Nama Adalah Doa

Oleh : Nurul Jannah*)

“Hadiah ulang tahun untuk Mbak Nurul.”

Bu Canting Puji tersenyum hangat sambil menyodorkan sebuah bingkisan yang dibungkus rapi.

Aku menerimanya dengan hati berbunga-bunga. Ketika pembungkusnya aku buka perlahan, bibir ini spontan berucap, “Masya Allah…”

Mataku terpaku. Tanganku seakan enggan melepaskan bingkai itu.

Di hadapanku terbentang sebuah lukisan kaligrafi yang begitu indah, hasil goresan tangan Bu Canting sendiri.

Lengkung-lengkung huruf Arab itu terasa hidup. Lembut. Teduh. Menenangkan.

Di tengah perpaduan warna yang begitu anggun, tertulis satu nama yang langsung menghangatkan dadaku.

An-Nur. Salah satu Asmaul Husna. Allah Yang Maha Cahaya.

Aku tertegun. Memandang lebih lama kaligrafi indah itu. Semakin lama aku pandang, semakin terasa hangat menjalari hati.

Kaligrafi nan elok itu seperti membuka sebuah pintu yang membawaku pulang kepada kenangan paling awal tentang sebuah nama.

Nama yang sejak kecil dipanggil berkali-kali oleh Ayah dan Ibu. Nama yang dahulu terdengar biasa, tetapi kini terasa luar biasa.

Nurul Jannah.


Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, aku pernah bertanya kepada Ibu.

“Bu… kenapa namaku Nurul Jannah?”

Ibu menghentikan pekerjaannya. Beliau menatapku sambil tersenyum. Tangannya mengusap kepalaku dengan penuh kasih.

“Karena Ayah dan Ibu berharap, di mana pun kamu berada, kamu menjadi cahaya yang membawa kebaikan.”

Beliau melanjutkan dengan suara lembut,

“Nurul berarti cahaya. Jannah berarti surga. Semoga hidupmu menjadi cahaya yang mengantarkan banyak hati menuju jalan yang diridai Allah.”

Baca juga:  Gratifikasi Atau Rezeki?

Aku terdiam. Saat itu aku belum memahami betapa dalam doa yang sedang dititipkan kepadaku. Bagi aku, nama hanyalah panggilan.

Namun waktu adalah guru yang paling sabar.

Semakin bertambah usia, semakin sering aku merenungkan makna nama yang dipilihkan kedua orang tuaku.

Setiap kali ada yang memanggil, “Nurul…”

Selalu terasa seperti ada bisikan yang menyentuh hati.

Jangan lelah menjadi cahaya. Cahaya yang menghadirkan kehangatan. Cahaya yang menumbuhkan harapan bagi hati yang sedang kehilangan semangat.

Bukankah cahaya tidak pernah memilih kepada siapa ia akan bersinar? Ia hadir tanpa membedakan. Ia memberi manfaat tanpa menunggu tepuk tangan.

Barangkali begitulah seharusnya hidup dijalani.

Semakin lama menapaki kehidupan, semakin aku sadari bahwa memilih nama bagi seorang anak adalah salah satu ikhtiar paling indah dari orang tua. Di dalamnya tersimpan doa. Harapan. Cinta. Dan masa depan yang mereka titipkan kepada langit.

Barangkali itulah sebabnya banyak ayah dan ibu membuka lembar demi lembar kitab, mencari arti terbaik sebelum menyematkan sebuah nama kepada sang buah hati.

Karena mereka percaya, nama akan dipanggil ribuan kali sepanjang usia. Dan pada setiap panggilan itu, doa kembali dihidupkan. Betapa indahnya.

Kaligrafi An-Nur dari Bu Canting kini memiliki tempat yang sangat istimewa di rumahku. Bukan hanya sebagai hiasan dinding. Melainkan juga sebagai pengingat.

Baca juga:  Anak, Wifi dan Arah yang Lupa

Pengingat bahwa cahaya hanyalah milik Allah. Dan sebagai hamba, yang mampu aku lakukan hanyalah berusaha memantulkan setitik cahaya itu melalui kehidupan yang dijalani.

Jika belum mampu menjadi matahari, cukuplah menjadi pelita kecil yang menerangi jalan bagi yang membutuhkan.

Jika belum mampu mengubah dunia, jangan menjadi penyebab dunia bertambah gelap.

Jika belum mampu menghapus seluruh air mata, hadirkanlah ketenangan bagi hati yang sedang rapuh.

Barangkali, itulah makna cahaya yang paling sederhana. Hadir. Menghangatkan. Lalu memberi manfaat.

Dan, di pagi ini, setiap kali menyebut nama sendiri, hati selalu dipenuhi rasa syukur. Alhamdulillah. Terima kasih, Ayah. Terima kasih, Ibu. Terima kasih telah memilih nama yang begitu indah.

Nama yang tidak hanya enak didengar. Namun juga sarat doa. Doa yang hingga hari ini masih terus aku perjuangkan.

Aku tidak tahu apakah selama ini telah benar-benar menjadi cahaya. Namun aku tak ingin berhenti belajar. Belajar agar setiap langkah yang aku ayunkan membawa manfaat. Agar setiap tulisan yang aku langitkan menjadi penguat bagi hati yang lelah. Agar setiap ilmu yang aku bagikan menjadi penerang di tengah kebingungan.

Dan agar ketika kelak aku berpulang, yang tertinggal bukan hanya namaku, melainkan jejak-jejak kebaikan yang Allah izinkan lahir melalui hidupku.

Pagi ini, sambil memandang kaligrafi An-Nur, hanya satu doa yang mengalir dari lubuk hati.

Baca juga:  15 Tahun Masyarakat Berjuang, Terwujud di Era Bupati Annisa, Jalan Poros Koto Gadang Kembali Diaspal

Ya Allah, jika dahulu Ayah dan Ibu memilih nama ini dengan penuh harapan, izinkan aku menjaga doa itu hingga akhir hayat.

Jadikan setiap detik yang aku jalankan, menghadirkan manfaat. Jangan biarkan nama ini hanya indah ketika dipanggil. Jadikan nama ini juga indah ketika kelak harus mempertanggungjawabkan segalanya di hadapan-Mu.”

Kini aku benar-benar mengerti. Nama bukan hanya panggilan. Nama adalah doa yang diucapkan orang tua dengan penuh harapan, lalu diperjuangkan oleh anak sepanjang hayatnya.

Alhamdulillah, namaku Nurul Jannah. Semoga Allah mengizinkanku menjadi setitik cahaya. Agar kehadiranku membawa manfaat, di mana pun Allah menempatkanku.

Dan ketika kelak namaku dipanggil untuk terakhir kalinya di dunia, semoga doa yang dahulu disematkan Ayah dan Ibu telah kembali kepada mereka dalam bentuk pahala yang terus mengalir.

Dan, kini aku memahami bahwa cinta pertama yang diterima seorang anak bukanlah hadiah yang mahal, bukan pula harta yang melimpah. Melainkan sebuah nama, yang dipenuhi doa, dipanggil sepanjang usia, lalu diperjuangkan hingga akhir kehidupan.

Jakarta, 5 Juli 2026

Penulis adalah Dosen IPB University Bogor, aktif menulis dan literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *