Cinta Dalam Sehat

Oleh : Nurul Jannah*)

Catatan Syukurku Hari Ini

“Kadang Allah tidak sedang mengajak kita mencari jawaban. Allah hanya mengajak kita melihat, agar hati kembali pandai bersyukur.”

Pagi ini aku kembali mengucapkan satu kalimat yang sangat sederhana.

“Alhamdulillah… Ya Allah, terima kasih atas kesehatan yang Engkau titipkan.”

Kalimat itu mungkin sering terucap begitu saja. Namun hari ini, aku ingin menghayatinya lebih dalam.

Betapa sering kita menjalani hari tanpa menyadari bahwa tubuh yang sehat adalah keajaiban dan anugerah luar biasa besar yang Allah hadirkan pada hidup kita.

Bangun pagi tanpa nyeri.

Berjalan tanpa bantuan.

Bernapas bebas tanpa alat bantu apapun.

Semua alat indera berfungsi baik; makan apa saja dengan lahap

Tidur lelap tanpa gangguan apapun.

Semuanya terasa biasa saja.

Begitu biasanya, hingga kita lupa bahwa di luar sana, begitu banyak orang yang sedang berjuang hanya untuk memperoleh nikmat, satu hal yang sering kita anggap biasa, yaitu sehat dan afiat.

Sesekali, pergilah ke rumah sakit.

Datanglah hanya untuk belajar memandang kehidupan dari jendela yang berbeda.

Lihatlah ruang tunggu yang dipenuhi wajah-wajah penuh harap.

Seorang ayah menggenggam hasil pemeriksaan dengan tangan yang gemetar.

Seorang ibu menemani anaknya yang masih kecil menjalani infus sambil terus mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang.

BACA JUGA :  Sekda Doddy Buka Pelatihan Kerja Berbasis Kompetensi 2026

Seorang kakek berjalan tertatih-tatih dengan bantuan tongkat.

Seorang nenek yang terus mendekap cucunya yang sedang demam tinggi

Di sudut lain, terdengar seorang anak bertanya pada bundanya lirih,

“Bun… kapan kita boleh pulang?”

Ibunya tersenyum, meski matanya berkaca-kaca.

“Insya Allah kalau sudah sembuh, Nak.”

Kalimat itu sederhana.

Namun setiap kali mendengarnya, selalu ada bagian dari hati ini yang ikut bergetar.

Seolah ada tangan yang meremas pelan di relung jiwa, menyadarkan aku bahwa sehat adalah karunia dan anugerah yang tak ternilai.

Di rumah sakit, kita belajar bahwa kesehatan bukanlah hak yang otomatis kita miliki.

Ia adalah amanah. Ia adalah karunia. Ia adalah bentuk cinta Allah yang setiap hari menyelimuti kehidupan kita.

Sering kali kita mengeluh karena pekerjaan menumpuk. Karena rapat yang tak kunjung selesai. Karena perjalanan yang begitu melelahkan. Karena kesibukan yang seolah tidak pernah ada habisnya.

Padahal, di waktu yang sama, ada betapa banyak orang di rumah sakit yang hanya memanjatkan satu doa,

“Ya Allah… izinkan aku sehat agar bisa kembali bekerja.”

Betapa banyak yang merindukan langkah yang kuat.

Merindukan tidur tanpa rasa sakit.

Merindukan sepiring makanan yang dapat dinikmati tanpa pantangan, tanpa rasa mual, tanpa rasa takut.

BACA JUGA :  990 Orang Kader KB se Kota Pariaman Terima Penggantian Biaya Operasional dan Transportasi

Merindukan satu pagi yang dimulai tanpa suara alat monitor, tanpa aroma obat-obatan, dan tanpa kabar hasil pemeriksaan yang mendebarkan.

Hari ini aku seperti kembali diingatkan.

Selama masih mampu berjalan dengan kedua kaki. Selama masih mampu memeluk orang-orang yang aku cintai. Selama masih mampu bersujud. Selama masih mampu tersenyum.

Maka sungguh, aku adalah orang yang sangat kaya.

Kaya oleh nikmat yang tidak tersimpan di rekening, tetapi mengalir di setiap detak jantung, di setiap tarikan napas, dan di setiap langkah yang masih Allah anugerahkan.

Pagi ini aku tidak meminta harta yang melimpah. Aku tidak meminta hidup dengan segala kemudahan tanpa ujian.

Aku hanya berdoa,

“Ya Allah, jagalah kesehatan yang Engkau amanahkan kepadaku. Jadikan tubuh ini kuat untuk beribadah, berkarya, menolong sesama, menyebarkan manfaat dan menjadi jalan hadirnya kebaikan selama Engkau masih mengizinkan aku hidup.”

Pagi ini, aku semakin memahami, orang yang paling kaya bukanlah mereka yang memiliki segalanya. Orang yang paling kaya adalah mereka yang masih diberi kesehatan, lalu mampu menyadari nilainya dengan bersyukur, sebelum Allah mengujinya dengan sakit.

Maka, jika hari ini tubuhmu masih sehat, jangan hanya mengucapkan “Alhamdulillah”. Berhentilah sejenak. Rasakan setiap detiknya. Sadari bahwa setiap napas adalah izin, setiap langkah adalah kesempatan, setiap detak adalah pengingat bahwa hidup tidak dijanjikan akan tetap kita miliki pada esok hari.

BACA JUGA :  Pemko Payakumbuh Gelar Gerakan Pangan Murah, Luncurkan Simphoni Pangan Perkuat Stabilitas Harga dan Pengendalian Inflasi

Gunakan kesehatan itu untuk berbuat baik sebelum ia diambil kembali. Peluk lebih lama orang-orang yang kau cintai. Datangi orang tuamu. Ringankan beban sesama. Perbanyak sujud dan syukur. Jangan menunggu sakit untuk menyadari betapa berharganya tubuh yang selama ini setia mengantarkanmu menjalani kehidupan.

Sebab sehat bukan nikmat yang bisa ditunda syukurnya, ia adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Dan sering kali, penyesalan paling dalam datang bukan saat sakit, tetapi saat kita sadar bahwa selama sehat kita lalai bersyukur kepada Allah.💞💕

Jakarta, 23 Juli 2026

Dosen IPB University, penulis dan penggiat literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *