Surat dari Bumi Kepada Manusia

Oleh : Nurul Jannah*)

Wahai manusia,
yang hidup di atas tubuhku,

aku menulis surat ini
bukan untuk memarahimu.

Sejak pertama kali kau membuka mata,
aku telah ada.

Kuberikan tanah untuk pijakanmu,
air untuk dahagamu,
udara untuk napasmu,
pohon untuk teduhmu,
dan bumi yang luas
untuk tempatmu pulang.

Aku tidak pernah meminta balasan.

Aku hanya berharap
kau mengingat satu hal:

kita hidup bersama.

Namun, Manusia,

akhir-akhir ini aku lelah.

Sungai yang dahulu jernih
mulai kehilangan beningnya.

Hutan yang dahulu riuh oleh kehidupan
perlahan kehilangan pepohonannya.

Tanah terluka.

Udara menanggung pencemaran.

Laut menerima sampah
yang tak pernah dibutuhkannya.

Tetapi jangan salah mengerti.

Aku tidak sedang membalas dendam.

Air tetap mengikuti jalannya.
Tanah memiliki batasnya.
Ekosistem bekerja menurut hukumnya.

Dan setiap tindakan
akan membawa akibat.

Aku tidak marah.

Aku justru khawatir kepadamu.

Sebab ketika air tercemar,
kaulah yang kehilangan sumber kehidupan.

BACA JUGA :  Malam Tirakatan

Ketika tanah rusak,
panganmu ikut terancam.

Ketika udara kotor,
napasmu sendiri yang merasakannya.

Ketika hutan dan laut kehilangan kehidupan,
manusia pun kehilangan banyak hal
yang selama ini menopangnya.

Aku tidak meminta
kau berhenti membangun.

Aku hanya meminta:

ingatlah batas.

Ambillah yang kau perlukan,
tetapi jangan habiskan.

Gunakanlah,
tetapi jangan sia-siakan.

Bangunlah,
tetapi jangan hancurkan
apa yang membuat kehidupan tetap berlangsung.

Karena aku bukan hanya milik manusia.

Aku rumah bagi burung.
Rumah bagi ikan.
Rumah bagi pohon.
Rumah bagi kehidupan yang bahkan
mungkin tak pernah kauperhatikan.

Dan aku adalah rumahmu.

Manusia,
Aku tahu tanganmu mampu merusak.

Tetapi aku juga tahu
tangan yang sama mampu memperbaiki.

Aku melihatmu menanam pohon.

Membersihkan sungai.

Mengurangi sampah.

Menjaga mata air.

Dan menggandeng tangan anakmu
sambil berkata,

BACA JUGA :  Kapolres Agung Tribawanto dan Jajaran Bagikan Bendera bagi Pengendara

“Bumi ini juga harus kita jaga.”

Di situlah aku kembali berharap.

Sebab aku tidak membutuhkan
janji panjang tentang cinta.

Aku hanya meminta:

pedulilah.

Jika kau mencintai air,
jagalah sumbernya.

Jika kau mencintai pohon,
rawatlah hingga tumbuh.

Jika kau mencintai laut,
jangan kirimkan sampah kepadanya.

Jika kau mencintai bumi,

biarkan cinta itu terlihat dari caramu hidup.

Suatu hari,
kau akan pergi.

Aku mungkin masih berputar
mengelilingi matahari.

Tetapi sebelum hari itu tiba,
aku ingin menitipkan satu pertanyaan:

Ketika anak-anak yang belum lahir hari ini kelak berjalan di atas tanah yang sama,

apakah mereka akan berkata,

“Terima kasih. Kalian telah menikmati bumi, tetapi tidak menghabiskannya.”*

Ataukah mereka akan bertanya,

“Mengapa kalian tahu, tetapi tidak menjaga?”

Manusia…

Aku tidak membutuhkan jawabanmu sekarang.

Simpanlah kata-katamu.

Aku akan menemukan jawabannya,
pada air yang kau hemat,
pada sampah yang kau kurangi,
pada pohon yang kau pelihara,
pada kehidupan yang kau jaga,
dan pada anak-anak
yang kau ajari mencintai rumahnya.

BACA JUGA :  Kantor Pertanahan Pesisir Selatan Berikan Penghargaan Employee of The Month Juli 2026

Karena suatu hari
yang tertinggal bukan hanya namamu,

tetapi juga jejak caramu hidup.

Maka cintailah aku
selagi sungai masih dapat dijaga,
selagi pohon masih dapat ditanam,
selagi tanah masih dapat dipulihkan,
dan selagi tanganmu
masih mempunyai kesempatan untuk berbuat baik.

Aku menunggu jawabanmu.

Bukan melalui kata-kata.

Melalui caramu hidup mulai hari ini.💕

Salam sunyi,

Bumi ❤️💕🌏

Bogor, 11 Agustus 2026

Dosen IPB University, Penulis dan penggiat Literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *