. Memuja yang baru. Memuja yang cepat. Memuja yang ramai. Memuja yang terus berubah.
Tanpa terasa, kita mulai memandang yang lama dengan cara keliru. *Yang lama dianggap hambar, dianggap biasa, dianggap tak lagi menarik. Padahal yang lama tidak pernah kehilangan makna. Kita saja yang perlahan kehilangan rasa dalam melihatnya.
Seperti rendang di kuali tua yang diaduk berjam-jam tanpa jeda. Tidak ada kejutan. Tidak ada perubahan dramatis. Santan menyusut pelan. Warna menggelap perlahan. Api kecil menyala setia.
Dari luar, tampak membosankan. Tak ada perubahan nyata
“Memangnya ini berubah, Nek?”
“Berubah. Tapi pelan. Yang pelan itu yang bertahan.”
Namun di dalamnya, rasa sedang dilahirkan dengan sabar. Begitulah hidup itu bekerja.
Pernikahan yang telah berjalan lama, tak lagi penuh rayuan, tetapi kaya pengertian tanpa perlu penjelasan.
“Dulu kamu sering bilang sayang…”
“Sekarang tidak lagi ya?”
“Sekarang… kamu diam saja, aku sudah merasa nyaman.”
Persahabatan bertahun-tahun tak lagi dipenuhi basa-basi, namun selalu tahu kapan harus hadir.
“Aku belum cerita, kamu sudah datang.” tetiba Munasri, sahabat seperjuangan menyapaku kemaren pagi.
“Karena aku tahu, kamu butuh ditemani, bukan hanya ditanya.”
Pekerjaan yang digeluti lama mungkin tak lagi memacu adrenalin, tetapi menjadi tempat pulang yang menenangkan.
“Capek ya?” Shinta, teman sedivisiku bertanya suatu sore.
“Hm. Iya. Capek sekali. Tapi di sini aku sudah tahu caranya berdiri lagi.”
Semua tampak biasa karena ia telah menyatu dengan napas keseharian. Kita pun lupa untuk takjub apalagi bersyukur pada hal-hal yang setia menemani.
Orang yang setiap hari melintas di pelataran Jam Gadang sering lupa bahwa menara itu telah berdiri lebih lama dari banyak kisah hidupnya.
“Kenapa orang suka foto di sini?”
“Karena mereka belum terbiasa melihatnya setiap hari.”
Jam Gadang diam saja di sana. Ia tak bergerak. Tak berisik. Tak meminta perhatian. Namun tanpanya, orang kehilangan penanda waktu.
Begitulah. Yang sudah lama hadir, tak butuh lagi validasi. Ia cukup diam, tetapi ia menentukan arah. Sering kali nilai itu baru terasa, saat semuanya hilang.
“Kok rumah terasa sepi ya…”
“Karena yang biasanya ada, kini tidak lagi ada.”
Barulah disadari. Yang dulu dianggap biasa, ternyata penopang kewarasan.
Rendang mengajarkan satu pelajaran yang jarang kita akui. Rasa terbaik lahir bukan dari yang cepat, melainkan dari kesetiaan pada proses panjang.
“Jadi rahasianya apa, Nek?”
“Bukan pada bumbunya. Tapi, pada kesabarannya.”
Dan ironis, sebuah kesetiaan terkadang kita salah artikan sebagai kebosanan.
Padahal, fase ketika hidup terasa datar sering kali adalah fase ketika hidup tak lagi perlu membuktikan apa-apa.
“Kenapa sekarang terasa tenang dan nyaman sekali ya?”
“Karena kamu sudah tidak sibuk untuk membuktikan apapun. Kamu tidak sibuk terlihat mengesankan.”
Yang lama tidak membosankan. Yang lama, mengakar.
Dan sesuatu yang telah mengakar, tidak mudah tumbang hanya karena angin sesaat.
Seperti rendang yang menghitam di dasar kuali, ia tidak mencolok, tidak riuh, namun rasanya tinggal lama di hati siapa pun yang mencicipi.
“Mau cepat atau mau enak?” tanya Nenek pelan.
Aku tersenyum.
“Sekarang aku paham, Nek. Aku pilih yang enak.”
Maka jangan tergesa meninggalkan yang sudah lama hanya karena terlihat biasa. Bisa jadi di situlah kedalaman hidup sedang tumbuh. Bisa jadi di situlah makna sedang dimatangkan.
Pada akhirnya, hidup tidak dikenang dari seberapa cepat kita berlari, melainkan dari seberapa dalam kita bertahan dalam proses yang panjang.❤🔥❤️🌹
Jakarta, 1 Februari 2026
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)




