Jejak Para Kekasih

Bagian I. Ketika Hati Mulai Bertasbih

Oleh: Nurul Jannah*)

Perjalanan yang paling jauh bukanlah dari satu kota ke kota lainnya. Perjalanan yang paling jauh adalah dari hati yang lalai menuju hati yang kembali mengingat Allah.

Fajar bahkan belum sepenuhnya merekah ketika langkahku tiba di Danau Pahlawan, Kalibata. Langit Jakarta masih diselimuti semburat biru yang lembut. Udara pagi terasa sejuk, seolah sengaja Allah hadirkan untuk menyambut perjalanan yang bukan sekadar berpindah tempat, melainkan perjalanan membersihkan hati.

Jarum jam baru menunjukkan pukul 6.30.

Di tepian danau, dua bus Blue Bird telah terparkir rapi. Diam. Setia menunggu. Pagi itu, dua bus blue bird tersebut bukan sekadar kendaraan. Ia akan menjadi saksi perjalanan puluhan hati yang sedang berusaha mendekat kepada Rabb-nya.

Hari itu, kami akan berjalan menyusuri jejak para kekasih Allah.

Satu demi satu ibu-ibu soleha mulai berdatangan. Ada yang menggandeng sahabatnya. Ada yang datang bersama putri tercinta. Ada yang baru pertama kali bergabung. Mereka merupakan anggota keluarga besar Ummahat Nurussafar, dan Alhasymy, di bawah koordinasi Umi Hj. Istiqomah.

Senyum merekah di mana-mana.

“Assalamu’alaikum… Alhamdulillah, ketemu lagi.”

“Masya Allah, wajahnya hari ini kelihatan jauh lebih segar lhoh.”

“Sudah sarapan belum? Nanti jangan sampai telat makan, ya.”

Percakapan-percakapan sederhana itu terdengar begitu akrab. Menghangatkan pagi. Aku memandang ke sekeliling.

Hitam. Kuning. Hijau. Coklat. Marron. Warna-warna hijab yang berpadu anggun dengan gamis hitam para peserta.

BACA JUGA :  Amanah Itu Bernama Pekerjaan

Tidak ada yang saling berlomba tampil paling menawan. Namun justru di situlah letak keindahannya.

Barangkali, perempuan yang melangkah menuju majlis ilmu dan perjalanan mengingat Allah memang memancarkan cahaya yang tak dapat dipoles oleh riasan apapun.

Hari itu, sekitar sembilan puluh muslimah dipertemukan Allah. Rentang usia mereka sangat beragam.

Ada yang masih belia. Ada ibu muda yang baru dikaruniai anak kecil. Ada yang telah menimang cucu. Ada pula yang menikmati masa pensiun. Namun pagi itu usia seakan kehilangan maknanya.

Tidak ada sekat profesi. Juga, tidak ada perbedaan status sosial. Yang ada hanyalah perempuan-perempuan yang sama-sama membawa harapan kepada Allah.

Sebelum keberangkatan, ingatanku melayang pada tausiyah Habib Hasyim Alhamid dalam Majelis Al-Hasymy, Sabtu malam, 18 Juli 2026. Beliau berpesan dengan kalimat yang hingga kini masih terpatri kuat di dalam hati.

“Ziarah bukan untuk meminta kepada para wali. Kita datang untuk mendoakan mereka, mengambil teladan perjuangan hidup mereka, lalu mengingat bahwa suatu hari nanti kita pun akan menempuh perjalanan yang sama menuju Allah.”

Pesan itu terus bergema di dalam batinku. Betapa sering kita sibuk merencanakan liburan. Sibuk menata karier. Sibuk mengejar mimpi. Namun lupa menyiapkan perjalanan yang paling pasti, yaitu Perjalanan pulang menghadap Allah.


Tepat ketika mesin bus mulai dinyalakan, terdengar suara lembut panitia.

“Bismillah… semuanya sudah naik? Mari kita berangkat.”

Perlahan dua bus Blue Bird meninggalkan Danau Pahlawan. Aku duduk di dekat jendela bersama putriku, Zahro.

BACA JUGA :  Pemerintah Kota Solok Ekspose Implementasi Manajemen Talenta ASN di BKN

Jakarta mulai terbangun. Lampu-lampu jalan satu per satu padam. Orang-orang bergegas mengejar aktivitasnya. Sementara kami sedang menempuh perjalanan yang mengingatkan bahwa dunia hanyalah tempat singgah.

Tidak lama kemudian, lantunan shalawat memenuhi bus. Lembut. Mengalun. Syahdu. Menenangkan. Disusul bacaan surah Yasin. Tahlil. Tahmid. Tasbih. Istighfar. Suara-suara lembut itu berpadu menjadi doa yang mengalir memenuhi ruang bus.

Sesekali terdengar suara yang bergetar menahan haru.

Ada yang memejamkan mata. Ada yang menggenggam tasbih. Ada yang memandang keluar jendela sambil diam-diam menyeka air mata.

Barangkali ada yang sedang memohon kesembuhan. Barangkali ada yang sedang memohon keturunan. Ada yang berharap rumah tangganya kembali damai. Ada yang sedang membawa beban hidup yang tak pernah diceritakan kepada siapa pun.

Dan barangkali, ada yang hanya ingin menyampaikan kerinduan, “Ya Allah… aku rindu kepada-Mu.”

Bukankah setiap orang datang dengan doa yang berbeda? Namun tujuan kami pagi itu sama. Mencari keberkahan. Mencari ketenangan. Dan memohon agar hati ini kembali hidup.

Perjalanan membawa kami singgah dari satu makam ke makam berikutnya. Cimanggis. Luar Batang. Kampung Bandan.

Di setiap tempat, langkah kami melambat. Lisan melantunkan doa. Tangan terangkat. Hati diajak merenung. Aku berdiri beberapa saat memandang deretan makam yang sunyi.

Di hadapan nisan-nisan itu, semua gelar kehilangan arti. Semua jabatan berhenti dibanggakan. Semua harta tidak lagi ikut dibawa. Yang tersisa hanyalah amal dan jejak kebaikan.

BACA JUGA :  SMAN 3 Painan Wakili Pesisir Selatan, Tim Provinsi Lakukan Verifikasi Penilaian Sekolah Sehat Paripurna

Lalu muncul pertanyaan yang terus berputar di dalam hati. Jika hari ini Allah memanggilku pulang, apa yang akan dikenang orang-orang tentang hidupku?

Akankah yang mereka ingat adalah manfaat yang pernah kutinggalkan? Ataukah namaku perlahan menghilang ditelan waktu?

Para auliya yang kami ziarahi dahulu juga hidup seperti kita. Mereka pernah muda. Pernah bekerja. Pernah lelah. Pernah menghadapi cobaan.

Namun mereka memilih menghabiskan hidupnya untuk mendekat kepada Allah. Oleh karena itu, meski jasad mereka telah lama beristirahat di dalam tanah, jejak cintanya masih terus menghidupkan hati banyak orang.

Bus kembali bergerak. Perjalanan masih panjang.

Dan kami belum mengetahui bahwa Allah telah menyiapkan pelajaran berikutnya di Makam Mbah Priok. Bukan pelajaran yang tertulis di buku, bukan pula yang diajarkan di ruang kuliah, melainkan pelajaran yang hanya dapat dipahami oleh hati yang mau merasakan: tentang ukhuwah, keikhlasan, dan bagaimana sepiring makanan mampu menyatukan begitu banyak jiwa dalam rasa syukur.😍

(Bersambung ke Bagian II. Ketika Perjalanan Menjadi Madrasah Hati.)

Jakarta, 22 Juli 2026

Dosen IPB University, penulis dan penggiat literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *