Move On

Oleh : Nurul Jannah*)

“Mengapa move on terasa begitu sulit?”

Pertanyaan itu meluncur dari bibir mungil Naning, sahabat seperjuanganku.

Kami sedang duduk di sebuah kafe sederhana di seputar kampus Baranangsiang IPB, selepas kegiatan. Secangkir teh hangat masih mengepulkan uap. Di luar jendela, langit Bogor mulai berwarna jingga. Orang-orang lalu lalang seperti biasa. Namun di balik senyum Naning, ada hati yang sedang lelah berjalan.

Ia memandang cangkirnya cukup lama, lalu bertanya, “Apa ya resep paling cespleng supaya cepat move on?”

Aku tersenyum.

“Kenapa?”

Ia mengaduk tehnya perlahan.

“Capek… Rasanya ingin melangkah. Tapi hati ini seperti terus menoleh ke belakang.”

Aku tidak segera menjawab. Tatapanku justru tertuju ke luar jendela. Beberapa anak kecil sedang bermain layang-layang. Ada yang putus. Ada yang tersangkut di dahan. Ada yang jatuh. Namun tak satu pun berhenti bermain.

Mereka berlari lagi. Tertawa lagi. Menerbangkan layang-layang baru lagi, tanpa sibuk meratapi yang telah hilang.

Entah mengapa, pemandangan sederhana itu terasa seperti jawaban yang sedang Allah kirimkan sore itu.

Aku menoleh kepadanya. Lalu bertanya dengan hati-hati,

“Kalau tanganmu terus menggenggam bara, siapa yang akan kepanasan?”

“Tentu aku.”

Aku kembali bertanya, “Kalau begitu… kenapa masih terus digenggam?”

Naning terdiam. Matanya nampak mulai berkaca-kaca.

Betapa sering manusia berkata ingin move on. Namun diam-diam masih memeluk luka. Masih membuka pesan lama. Masih mengunjungi kenangan yang sama. Masih mengulang percakapan yang telah lama berakhir. Masih bertanya,

Baca juga:  Murid Madrasah Negeri se Pasaman Barat Ikuti Matamuda

“Mengapa harus terjadi?”

Padahal waktu telah berjalan begitu jauh. Yang belum berjalan hanyalah hati. Ia masih tinggal di halaman yang sama. Masih menunggu cerita yang sesungguhnya telah usai.

Aku kembali bertanya,

“Lalu menurutmu, move on itu apa?”

Ia menjawab singkat,

“Melupakan.”

Aku menggeleng.

“Barangkali di situlah kita sering keliru.”

Ia menatapku tajam. Nampak kegalauan di matanya.

Aku mencoba menanggapinya dengan santai,

“Move on bukan tentang menghapus ingatan. Move on adalah berdamai dengan ingatan.”

Kalimat itu terurai begitu saja di antara kami.

Banyak orang memaksa dirinya melupakan. Padahal ada kenangan yang memang tidak pernah diciptakan untuk hilang. Wajah yang pernah menguatkan. Rumah yang pernah menjadi tempat pulang. Jalan yang pernah dilalui bersama. Suara yang pernah menenangkan hati.

Semuanya akan tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup.

Yang berubah bukan kenangannya. Melainkan hati kita. Dulu, setiap mengingatnya, dada terasa sesak. Kini, kenangan yang sama justru berubah menjadi doa. Itulah move on.


Beberapa waktu lalu aku melihat seorang tukang kebun kampus memangkas hampir seluruh ranting sebuah pohon. Aku sempat merasa kasihan. Pohon itu tampak gundul. Hampir tak menyisakan daun.

Beberapa minggu kemudian aku melewati tempat yang sama. Aku tertegun. Pohon itu justru dipenuhi tunas-tunas baru. Lebih hijau. Lebih rindang. Lebih indah.

Aku bertanya, “Pak, kenapa dulu dipangkas sebanyak itu?”

“Supaya tumbuh lebih baik.”

Jawaban itu sederhana. Namun mengguncang batinku.

Bukankah hidup juga demikian? Kadang Allah memangkas banyak hal yang kita cintai. Bukan untuk menghukum. Melainkan agar hati memiliki ruang untuk menumbuhkan kehidupan baru. Ada hubungan yang berakhir. Ada harapan yang gugur. Ada rencana yang berubah arah.

Baca juga:  Asesmen Rencana Suksesi Jabatan Administrator ATR/BPN Digelar di Sumbar, Diikuti 49 Peserta

Namun bukan berarti hidup ikut berakhir.

Naning kembali bertanya, “Jadi… apa dong resep move on?”

Aku tersenyum. Merasa gemas dengan pertanyaannya itu.

“Berhenti bertanya, ‘Mengapa ini terjadi padaku?’ Lalu mulailah bertanya, ‘Apa yang sedang Allah ajarkan melalui peristiwa ini?’”, Jawabku diplomatis..

Ia terdiam. Aku melanjutkan,

“Selama hati sibuk mencari siapa yang salah, ia akan terus terikat. Namun ketika mulai mencari hikmah, perlahan ia menjadi bebas.”

Kulihat air matanya mulai jatuh.

Move on juga bukan berarti berhenti mencintai. Kita tetap dapat mencintai. Namun tidak lagi memaksa untuk memiliki.

Tetap menghargai. Namun tidak lagi menggantungkan bahagia di sana. Tetap mengenang. Namun tidak lagi tinggal di masa lalu itu.

Karena hidup tidak pernah meminta kita merobek halaman yang telah selesai ditulis. Hidup hanya meminta kita berani membuka halaman berikutnya.

Sebelum pulang, Naning mulai bisa tersenyum. Kali ini senyumnya tampak lebih lebar.

Seakan luruh seluruh beban beratnya.

“Kurasa aku mulai mengerti.” Bisiknya tiba-tiba.

“Apa?”

“Selama ini aku sibuk berusaha melupakan. Padahal yang harus kulakukan hanyalah mengikhlaskan.”

Aku setuju dengan statemennya.

“Ya, karena yang membuat hati lelah bukan kenangan. Melainkan penolakan untuk menerima kenyataan.”

Sore itu aku kembali mendapatkan pembelajaran. Ternyata move on bukan perjalanan meninggalkan masa lalu. Move on adalah perjalanan pulang untuk menemukan diri sendiri yang sempat hilang. Perlahan. Tanpa tergesa. Tanpa membenci hari-hari yang pernah dilalui.

Baca juga:  Koordinasi Teknis Foto Tegak PTSL, Kantah Pesisir Selatan Pastikan Data Pertanahan Akurat

Karena, setiap luka pernah mengajarkan keteguhan. Setiap kehilangan pernah mengajarkan syukur. Setiap air mata pernah mengajarkan kedewasaan.

Maka jika hari ini langkah masih terasa berat, jangan paksa hati berlari. Rawatlah dengan doa. Hangatkan dengan syukur. Dekatkan kepada Allah.

Sebab bukan waktu yang menyembuhkan luka. Melainkan hati yang bersedia menerima, memaafkan, lalu percaya bahwa setiap ketetapan Allah selalu mengandung kasih sayang, meski sering kali baru dipahami setelah semuanya berlalu.

Pada akhirnya, Move on bukan berarti melupakan masa lalu.

Move on adalah ketika masa lalu masih dapat dikenang, tetapi tidak lagi memiliki kuasa untuk mencuri senyum hari ini.

Dan pada hari ketika kita akhirnya mampu berkata, “Ya Allah, aku ikhlas,” sesungguhnya bukan masa lalu yang pergi meninggalkan kita. Kitalah yang akhirnya berhasil keluar dari penjara yang selama ini kita bangun sendiri.

Di situlah hati benar-benar merdeka💝.

Bogor, 12 Juli 2026

Dosen IPB University, penulis dan penggiat literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *