Bahtera Nuh dan Indonesia yang Hendak Berdiri di Atas Kakinya

(Membaca Karya Hendra Buana dari Era Prabowo: Pangan, Energi, Air, dan Masa Depan Bangsa)

Oleh : Yurnaldi*)

Pada 2003, ketika Hendra Buana menyelesaikan sebuah karya besar ikonik berjudul Bahtera Nuh, Indonesia berada dalam suasana sejarah yang berbeda sama sekali dengan hari ini.

Karya berukuran 3 × 1,5 meter dan dikoleksi Dian Wijaya itu lahir dari perenungan seorang seniman terhadap kisah Nabi Nuh. Di dalamnya terbentang lanskap luas: pegunungan, lembah, tanah, air, langit yang berat oleh awan, serta kehidupan yang berada di antara ketenangan dan ancaman.

Dua puluh tiga tahun kemudian, karya itu dapat kita pandangi kembali dari sebuah zaman yang berbeda.

Indonesia kini memasuki era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dengan sebuah agenda besar: membangun bangsa yang lebih mandiri dan tidak mudah terguncang oleh krisis global. Pangan dan energi ditempatkan sebagai fondasi transformasi nasional, sementara ketahanan air semakin diperlakukan sebagai bagian penting dari pembangunan.

Di sinilah Bahtera Nuh memperoleh kehidupan tafsir yang baru. Bukan karena Hendra Buana pada 2003 sedang meramalkan pemerintahan Prabowo. Sama sekali bukan. Tetapi karena karya seni yang besar memiliki kemampuan istimewa: ia dapat berbicara melampaui waktu ketika zaman berubah.

Dan ketika Indonesia hari ini berbicara tentang swasembada pangan, kemandirian energi, ketahanan air, dan kedaulatan sumber daya, kita seperti sedang menemukan kembali pertanyaan yang tersimpan di dalam Bahtera Nuh:

Apa yang sesungguhnya harus diselamatkan ketika sebuah bangsa menghadapi badai zaman?

Bahtera sebagai Metafora Negara

Dalam kisah Nabi Nuh, bahtera adalah sarana penyelamatan. Ketika air bah datang dan dunia lama tenggelam, bahtera menjadi ruang untuk mempertahankan kehidupan. Di dalamnya bukan hanya manusia, tetapi juga makhluk hidup yang harus diselamatkan agar kehidupan dapat berlanjut setelah bencana berlalu.

Bahtera karena itu bukan sekadar kapal. Ia adalah sistem penyelamatan kehidupan.

Jika metafora itu kita bawa ke dalam konteks Indonesia hari ini, negara dapat dibayangkan sebagai sebuah bahtera besar.

Di dalamnya terdapat 280 juta lebih manusia dengan kebutuhan yang sangat mendasar: makanan, energi, air, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, keamanan, dan lingkungan hidup yang layak.

Maka kekuatan sebuah negara tidak semata-mata diukur dari seberapa besar ekonominya, seberapa banyak gedung pencakar langitnya, atau seberapa panjang jalan tol dan infrastrukturnya.

Ada pertanyaan yang lebih mendasar: Apakah bahtera bangsa itu mampu membuat rakyatnya tetap hidup ketika badai global datang? Pertanyaan tersebut menjadi sangat relevan setelah pengalaman pandemi Covid-19 dan berbagai gejolak geopolitik yang mengganggu rantai pasok global.

Presiden Prabowo berkali-kali menempatkan pengalaman krisis global sebagai alasan mengapa Indonesia harus memperkuat kemandirian pangan dan energi. Pada Januari 2026, pemerintah menyatakan Indonesia telah mencapai swasembada pangan 2025, lebih cepat dari target empat tahun yang sebelumnya ditetapkan.

Di sinilah Bahtera Nuh menjadi metafora yang menarik. Swasembada pada dasarnya adalah usaha memperkuat lambung bahtera.

Pangan: Jangan Sampai Bahtera Kehabisan Makanan

Tidak ada kehidupan tanpa makanan. Kalimat itu sederhana, tetapi memiliki konsekuensi politik, ekonomi, sosial, bahkan pertahanan yang sangat besar.

Sebuah negara boleh mempunyai teknologi tinggi, industri maju, cadangan devisa besar, dan angkatan bersenjata kuat. Tetapi ketika rakyatnya tidak memperoleh makanan, seluruh bangunan kekuasaan itu menjadi rapuh.

Karena itu, ketika Prabowo menempatkan swasembada pangan sebagai fondasi kemandirian, gagasan tersebut sesungguhnya berbicara mengenai sesuatu yang sangat elementer: kemampuan bangsa untuk memastikan rakyatnya makan.

Pada 7 Januari 2026, Prabowo secara resmi mengumumkan bahwa Indonesia mencapai swasembada pangan tahun 2025. Pemerintah menyebut capaian itu sebagai tonggak kemandirian dan pengurangan ketergantungan terhadap impor.

Namun Bahtera Nuh mengajarkan satu hal penting: menyelamatkan kehidupan bukan hanya soal memiliki persediaan hari ini.

Persoalannya adalah keberlanjutan. Pangan tidak mungkin dipisahkan dari tanah. Tanah tidak mungkin dipisahkan dari air. Air tidak mungkin dipisahkan dari hutan dan ekosistem. Dan semuanya tidak mungkin dipisahkan dari petani. Maka swasembada pangan yang sejati bukan sekadar angka produksi beras atau jagung.

BACA JUGA :  Pawai Alegoris Kota Sawahlunto Meriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI

Ia harus berarti: petani tetap memiliki tanah, air tersedia, benih terjaga, pupuk tersedia, teknologi berkembang, harga hasil panen adil, dan generasi muda masih mau menjadi petani.

Jika tidak, kita mungkin memiliki pangan hari ini tetapi kehilangan kemampuan memproduksinya esok hari. Itulah pelajaran penting yang dapat kita tarik dari lanskap Bahtera Nuh.

Di dalam lukisan itu, yang harus diselamatkan bukan hanya manusia. Dunia tempat manusia hidup juga harus diselamatkan.

Energi: Bahtera Tidak Akan Bergerak Tanpa Tenaga

Ada lapisan lain yang membuat karya Hendra Buana terasa aktual. Bahtera membutuhkan tenaga untuk bergerak. Dalam kehidupan modern, energi adalah salah satu tenaga penggerak peradaban. Rumah membutuhkan listrik. Pabrik membutuhkan energi. Transportasi membutuhkan bahan bakar. Pertanian membutuhkan mesin. Pusat data membutuhkan listrik. Rumah sakit membutuhkan energi.

Bahkan hampir seluruh aktivitas ekonomi modern berhenti ketika pasokan energi terhenti. Karena itu, agenda swasembada energi yang didorong Prabowo dapat dibaca sebagai usaha untuk memastikan agar bahtera Indonesia tidak bergantung sepenuhnya pada bahan bakar dari luar.

Pada Juni 2026, Prabowo menegaskan bahwa swasembada energi merupakan target strategis pemerintah dan menyebut pengembangan biodiesel B50 sebagai salah satu langkah menuju pengurangan ketergantungan impor BBM. Pemerintah juga mendorong pemanfaatan sumber energi domestik seperti bioenergi, panas bumi, hidro, dan tenaga surya.

Tetapi di sinilah Bahtera Nuh kembali memberikan pertanyaan kritis. Jangan sampai usaha menggerakkan bahtera justru merusak laut yang menjadi tempat bahtera itu berlayar. Artinya, kemandirian energi tidak boleh hanya berarti mengganti impor dengan eksploitasi sumber daya domestik.

Kemandirian energi harus sekaligus menjadi perjalanan menuju energi yang berkelanjutan. Indonesia memiliki matahari. Memiliki air. Memiliki panas bumi. Memiliki angin. Memiliki biomassa. Memiliki sumber daya alam yang sangat besar. Persoalannya bukan sekadar apakah Indonesia kaya energi. Persoalannya adalah: Apakah kekayaan itu dapat dikelola tanpa menghancurkan fondasi ekologis bangsa?

Pertanyaan tersebut terasa kuat ketika kita kembali memandang gunung, lembah, dan air dalam lukisan Hendra Buana.

Air: Unsur yang Menghubungkan Semuanya

Di antara pangan dan energi, ada satu unsur yang sering kali kurang memperoleh perhatian publik, padahal justru menjadi penghubung keduanya: air.

Tanpa air, pertanian tidak berjalan. Tanpa air, banyak pembangkit energi tidak berjalan. Tanpa air bersih, kesehatan manusia terganggu. Tanpa tata kelola air yang baik, kota tenggelam ketika hujan dan kekeringan ketika kemarau. Karena itu, ketahanan air sesungguhnya merupakan salah satu fondasi paling mendasar dari keberlangsungan bangsa.

Pada Juli 2026, pemerintah meresmikan lima bendungan sekaligus di sejumlah daerah sebagai bagian dari penguatan ketahanan air nasional. Infrastruktur tersebut diarahkan untuk mendukung pertanian, penyediaan air baku, pengendalian banjir, dan energi bersih.

Menariknya, air merupakan salah satu elemen visual penting dalam Bahtera Nuh. Secara naratif, air dalam kisah Nuh adalah ancaman. Tetapi secara kehidupan, air juga merupakan sumber kehidupan. Di situlah paradoksnya. Air dapat menyelamatkan manusia, tetapi air juga dapat menghancurkannya.

Semuanya bergantung pada bagaimana manusia memperlakukannya. Banjir dapat menjadi bencana ketika hutan dihancurkan dan daerah resapan ditutup. Kekeringan menjadi ancaman ketika sumber air tidak dijaga. Sungai menjadi bencana ketika ruang alirnya dirusak. Maka ketahanan air bukan hanya membangun bendungan.

Ia juga berarti menjaga hutan, daerah aliran sungai, lahan basah, mata air, kawasan resapan, dan tata ruang. Dengan kata lain: ketahanan air adalah persoalan kebudayaan.

Dari Bahtera Nabi Nuh ke Bahtera Indonesia

Di sinilah karya Hendra Buana memperoleh makna yang semakin luas. Pada lapisan pertama, kita melihat kisah Nabi Nuh. Pada lapisan kedua, kita melihat manusia dan alam. Pada lapisan ketiga, kita dapat melihat Indonesia. Indonesia adalah bahtera besar.

BACA JUGA :  Perkara BSN di Kredit BNI Rp34 Miliar Masuk Pengadilan, Dua Tersangka Menyusul

Dan bahtera itu sedang berlayar di tengah dunia yang tidak selalu tenang. Perang dapat mengganggu pasokan energi. Krisis pangan dapat terjadi sewaktu-waktu. Perubahan iklim dapat mengubah pola produksi pertanian.

Gangguan rantai pasok dapat membuat negara eksportir menahan komoditas untuk kepentingan domestiknya sendiri. Dalam situasi semacam itu, sebuah negara yang terlalu bergantung kepada dunia luar akan menjadi rentan. Karena itu, gagasan kemandirian bukan sekadar slogan nasionalistik.

Ia adalah strategi bertahan hidup sebuah bangsa.

Prabowo sendiri pada Februari 2026 menyebut swasembada pangan sebagai pilar utama strategi transformasi dan menempatkan swasembada energi sebagai pilar penting berikutnya.

Maka Bahtera Nuh dapat dibaca sebagai sebuah pertanyaan artistik yang mendahului perdebatan kebijakan itu: Seberapa kuat bahtera kita menghadapi badai?

Tetapi Ada Pertanyaan yang Lebih Sulit

Namun esai ini tidak boleh berhenti pada kekaguman terhadap gagasan kemandirian. Justru karya Hendra Buana memungkinkan kita mengajukan pertanyaan yang lebih kritis.

Apa yang terjadi jika dalam usaha membangun bahtera, kita justru menebang hutan yang menjaga air, mengeringkan lahan, menghilangkan tanah pertanian, mencemari sungai, atau mengorbankan masyarakat yang hidup di sekitar sumber daya alam?

Ini bukan pertanyaan untuk menolak pembangunan. Sebaliknya. Ini adalah pertanyaan agar pembangunan memiliki arah moral. Indonesia memang membutuhkan pangan. Indonesia memang membutuhkan energi.

Indonesia memang membutuhkan industri. Indonesia juga membutuhkan infrastruktur. Tetapi semua kebutuhan itu harus diletakkan dalam satu kesadaran: sumber daya alam bukan gudang yang tidak pernah habis. Jika tanah rusak, pangan terganggu. Jika hutan rusak, air terganggu.

Jika air terganggu, pangan dan energi ikut terganggu. Jika lingkungan rusak, kualitas hidup manusia menurun. Dengan demikian, pangan, energi, dan air sebenarnya bukan tiga agenda yang berdiri sendiri. Ketiganya adalah satu ekosistem kehidupan.

Bahtera yang Berisi Generasi Mendatang

Ada alasan lain mengapa karya ini layak dibaca dalam konteks Indonesia menuju 2045. Sebuah bangsa tidak membangun hanya untuk generasi yang sedang hidup. Ia juga membangun untuk mereka yang belum lahir.

Jika hari ini kita berbicara tentang swasembada pangan, pertanyaannya bukan hanya apakah anak-anak Indonesia tahun ini dapat makan. Pertanyaannya: Apakah anak-anak Indonesia pada 2045 masih memiliki tanah yang subur untuk ditanami?

Jika hari ini kita berbicara tentang energi, pertanyaannya bukan hanya apakah listrik tersedia. Pertanyaannya: Apakah energi yang kita gunakan hari ini meninggalkan bumi yang masih layak dihuni?

Jika hari ini kita berbicara tentang air, pertanyaannya bukan hanya berapa banyak bendungan yang dapat dibangun.

Pertanyaannya: Apakah mata air, sungai, hutan, dan daerah tangkapan air masih ada ketika generasi berikutnya membutuhkannya?

Inilah perspektif yang membuat Bahtera Nuh menjadi lebih dari sekadar karya religius. Ia menjadi karya tentang tanggung jawab antargenerasi.

Bahtera yang Harus Berlayar, Bukan Sekadar Dipamerkan

Ada satu kemungkinan tafsir lagi yang menurut saya penting. Bahtera tidak dibuat untuk dipajang di daratan. Bahtera dibuat untuk menghadapi air. Artinya, sebuah gagasan besar tentang kemandirian tidak boleh berhenti sebagai dokumen, slogan, atau kebanggaan politik.

Ia harus bekerja. Swasembada pangan harus terasa di meja makan rakyat. Kemandirian energi harus terasa dalam harga dan ketersediaan energi. Ketahanan air harus terasa ketika masyarakat memperoleh air bersih dan ketika sawah tetap mendapatkan pengairan.

Dan pembangunan harus terasa dalam meningkatnya kualitas hidup manusia. Dalam konteks ini, pernyataan pemerintah bahwa swasembada pangan telah tercapai harus dibaca bukan sebagai titik akhir, melainkan awal dari pekerjaan yang lebih berat: mempertahankannya secara berkelanjutan. Pemerintah sendiri menyatakan akan melanjutkan penguatan sektor pertanian, kesejahteraan petani, serta teknologi dan inovasi.

Bahtera yang baik bukan bahtera yang indah ketika dilihat dari pantai.

BACA JUGA :  Pengukuran Terjadwal Beri Kepastian Waktu Layanan bagi Masyarakat di 446 Kantah

Bahtera yang baik adalah bahtera yang tetap mengapung ketika badai datang.

Hendra Buana dan Sebuah Pertanyaan untuk Indonesia

Mungkin inilah alasan mengapa Bahtera Nuh Hendra Buana layak dilihat kembali sekarang. Ia dibuat pada 2003. Ia tidak dibuat untuk pemerintahan hari ini. Tidak dibuat untuk Asta Cita. Tidak dibuat untuk program swasembada pangan atau energi.

Namun karya seni yang baik tidak selalu selesai ketika senimannya selesai melukis. Ia terus berubah makna ketika masyarakat yang melihatnya berubah. Dan hari ini, ketika Indonesia berbicara tentang kemandirian pangan, energi dan air, Bahtera Nuh seperti membuka sebuah pintu menuju pertanyaan yang sangat mendasar:

Apa yang hendak kita selamatkan dari Indonesia?

Apakah sekadar produksi? Apakah sekadar pertumbuhan ekonomi? Apakah sekadar cadangan energi? Atau seluruh sistem kehidupan yang membuat bangsa ini mampu bertahan dan berkembang? Jawabannya akan menentukan bentuk bahtera Indonesia.

Dari Bahtera Menuju Kedaulatan

Kemandirian pada akhirnya bukan berarti Indonesia menutup diri dari dunia. Swasembada bukan berarti tidak membutuhkan negara lain. Kedaulatan bukan berarti hidup sendirian.

Justru bangsa yang kuat adalah bangsa yang dapat bekerja sama dengan dunia karena ia tidak kehilangan kemampuan untuk berdiri sendiri ketika keadaan memaksanya.

Dalam konteks itulah gagasan Prabowo mengenai swasembada pangan dan energi menjadi penting. Pemerintah mengaitkannya dengan kemandirian bangsa dan kemampuan menghadapi gejolak global.

Tetapi Bahtera Nuh mengingatkan bahwa kemandirian harus memiliki satu pasangan kata: keberlanjutan. Pangan tanpa tanah yang sehat tidak berkelanjutan. Energi tanpa lingkungan yang sehat tidak berkelanjutan. Air tanpa ekosistem yang terjaga tidak berkelanjutan. Pembangunan tanpa manusia sebagai tujuan akhirnya juga kehilangan makna.

Maka bahtera Indonesia yang ideal bukan sekadar bahtera yang kuat. Ia adalah bahtera yang tahu ke mana harus berlayar, siapa yang harus diselamatkan, dan apa yang tidak boleh ditenggelamkan.

Epilog: Ketika Lukisan Menjadi Cermin Bangsa

Kita kembali kepada lukisan Hendra Buana. Pegunungan membentang. Lembah terbuka. Air mengalir. Hewan-hewan hadir di antara lanskap.

Langit gelap menggantung di atas dunia. Ada suasana ancaman, tetapi juga terdapat kehidupan. Ada kehancuran, tetapi juga kemungkinan keselamatan. Ada dunia lama, tetapi sekaligus bayangan tentang dunia baru.

Kini, setelah lebih dari dua dekade karya itu pertama kali dibuat, kita dapat memandangnya dengan pertanyaan yang berbeda.

Bukan lagi semata-mata: “Di mana Bahtera Nuh?” Melainkan: “Apakah Indonesia sedang membangun bahteranya sendiri?”

Bahtera itu bernama kedaulatan pangan. Bahtera itu bernama kemandirian energi. Bahtera itu bernama ketahanan air. Tetapi bahtera itu juga harus bernama lingkungan yang lestari, petani yang sejahtera, masyarakat yang adil, dan generasi mendatang yang masih memiliki masa depan.

Sebab pada akhirnya, inti kisah Nabi Nuh bukanlah kapal. Intinya adalah penyelamatan kehidupan.

Dan mungkin, tanpa pernah dimaksudkan demikian sejak awal, itulah yang membuat karya Hendra Buana tahun 2003 kembali berbicara begitu keras kepada Indonesia hari ini:

Sebuah bangsa boleh membangun bahtera sebesar apa pun. Tetapi jika ia gagal menyelamatkan sumber kehidupan, bahtera itu pada akhirnya hanya akan menjadi kapal yang berlayar menuju kehampaan.

Karena itu, tugas terbesar Indonesia bukan sekadar membuat bahtera menjadi kuat.

Tugas terbesar kita adalah memastikan bahwa ketika badai datang, masih ada kehidupan yang layak diselamatkan—dan masih ada bumi yang layak menjadi tempat kita berlabuh.

Padang,18 Agustus 2026

Wartawan Utama, Sastrawan dan Pelukis. Editorial Kompas (1995-2011)*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *