Agak Lain

Oleh : Shintalya Azis*)

“Memang ibu ini agak lain.”
Kalimat itu meluncur pelan dari bibir Mr. X sambil melirik Mr. Y. Keduanya tersenyum tipis, seolah baru saja melontarkan lelucon yang sangat lucu. Sementara Linda terdiam dan mencoba mencerna maksud pernyataan tersebut, yang lain pura-pura sibuk menulis, dan ada juga yang tampak fokus dengan laptopnya.

Linda mendengar jelas. Ia hanya menarik napas panjang.Julukan itu bukan pertama kali ia terima. Rambutnya mulai dipenuhi uban. Banyak generasi karyawan datang dan pergi. Ia menyaksikan perusahaan bertumbuh karena kerja keras, bukan karena jalan pintas.

Namun, akhir-akhir ini ia merasa ada sesuatu yang berubah. Seperti kemarin, menjelang peringatan hari jadi daerah setempat, sebuah rapat digelar untuk berdiskusi tentang dukungan dana perusahaan.

Mr. X membuka pembicaraan.
“Kita perlu segera membuat memo pengajuan bantuan. Proposal dari pemda sudah masuk.” Sambil berbicara, ia menyerahkan sebuah map ke arah Linda.
“Bu Linda, tolong Ibu siapkan memo ke Direksi.”
Linda menerimanya sambil mengangguk dan mulai membaca dokumen 2 halaman tersebut.

Semakin ia membaca, dahinya semakin berkerut. Nominal bantuan tidak dijelaskan secara rinci. Dan rencana penggunaan dana sangat umum. Tidak ada rincian kegiatan yang memadai.

BACA JUGA :  Denyut Pembangunan dalam Matematika Langit

Ia menutup map itu perlahan.
“Maaf, Pak. Saya melihat ada beberapa hal yang perlu diklarifikasi dulu. Kalau memo ini diajukan seperti sekarang, risikonya cukup besar. Bisa dianggap tidak memenuhi prinsip compliance.”

Ruangan kembali sunyi.
Mr. Y mulai memainkan pulpennya.
Mr. X tersenyum tipis.
“Bu Linda… jangan terlalu banyak tanya.”
“Tapi dokumennya memang tidak jelas pak, sulit kita membuat justifikasinya.”
“Sudahlah bu. Dicoba saja buat memonya. Kita ajukan dulu, nanti Direksi yang memutuskan.”
“Tapi pak, kalau memang ada kekurangan, bukankah lebih baik minta mereka perbaiki dulu?”

Nada suara Mr. X berubah lebih tajam.
“Ini instruksi dari Mr. M.”
Ruangan senyap.
Semua tahu Mr. M memiliki pengaruh besar di tubuh direksi. Tidak banyak orang berani mempertanyakan arahannya.

Linda tetap tenang.
“Instruksi kan tetap harus sesuai prosedur?”
Mr. X menghela napas panjang.
Ia menoleh kepada Mr. Y lalu berkata dengan nada mengejek, “apa kubilang… Bu Linda ini memang agak lain.”
Mereka tertawa kecil.
Beberapa orang ikut tersenyum, meski lebih karena tidak enak suasana.

Linda mulai merasakan perubahan. Ia tidak lagi dilibatkan dalam beberapa rapat penting. Pendapatnya jarang diminta. Dan dalam evaluasi kinerja, muncul catatan yang membuatnya tersenyum pahit.

BACA JUGA :  Wali Kota Solok Apresiasi Hadirnya Solok Arena, Fasilitas Baru untuk Geliat Olahraga Daerah

“Kurang fleksibel.”
“Sulit berkolaborasi.”
“Keras kepala.”

Padahal yang ia lakukan hanyalah meminta kelengkapan dokumen. Beberapa rekannya mengatakan bahwa dirinya terlalu idealis. Dianggap aneh karena sudah mau pensiun masih terlalu kaku mengikuti aturan.

Ada pula yang berbisik kepadanya, “makanya jangan terlalu lurus.”
Linda hanya tersenyum. Ia tidak meladeni suara sumbang tentang dirinya, meskipun dirasakannya cukup berat. Apalagi tudingan bahwa dia tidak bisa diajak berkerjasama.
Ia bekerja seperti biasa.

Suatu sore, menjelang jam kerja usai dan orang-orang mulai berkemas pulang, datanglah Mr. W, atasan Mr. X. Seorang pemimpin yang tidak banyak bicara, tetapi selalu mengingatkan satu hal dalam setiap rapat. “Compliance bukan penghambat bisnis. Compliance menjaga bisnis tetap hidup.”

Mr. W berhenti sejenak. “Saya dengar Ibu sedang banyak tekanan.” Linda tersenyum.
“Bertahanlah. Tidak semua orang yang benar langsung terlihat benar. Tetapi setiap pelanggaran pasti meninggalkan jejak.”
Kalimat itu sederhana. Namun cukup menguatkan hati Linda.

Dalam perjalanan pulang, Linda memandang deretan pohon yang bergoyang diterpa angin senja. Ia tersenyum kecil. Mungkin mereka benar menganggap dirinya “agak lain”.

BACA JUGA :  "Melawan Diri Sendiri"

Di dunia yang mulai menganggap kompromi sebagai kecerdasan dan kepatuhan pada aturan sebagai hambatan, orang yang memilih menjaga integritas memang sering dianggap aneh. Mereka dianggap berjalan lambat, sering terlihat sendirian, bahkan menjadi sasaran sindiran.

Namun waktu selalu memiliki caranya sendiri untuk membedakan siapa yang sekadar pandai menyesuaikan diri dan siapa yang setia menjaga prinsip.
Ketika kebenaran akhirnya menemukan pintunya, ia akan disambut oleh integritas yang tidak pernah berdiri sendirian. Ia akan selalu menemukan mereka yang memilih mempertahankan martabat, meski harus membayar harga yang tidak murah.

Di saat itulah, sebutan “agak lain” berhenti menjadi ejekan. Ia berubah menjadi penghormatan bagi orang-orang yang memilih menjaga martabat ketika banyak orang memilih menggadaikannya. (*)

Palembang, 1 Agustus 2026

Penulis Gemar Menulis tentang Kehidupan, Budaya, dan Kisah-kisah Kecil yang Menginspirasi.*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *