Membela Nurani, Menolak Penyuapan

Oleh: Shintalya Azis*)

Pejabat dari instansi pusat dijadwalkan datang untuk melakukan pemeriksaan rutin.

Sejak jauh hari, berbagai persiapan dilakukan dengan cermat. Berkas administrasi ditata rapi, area produksi diperiksa kembali, dan seluruh tim memastikan setiap proses berjalan sesuai prosedur.

Tak ada kegelisahan berlebihan karena selama ini pekerjaan dijalankan secara transparan, mengikuti tata kelola dan aturan yang berlaku. Dan benar saja, selama pemeriksaan berlangsung, tidak ditemukan penyimpangan berarti.

Semua berjalan lancar.
Namun, persoalan justru muncul ketika pemeriksaan selesai.

Di ruang kerja yang mulai lengang, Ranti, staf humas, dipanggil oleh General Manager.

“Siapkan souvenir untuk rombongan,” ujarnya singkat. “Travel bag standar seperti biasa.”

Permintaan itu terdengar biasa. Namun kalimat berikutnya membuat dada Ranti terasa sesak.

“Masukkan juga amplop berisi uang ke dalam tasnya. Anggap saja tanda terima kasih. Pakai uang petty cash,” katanya sambil menyodorkan formulir pengambilan dana yang harus ditandatangani Ranti.

Ranti terdiam.

Ia tahu persis bahwa uang tersebut berasal dari kas untuk kebutuhan promosi produk, bukan untuk kepentingan lain di luar peruntukannya.

Dan ia juga memahami benar makna di balik instruksi itu. Bukan lagi sekadar cenderamata sebagai bentuk penghormatan atas kunjungan. Baginya jelas ini keliru dan tidak sesuai dengan prinsip perusahaan yang mengedepankan prinsip compliance.

“Menurut saya ini tidak benar,” ucap Ranti pelan saat berdiskusi dengan atasannya langsung, Anton.

“Kalau semua pemeriksaan sudah berjalan baik dan tidak ada masalah, mengapa harus ada amplop?”

Anton terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.

“Saya juga kurang setuju,” katanya. “Kita jangan lakukan yang salah.”

Percakapan itu memberi sedikit keberanian pada Ranti. Mereka sepakat, cenderamata tetap diberikan sebagai bentuk penghormatan, tetapi tanpa amplop berisi uang.

Hari keberangkatan rombongan pun tiba.
Cenderamata berupa travel bag yang diletakkan di dalam kotak mika transparan, dihias pita sederhana namun rapi, diserahkan dalam acara penutupan sebagaimana mestinya.
Tak ada yang tampak janggal.

Ranti sempat merasa lega, meski di dalam hati masih tersisa kecemasan tentang kemungkinan reaksi atas keputusan tersebut.

Beberapa hari kemudian, kegelisahan itu menjadi nyata.
General Manager memanggil Ranti dan Anton dengan wajah tegang.

“Kenapa tidak ada amplop?” tanyanya dengan nada tinggi.

“Mereka menghubungi saya. Mereka marah.”

Ranti terdiam. Dadanya terasa sesak. Ada kecewa yang sulit dijelaskan, seolah dirinya ditempatkan sebagai pihak yang bersalah karena memilih untuk tidak ikut melakukan sesuatu yang menurut nuraninya keliru.

Namun yang lebih menyakitkan, Anton —orang yang sebelumnya sepakat — mulai berkelit dan menjaga jarak dari persoalan itu.
Seakan keputusan tersebut hanyalah keberanian Ranti seorang.

Hari itu, Ranti pulang dengan perasaan bercampur aduk: jengkel, kecewa, sedih, sekaligus lelah.

Tetapi di tengah semua rasa tidak nyaman itu, ada satu hal yang tak bisa dipungkirinya. Hatinya tetap terasa tenang. Ia mungkin ditegur. Mungkin dianggap tidak kooperatif. Bahkan dicap sebagai orang yang tidak memahami “kebiasaan”.
Namun setidaknya, ia tidak mengkhianati nuraninya.

Di tengah lautan kebiasaan yang perlahan dianggap wajar, Ranti memilih berdiri pada prinsip yang diyakininya benar, prinsip tentang tata kelola yang bersih dan kejujuran yang tidak bisa ditawar.

Baginya keberanian terbesar terkadang bukanlah melawan musuh di luar diri, melainkan keberanian untuk melawan perasaan bersalah ketika keadaan seolah memaksa kita menganggapnya biasa. (*)

#33daysintegritychallenge #aksikita #lawankorupsi #biasakanyangbenar #days6 IG: @aclc.kpk

Penulis Gemar Menulis tentang Kehidupan, Budaya, dan Kisah-kisah Kecil yang Menginspirasi.*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *