Oleh: Shintalya Azis*)
Suatu hari, di sudut kecil sebuah kafe di depan Yamazaki Bakery, Yaohan Plaza, Colindale, Chyntia duduk bertiga dengan Fiona dan Nilgun. Di antara hangatnya secangkir teh dan lalu-lalang orang yang sibuk dengan urusannya masing-masing, percakapan mereka mengalir pelan.
“Indonesia aman, Chyn. You’ve got many things in your country. Not like us. Me and my family had to be flying out of the country just to eat, hoping for a better future. If not… you know lah our regime.”
Chyntia hanya terdiam. Jemarinya meraih cangkir teh chamomile, menyeruputnya perlahan, lalu mengembuskan napas panjang. Kata-kata Fiona menggema di dalam benaknya.
Studi yang ia tempuh di London hampir selesai. Kesempatan terbentang lebar di hadapannya. Jika ia menginginkan, ia dapat menetap, mencari pekerjaan tetap, membangun karier, dan menikmati kenyamanan hidup sebagaimana Fiona dan Nilgun memilih bertahan di negeri itu.
Namun, semakin lama ia memikirkannya, semakin ia menyadari bahwa bukan kehidupan seperti itu yang sedang ia cari.
Yang ia rindukan tetap kampung halamannya, Indonesia.
Ia merindukan salam dan sapaan yang akrab di telinga, bukan basa-basi tentang cuaca saat di halte bus. Ia rindu aroma tanah setelah hujan, rindu kumpul keluarga yang tak kan pernah tergantikan.
Hampir semua tentang Indonesia ia rindukan.
Hampir.
Meskipun, ada satu hal yang selalu membuat hatinya gamang: korupsi yang seolah telah berurat akar dalam berbagai sisi kehidupan. Korupsi yang dipandang sebagai hal yang lumrah, bukan melanggar aturan, biasanya memang begitu.
Budaya membenarkan penyimpangan, memaklumi penyalahgunaan kewenangan, dan menganggap kata integritas sebagai sesuatu yang aneh, hanya untuk orang-orang level atas. Untuk rakyat, cukuplah slogan ramah tamah, saling tolong menolong.
Kegalauan itulah yang membuat langkahnya maju mundur untuk kembali.
Di satu sisi, ia ingin pulang dan menjadi bagian dari perubahan. Di sisi lain, ia bertanya dalam hati, mampukah satu orang tetap teguh ketika lingkungan justru mengajarkan kompromi terhadap nilai-nilai yang benar?
Lalu ia teringat kembali ucapan Fiona.
Indonesia, dengan segala kekurangannya, masih merupakan negeri yang memberi harapan bagi jutaan orang. Bahkan mereka yang lahir di negara dengan kondisi politik yang lebih sulit pun memandang Indonesia sebagai tempat yang layak untuk hidup.
Barangkali, pikir Chyntia, yang dibutuhkan bukan semakin banyak orang baik yang pergi, melainkan semakin banyak orang baik yang bersedia pulang dan tetap bertahan demi suatu perubahan.
Bangsa ini tidak akan berubah hanya dengan mengutuk korupsi dari kejauhan. Perubahan lahir ketika masih ada orang-orang yang memilih kembali, bekerja dengan jujur, menolak menyalahgunakan amanah, dan menjaga integritas meski tidak selalu menjadi pilihan yang paling mudah.
Mungkin pulang memang bukan tentang mencari negeri yang sempurna. Pulang adalah memilih menjadi bagian dari mereka yang berusaha menyempurnakan negeri, sedikit demi sedikit.
Harapan tidak pernah tumbuh dari mereka yang menyerah. Harapan bertumbuh dari orang-orang yang percaya bahwa kejujuran, tata kelola yang baik, dan kepatuhan terhadap amanah masih layak diperjuangkan.
Ketika semakin banyak orang berintegritas memilih untuk pulang, dan berkarya bagi bangsanya, maka harapan untuk mewujudkan cita-cita good governance tidak lagi sekadar slogan. Namun menjadi kenyataan yang dibangun bersama melalui keberanian menjaga amanah, menolak korupsi, dan menghidupkan kepatuhan dalam setiap keputusan.(*)
#33daysintegritychallenge #aksikita #lawankorupsi # biasakanyangbenar #day27 IG: @aclc.kpk
Penulis Gemar Menulis tentang Kehidupan, Budaya, dan Kisah-kisah Kecil yang Menginspirasi.*)
