Sebelum Semua Berubah

Oleh: Nurul Jannah*)

Catatan Syukurku Hari ini

Pagi itu aku tidak langsung membuka ponsel, seperti yang biasa aku lakukan sebelum beraktifitas pagi. Tidak pula membuka daftar pekerjaan yang harus diselesaikan hari.

Entah kenapa, aku hanya ingin berdiri sejenak di depan jendela.

Memandang langit yang perlahan berubah warna.

Dari kejauhan, tampak seorang bapak sedang mengayuh sepeda tuanya menuju pasar. Seorang ibu terlihat sedang menggandeng anaknya yang masih mengusap mata karena kantuk.

Jalanan yang semula lengang, tampak mulai dipenuhi langkah-langkah cepat para pekerja.

Dalam sejenak berhenti itu, tetiba ada tanya yang menyeruak dari diri sendiri, “Apa yang sebenarnya masih Allah titipkan kepadaku hari ini?”

Aku mulai menghitung nikmat itu.

Masya Allah. Begitu banyak ternyata nikmat itu. Alhamdulillah. Masih bisa membuka mata. Masih bisa menghirup udara dengan lega. Masih bisa melangkahkan kaki menuju tempat wudhu. Masih bisa mendengar azan yang memanggil untuk bersujud. Masih bisa memeluk orang-orang tercinta.

Semakin menghitung, semakin panjang ternyata daftarnya.

Selama ini, ternyata aku lebih sering menghitung apa yang belum aku miliki. Bukan mensyukuri apa yang telah Allah berikan, tanpa aku minta.

Padahal, bisa jadi di saat yang sama, ada seorang ibu lagi di ruang perawatan, berharap dokter datang membawa kabar baik. Atau, bisa jadi ada seorang ayah yang berkali-kali menatap layar teleponnya, menunggu panggilan pekerjaan yang tak kunjung tiba. Atau, ada seorang anak yang masih menyimpan baju terakhir ibunya, karena hanya itu yang tersisa untuk mengobati rindunya.

BACA JUGA :  Amanah Itu Bernama Pekerjaan

Mereka tentu tidak sedang meminta hidup yang sempurna. Mereka hanya ingin memperoleh kembali apa yang dulu pernah mereka miliki.

Saat itulah dadaku terasa sesak.

Betapa sering kita baru menyadari nilai sebuah nikmat setelah nikmat itu pergi.

Kita menangis ketika kesehatan hilang. Padahal bertahun-tahun kita bangun pagi tanpa pernah mengucap syukur karena tubuh masih mampu berdiri. Kita merindukan suara ibu setelah rumah menjadi sunyi. Padahal dahulu kita sering menjawab panggilannya sambil lalu.

Kita menyesali waktu yang berlalu setelah kursi di ruang tamu tak lagi ditempati ayah.

Allah mungkin tidak sedang mengurangi kebahagiaan kita. Melainkan sedang bertanya,

“Sudahkah engkau mensyukuri apa yang masih ada?”

**

Bukankah hampir setiap hari kita sering berandai-andai,

“Andai penghasilanku lebih besar…”

“Andai rumahku lebih luas…”

“Andai hidupku seperti mereka…”

Tanpa sadar, kita sibuk melihat apa yang berada di tangan orang lain. Hingga lupa melihat betapa penuh yang ada di kedua tangan kita.

Aku teringat seorang nenek, yang pernah aku temui beberapa waktu lalu.

Rumahnya kecil.

Lantainya sederhana. Perabotannya pun sedikit dan sudah layak ganti. Namun wajahnya begitu teduh.

BACA JUGA :  Amanah Itu Bernama Pekerjaan

Ketika aku tanya apa yang membuatnya bahagia, ia tersenyum, “Alhamdulillah, setiap sore anak-anak dan cucu masih pulang. Masih bisa makan bersama di rumah ini. Selama Allah masih memberi nenek kesempatan melihat mereka berkumpul, nenek merasa menjadi perempuan paling kaya dan paling bahagia.”

Aku terdiam. Ternyata, kekayaan dan kebahagiaan tidak selalu berbentuk angka.

Kadang ia hadir dalam tawa yang masih terdengar. Dalam tangan yang masih bisa digenggam. Dalam rumah yang masih dipenuhi doa.

Dalam tubuh yang masih sanggup bersujud. Dan dalam hati yang masih mampu bersyukur.

Syukur memang tidak serta merta membuat semua persoalan hilang. Namun syukur membuat hati tidak mudah runtuh.

Karena orang yang bersyukur percaya, Allah selalu meninggalkan cahaya, meskipun sebagian pintu kehidupan sedang ditutup.

Barangkali kesehatan sedang berkurang. Namun Allah menghadirkan keluarga yang setia menemani.

Barangkali rezeki sedang sempit. Namun Allah masih memberi tenaga untuk terus berikhtiar.

Barangkali ada orang yang sangat kita cintai telah dipanggil pulang. Namun Allah tidak mengambil cinta itu sendiri. Allah mengubahnya menjadi rindu yang mengajarkan arti sebuah kebersamaan.

Maka, hari ini, sebelum kembali sibuk mengejar dunia, cobalah berhenti sebentar.

Peluk ayah dan ibu, jika mereka masih ada. Tatap wajah pasangan dengan penuh cinta. Dengarkan cerita anak-anak tanpa tergesa. Hubungi sahabat yang sudah lama tidak disapa.

BACA JUGA :  Amanah Itu Bernama Pekerjaan

Lalu sujudlah lebih khusyuk. Karena tidak ada satu pun dari semua itu yang dijanjikan akan tetap bersama kita, esok hari.

Hari demi hari. Rambut mulai memutih. Anak-anak mulai tumbuh dewasa lalu meninggalkan rumah. Sahabat satu per satu sibuk dengan kehidupannya. Dan usia kita sendiri pun diam-diam terus bertambah.

Sampai akhirnya kita berkata, “Andai waktu itu bisa kembali…”

Padahal, Yang kita rindukan bukan masa lalunya. Melainkan kesempatan untuk lebih banyak bersyukur ketika semuanya masih ada.

Maka hari ini, Jangan tunggu rumah menjadi sunyi untuk merindukan suara yang dulu sering kita abaikan. Jangan tunggu air mata jatuh untuk menyadari bahwa Allah telah menitipkan begitu banyak kebahagiaan di depan mata.

Sebab hidup yang paling kaya bukanlah hidup yang memiliki segalanya. Melainkan hidup yang mampu melihat bahwa apa yang masih dimiliki hari ini adalah karunia yang tak ternilai.

Mari mulai hari dengan satu kalimat yang sanggup mengubah cara kita memandang kehidupan.

“Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.”

Karena bisa jadi, nikmat terbesar yang kita miliki hari ini bukanlah apa yang baru Allah tambahkan, melainkan apa yang masih Allah pertahankan.💞💕

Jakarta, 20 Juli 2026

Dosen IPB University, penulis dan penggiat literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *