Kamang Chrome dan Santri Kanzul Ulum: Kisah di Balik Derap Kuda dan Ayat Suci

Ketua KONI Sumbar, Hamdanus menunggangi Kamang Crome di Pondok Pesantren Kanzul Ulum, Pasir Kandang, Minggu (26//4/2026)

DI bibir pantai Pasir Kandang, Koto Tangah, angin laut berembus pelan menyapa halaman Pondok Pesantren Kanzul Ulum. Jaraknya hanya sepelemparan batu dari ombak.

Di tempat ini, suara lantunan ayat suci Al Quran berpadu dengan derap langkah kuda. Sebuah kombinasi yang mungkin jarang ditemui di pesantren pada umumnya.

Kanzul Ulum bukan sekadar tempat menimba ilmu agama. Pesantren ini membina dua jalur pendidikan: kelas alim dan tahfiz. Santri kelas alim, yang umumnya lulusan SD, menjalani pendidikan enam tahun dengan mendalami berbagai kitab klasik.

Sementara itu, santri tahfiz fokus menghafal Al-Qur’an hingga mencapai target wisuda hafalan. Meski berbeda jalur, keduanya punya satu kesamaan: Al Qur an tetap jadi napas utama. Santri alim ditargetkan minimal hafal dua juz per tahun, sedangkan santri tahfiz digenjot hingga lima juz.

Namun kehidupan di Kanzul Ulum tak berhenti di ruang belajar dan mushala/ masjid. Di halaman terbuka, para santri terlihat akrab dengan kuda. Mereka belajar menunggang, menjaga, hingga memahami karakter hewan yang satu ini.

Bagi pengelola pesantren, ini bukan sekadar keterampilan tambahan, tapi bagian dari sunnah yang ingin dihidupkan.

Salah seorang pengelola pesantren, H. Rizki, menyebut Kanzul Ulum tengah melangkah lebih jauh: bukan hanya latihan, tapi juga menuju kemandirian dalam pembinaan dan peternakan kuda di Kota Padang.

Dari sini pula diharapkan lahir atlet-atlet memanah berkuda, olahraga yang kini mulai dilirik dan punya nilai historis dalam tradisi Islam.

Keseriusan itu sudah mulai terlihat. Saat ini, Kanzul Ulum telah memiliki empat atlet berkuda memanah yang terus ditempa secara intensif.

Hebatnya, para santri ini tidak berlatih sembarangan. Mereka mendapat bimbingan langsung dari atlet nasional berprestasi dunia, Azral Mardin. Sentuhan pelatih berkelas ini menjadi modal besar bagi Kanzul Ulum untuk menembus level kompetisi yang lebih tinggi.

Dukungan juga datang dari Ketua KONI Sumatera Barat, Hamdanus yang datang berkunjung di sela-sela seleksi atlet berkuda memanah Kota Padang untuk Porprov, Minggu (26/4/2026). Ia menilai langkah Kanzul Ulum sebagai terobosan yang patut diapresiasi.

“Ini sangat luar biasa. Pesantren tidak hanya fokus pada pendidikan agama, tapi juga mampu melahirkan atlet dengan karakter kuat. Kombinasi hafiz Al Quran dan atlet berkuda memanah adalah potensi besar bagi Sumatera Barat,” ujar pria yang sering juga disapa Buya itu.

Hamdanus juga melihat pembinaan yang dilakukan Kanzul Ulum sejalan dengan upaya peningkatan prestasi olahraga daerah.

“Kita di KONI tentu mendukung penuh. Apalagi mereka sudah dibina oleh pelatih berkelas internasional. Ini bisa menjadi embrio lahirnya atlet berprestasi yang mengharumkan nama Sumbar di tingkat nasional bahkan internasional,” tambahnya.

Langkah itu bukan sekadar wacana. Saat ini, pesantren sudah memiliki belasan kuda dan terus mengembangkan sistem pembibitan. Biasanya, proses pengawinan dilakukan hingga ke Bukittinggi. Namun kini, Kanzul Ulum mulai menunjukkan kemandiriannya sendiri.

Salah satu cerita paling menarik datang dari seekor kuda jantan bernama Kamang Chrome. Bukan kuda biasa, Kamang Chrome adalah legenda pacuan kuda kebanggaan Sumatera Barat.

Namanya pernah berkibar di berbagai ajang nasional, termasuk Kejuaraan Nasional Pacuan Kuda di Salatiga. Ia dikenal sebagai kuda tangguh dengan segudang prestasi.

Kehadiran Kamang Chrome di Kanzul Ulum pada Desember 2025 melalui program wakaf bermanfaat menjadi titik balik yang menarik. Dengan postur tinggi mencapai 167 cm, ia langsung mencuri perhatian. Namun yang lebih mengejutkan bukan hanya reputasinya, melainkan “kisah jodohnya”.

Konon, saat masih berada di tempat sebelumnya, Kamang Chrome kesulitan menghamili kuda betina. Tapi di lingkungan pesantren ini, cerita berbeda terjadi.

Setelah dikawinkan, dua kuda betina dinyatakan bunting. Seolah menemukan kecocokan baru, Kamang Chrome kini membuka harapan lahirnya generasi “Kamang Chrome Junior”.

Bagi Kanzul Ulum, ini bukan sekadar keberhasilan peternakan. Tapi adalah simbol bahwa pesantren bisa mandiri, bahkan di sektor yang tak biasa. Dari hafalan ayat suci hingga derap kuda di tepi pantai, semuanya berjalan beriringan.

Di tengah riuh ombak Pasir Kandang, Kanzul Ulum sedang menulis kisahnya sendiri—tentang santri yang tak hanya kuat hafalan, tapi juga tangguh di pelana kuda. (hendri parjiga)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *