Oleh: Hendri Parjiga*)
Delapan tahun bukan waktu yang sebentar.
Dalam rentang waktu itu, generasi atlet berganti. Mereka yang tampil pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) terakhir 2018 sebagian mungkin telah mengakhiri karier.
Di saat yang sama, lahir dan tumbuh generasi atlet muda yang selama bertahun-tahun harus menjalani pembinaan tanpa mendapatkan panggung kompetisi tingkat provinsi.
Kini penantian itu memasuki babak akhir.
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah, didampingi Wakil Gubernur Vasko Ruseimy, disaksikan sejumlah Kepala Daerah telah memukul gong pelaksanaan Porprov XVI Sumbar 2026 melalui soft launching yang digelar di Istana Gubernur, Kamis (27/8/2026).
Pesannya jelas: Porprov XVI tetap digelar pada 2–14 Oktober 2026.
Kota Solok dipercaya menjadi lokasi pembukaan, sementara Kabupaten Padang Pariaman menjadi tuan rumah penutupan.
Dengan keputusan itu, semestinya tidak ada lagi ruang untuk mempertanyakan apakah Porprov akan digelar atau kembali ditunda.
Pertanyaan kita sekarang harus dinaikkan satu tingkat.
Bukan lagi, “Jadi atau tidak?”
Melainkan, “Untuk apa Porprov ini digelar setelah delapan tahun menunggu?”
Sebab jika Porprov XVI hanya berakhir sebagai seremoni pembukaan, pertandingan, perebutan medali, kemudian semuanya kembali sunyi, maka delapan tahun penantian hanya melahirkan sebuah pesta olahraga selama kurang lebih dua pekan.
Itu terlalu mahal.
Porprov seharusnya menjadi momentum untuk membangun kembali ekosistem olahraga Sumatera Barat.
Delapan Tahun Harus Menjadi Pelajaran
Porprov XVI tidak lahir secara tiba-tiba.
Perjalanannya telah melalui berbagai kebijakan dan keputusan pemerintah daerah. Penjadwalan Porprov XVI 2026 dan Porprov XVII 2028 telah dituangkan dalam SK Gubernur Sumbar Nomor 426-815-2025.
Kemudian diperkuat dengan SK Gubernur Sumbar Nomor 426-121-2026 tentang penyelenggaraan Porprov XVI Tahun 2026 dan Porprov XVII Tahun 2028.
Selanjutnya, SK Gubernur Nomor 426-377-2026 menetapkan tuan rumah bersama, cabang olahraga serta jadwal pelaksanaan Porprov XVI.
Artinya, dari sisi kebijakan, jalan menuju Porprov sudah dibangun.
Kini tantangannya adalah memastikan seluruh keputusan tersebut benar-benar berubah menjadi kerja nyata.
Pengalaman delapan tahun terakhir seharusnya menjadi pelajaran penting bagi Sumatera Barat. Ketidakpastian jadwal bukan sekadar persoalan administratif. Bagi dunia olahraga, ketidakpastian adalah masalah serius karena berhubungan langsung dengan pembinaan atlet.
Atlet membutuhkan target.
Pelatih membutuhkan kalender kompetisi.
Cabang olahraga membutuhkan program.
Pemerintah daerah membutuhkan kepastian perencanaan.
Tanpa kompetisi yang terukur, pembinaan akan kehilangan salah satu instrumen evaluasi terpentingnya.
Karena itu, keputusan mempertahankan jadwal 2–14 Oktober harus menjadi titik balik. Bukan hanya memastikan pertandingan berlangsung, tetapi juga memastikan setelah Porprov selesai, pembinaan tidak kembali berjalan tanpa arah.
Atlet Tak Bisa Terus Disuruh Menunggu
Dalam setiap perdebatan mengenai anggaran, venue, kepanitiaan dan kesiapan daerah, ada satu kelompok yang jangan sampai terlupakan: atlet.
Mereka tidak menyusun anggaran.
Mereka tidak menentukan kebijakan.
Mereka tidak menetapkan jadwal.
Tetapi mereka yang paling merasakan akibat ketika kompetisi ditunda.
Seorang atlet berlatih dengan target.
Pelatih menyusun program berdasarkan kalender pertandingan. Orang tua memberikan dukungan. Daerah mengeluarkan biaya pembinaan.
Semua itu membutuhkan ujung bernama kompetisi.
Karena itu, Porprov XVI harus menjadi panggung yang layak bagi atlet Sumatera Barat.
Fasilitas latihan harus tersedia. Peralatan pertandingan harus memenuhi standar. Administrasi atlet harus jelas. Akomodasi, konsumsi, transportasi, kesehatan dan keamanan kontingen harus dipastikan.
Jangan sampai jadwal sudah ditetapkan, tetapi persoalan teknis baru sibuk dibicarakan ketika pertandingan tinggal menghitung hari.
Atlet sudah terlalu lama menunggu.
Sekarang giliran penyelenggara membuktikan bahwa penantian tersebut tidak sia-sia.
19 Bendera, Satu Nama: Sumatera Barat
Ada sebuah momentum simbolik yang menarik perhatian pada hari soft launching Porprov.
Sebanyak 19 bendera KONI kabupaten/kota se-Sumatera Barat berkibar di halaman Kantor KONI Sumbar.
Sekilas, itu mungkin hanya seremoni. Namun jika dibaca lebih dalam, ada pesan penting di baliknya.
Ada 19 daerah dengan karakter, kepentingan dan target prestasi masing-masing.
Ada 19 kontingen yang akan datang dengan ambisi menjadi yang terbaik.
Ada persaingan untuk meraih medali sebanyak-banyaknya.
Tetapi di atas seluruh persaingan tersebut, ada satu identitas yang sama: Sumatera Barat.
Karena itu, Porprov jangan direduksi hanya menjadi pertarungan klasemen medali.
Medali memang penting. Prestasi adalah tujuan olahraga.
Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang terjadi terhadap atlet setelah medali tersebut tersimpan di lemari.
Apakah atlet terbaik Porprov akan terus dibina?
Apakah mereka dipersiapkan untuk Kejurnas, Pra-PON dan PON?
Apakah pelatih mendapatkan program berkelanjutan?
Apakah cabang olahraga memiliki sistem pembinaan yang jelas?
Jika tidak, Porprov hanya akan menjadi siklus empat tahunan— atau dalam kasus Sumbar kali ini, delapan tahunan— yang menghasilkan juara sementara tanpa kesinambungan prestasi.
PB Porprov Tak Punya Banyak Waktu
Pembentukan Panitia Besar Porprov XVI melalui SK Ketua Umum KONI Sumbar Nomor 135 Tahun 2026 tertanggal 24 Agustus 2026 telah memberikan struktur kerja yang jelas.
Editiawarman dipercaya sebagai Ketua Pelaksana, didampingi Alvira sebagai Wakil Ketua I, Dolla Indra sebagai Wakil Ketua II, Zulfadhli Muchtar sebagai Sekretaris dan Halim Fitra Setiawan sebagai Bendahara.
Namun struktur hanyalah titik awal. Dengan waktu menuju pembukaan yang tinggal hitungan minggu, PB Porprov harus bergerak cepat.
Venue harus dipastikan.
Perangkat pertandingan harus siap.
Technical delegate harus bekerja.
Administrasi atlet dan ofisial harus dibereskan.
Akomodasi serta konsumsi kontingen harus jelas.
Transportasi harus dipetakan.
Aspek keamanan dan kesehatan harus disiapkan.
Koordinasi dengan tuan rumah harus berjalan tanpa celah.
Publik tidak membutuhkan terlalu banyak seremoni. Publik membutuhkan bukti bahwa Porprov benar-benar siap.
Sebab ukuran keberhasilan sebuah event olahraga bukan hanya meriahnya pembukaan.
Ukuran sebenarnya adalah apakah pertandingan berlangsung tertib, adil, aman, tepat waktu dan profesional.
Tuan Rumah Harus Membuktikan Komitmen
Keputusan mempertahankan jadwal Porprov juga menjadi tantangan bagi pemerintah kabupaten/kota yang terlibat sebagai tuan rumah bersama.
Menjadi tuan rumah bukan sekadar memasang spanduk, baliho atau menghadirkan panggung pembukaan. Tuan rumah membawa nama Sumatera Barat.
Karena itu, pemerintah daerah harus memastikan venue layak, dukungan anggaran tersedia, pelayanan kontingen berjalan baik dan kebutuhan pertandingan dipenuhi.
Komitmen tidak cukup diucapkan dalam rapat.
Komitmen harus terlihat di lapangan.
Atlet yang datang dari berbagai kabupaten/kota harus merasa bahwa mereka benar-benar dihormati sebagai peserta kompetisi olahraga, bukan sekadar tamu dalam sebuah seremoni.
Jangan Ulangi Siklus yang Sama
Sumatera Barat sebenarnya tidak kekurangan talenta.
Di berbagai cabang olahraga, selalu muncul atlet-atlet potensial. Persoalannya adalah bagaimana menjaga mereka tetap berada dalam sistem pembinaan.
Jangan sampai atlet bersinar di Porprov, kemudian hilang karena tidak ada kompetisi lanjutan.
Jangan sampai pelatih bekerja keras berbulan-bulan, kemudian program berhenti setelah pertandingan selesai.
Jangan sampai pemerintah daerah menganggap tugasnya selesai setelah menyerahkan bonus atau piala.
Dan jangan sampai KONI maupun cabang olahraga merasa pekerjaan berakhir ketika klasemen medali diumumkan.
Porprov bukan garis finish. Porprov adalah checkpoint.
Di titik itu, kita harus mengevaluasi siapa yang berkembang, siapa yang tertinggal, cabang olahraga mana yang potensial, dan atlet mana yang layak diproyeksikan menuju level yang lebih tinggi.
Jika pola ini berjalan, Porprov akan menjadi bagian penting dari sistem pembinaan menuju PON.
Jika tidak, kita hanya akan mengulang siklus yang sama.
Melahirkan juara, merayakannya, kemudian kehilangan mereka.
Gong Sudah Dipukul, Kini Saatnya Bekerja
Soft launching pada 27 Agustus 2026 harus dibaca sebagai titik balik.
Gong sudah dipukul. Jadwal sudah diumumkan. Tanggal 2–14 Oktober sudah berada di depan mata.
Kini tidak ada alasan untuk kembali terjebak dalam perdebatan yang sama.
Jika ada persoalan, selesaikan.
Jika ada kekurangan, lengkapi.
Jika ada kelemahan, perbaiki.
Jika anggaran terbatas, cari jalan keluar yang tidak mengorbankan kualitas penyelenggaraan dan pembinaan atlet.
Yang tidak boleh dilakukan adalah kembali kepada kebiasaan lama: menunggu, menunda, lalu kehilangan momentum.
Delapan tahun sudah cukup.
Atlet Sumatera Barat berhak mendapatkan panggung.
Masyarakat berhak mendapatkan tontonan olahraga yang berkualitas.
Cabang olahraga berhak mendapatkan kompetisi yang profesional.
Dan Sumatera Barat berhak memiliki sistem pembinaan yang mampu melahirkan atlet berprestasi.
Karena itu, Porprov XVI jangan berhenti sebagai pesta olahraga.
Jadikan ia sebagai deklarasi kebangkitan olahraga Sumatera Barat.
Ketika peluit pertama ditiup pada Oktober nanti, yang dipertaruhkan bukan hanya medali.
Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan atlet, masyarakat, pemerintah daerah, cabang olahraga dan masa depan olahraga Sumatera Barat.
Setelah delapan tahun menunggu, Sumbar tidak membutuhkan alasan lagi.
Sumbar membutuhkan pembuktian. []
Penulis adalah Wartawan Utama, Pemimpin Redaksi FokusSumbar.Com dan Kabid Humas KONI Sumbar.*)
