Jangan Keliru! Ini Perbedaan Tugas SC, OC, dan Technical Delegate di Porprov

Oleh: Fazril Ale*)

Penyelenggaraan ajang olahraga multievent seperti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) bukan sekadar mempertemukan atlet untuk bertanding.

Di balik suksesnya sebuah perhelatan olahraga, terdapat sistem tata kelola yang melibatkan berbagai unsur dengan tugas dan kewenangan yang berbeda, namun saling melengkapi.

Tiga di antaranya yang memiliki peran sentral adalah Steering Committee (SC), Organizing Committee (OC), dan Technical Delegate (TD).

Tidak jarang di lapangan terjadi kesalahpahaman mengenai batas kewenangan ketiga unsur tersebut.

Padahal, memahami fungsi masing-masing menjadi kunci agar penyelenggaraan berjalan profesional, transparan, dan bebas dari intervensi.

Steering Committee: Penentu Arah dan Pengambil Kebijakan

Steering Committee merupakan komite pengarah yang bertugas memberikan arah kebijakan strategis penyelenggaraan event.

SC tidak mengurus persoalan teknis pertandingan maupun operasional harian, tetapi memastikan seluruh pelaksanaan tetap berada pada jalur yang telah ditetapkan.

SC biasanya bertugas menetapkan kebijakan umum, memberikan solusi terhadap persoalan strategis yang tidak dapat diselesaikan oleh panitia pelaksana, melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan secara menyeluruh, serta menjaga agar tujuan penyelenggaraan tetap tercapai.

Baca juga:  Tokoh Perantau Kalimantan H. Martius Berharap Rakernas PKPS Digelar Setiap Tahun di Kampung Halaman

Dengan kata lain, SC berperan sebagai pengendali kebijakan dan pengawas tingkat tinggi, bukan sebagai pelaksana lapangan.

Organizing Committee: Mesin Penggerak Penyelenggaraan

Jika SC menjadi pengarah, maka Organizing Committee merupakan mesin utama penyelenggaraan kegiatan. OC bertanggung jawab terhadap seluruh aspek operasional mulai dari persiapan hingga penutupan event.

Ruang lingkup kerja OC meliputi penyediaan venue, akomodasi, transportasi, konsumsi, keamanan, kesehatan, media, teknologi informasi, hingga pelayanan bagi atlet, ofisial, dan tamu.

Keberhasilan sebuah Porprov sangat bergantung pada kemampuan OC mengoordinasikan berbagai bidang tersebut secara efektif.

Bahkan pertandingan yang berkualitas sekalipun dapat terganggu apabila aspek operasional tidak dipersiapkan secara matang.

Karena itu, OC harus memiliki kemampuan manajerial yang kuat serta mampu bekerja lintas sektor bersama pemerintah daerah, kepolisian, tenaga kesehatan, relawan, dan seluruh pemangku kepentingan.

Technical Delegate: Penjaga Integritas Pertandingan

Berbeda dengan SC maupun OC, Technical Delegate memiliki fokus pada aspek teknis olahraga. TD merupakan representasi induk organisasi cabang olahraga yang diberi kewenangan memastikan seluruh pertandingan berlangsung sesuai peraturan resmi.

Baca juga:  ATR/BPN Hadirkan Pengukuran Terjadwal, Beri Kepastian Waktu Layanan untuk Masyarakat

Tugas TD dimulai jauh sebelum pertandingan digelar. Mereka melakukan verifikasi kesiapan venue dari sisi teknis, memeriksa kelengkapan peralatan pertandingan, mengawasi penyusunan jadwal, memastikan kesiapan perangkat pertandingan, hingga melakukan verifikasi administrasi dan keabsahan atlet sesuai ketentuan.

Saat pertandingan berlangsung, TD bertugas melakukan supervisi terhadap jalannya kompetisi, memastikan seluruh perangkat pertandingan bekerja sesuai regulasi, serta memberikan keputusan teknis apabila muncul persoalan yang berkaitan dengan aturan pertandingan.

Yang perlu dipahami, TD bukan pengurus logistik, bukan panitia konsumsi, bukan pula penentu kebijakan organisasi.

Sebaliknya, OC juga tidak boleh mengintervensi keputusan teknis pertandingan yang menjadi kewenangan TD.

Sinergi Menjadi Kunci

Idealnya, ketiga unsur ini bekerja dalam koridor yang jelas.

SC menetapkan arah dan kebijakan.

OC mengeksekusi penyelenggaraan.

TD menjaga kualitas serta integritas pertandingan.

Ketika batas kewenangan tersebut dipahami dan dihormati, konflik dapat diminimalkan, koordinasi menjadi lebih efektif, dan seluruh energi dapat difokuskan pada pelayanan kepada atlet.

Baca juga:  Syumuliyatul Islam: Membangun Generasi Rabbani di Tengah Tantangan Zaman

Porprov bukan hanya tentang perebutan medali, tetapi juga tentang membangun tata kelola olahraga yang profesional.

Penyelenggaraan yang baik akan meningkatkan kepercayaan publik, memperkuat pembinaan olahraga prestasi, dan menjadi fondasi menuju kompetisi yang lebih tinggi, termasuk Pekan Olahraga Nasional (PON).

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah multievent olahraga bukan semata diukur dari meriahnya pembukaan atau banyaknya medali yang diperebutkan, melainkan dari kemampuan seluruh unsur penyelenggara menjalankan tugas dan kewenangannya secara profesional.

Ketika SC mampu mengarahkan, OC mampu mengelola, dan TD mampu menjaga integritas pertandingan, maka Porprov benar-benar menjadi ajang pembinaan olahraga yang berkualitas, berkeadilan, dan bermartabat. []

Penulis adalah Anggota SC Porprov XVI Sumbar 2026 dan Wasit Internasional*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *