Oleh: Nurul Jannah*)
Jangan Biarkan Merah Putih Turun dari Hati
Agustus sedang mengemasi kopernya.
Sebentar lagi ia pergi.
Bendera akan diturunkan.
Umbul-umbul dilipat.
Panggung pun dibongkar.
Hadiah-hadiah lomba telah berpindah tangan.
Lagu-lagu perjuangan perlahan kembali jarang terdengar.
Dan, sebelum Agustus benar-benar menutup pintu, ada satu pertanyaan yang layak disampaikan: Setelah 81 tahun merdeka, apa yang sebenarnya telah kita merdekakan?
Sore setelah sebuah perayaan, seorang petugas kebersihan menyapu lapangan.
Malam sebelumnya, tempat itu penuh tawa.
Orang-orang berfoto, bernyanyi, dan berkali-kali meneriakkan:
“Merdeka!”
Kini, yang tertinggal hanyalah gelas plastik, botol minuman, bungkus makanan, dan sampah yang berserakan.
Lelaki itu membungkuk.
Memungutnya satu demi satu.
Tak ada yang memperhatikannya.
Hanya suara sapu yang bergesekan dengan tanah.
Srek… srek… srek….
Entah mengapa, sore itu suara sapunya terasa lebih lantang daripada pidato kemerdekaan di pagi hari.
Sebab, mencintai Indonesia ternyata tidak selalu membutuhkan mikrofon.
Kadang cinta kepada negeri ini hadir dalam tindakan yang sangat sederhana: memungut sampah yang bahkan bukan milik kita.
Kita begitu mudah berdiri tegak ketika Merah Putih dinaikkan.
Tetapi, apakah kita juga cukup mencintai negeri ini untuk menjaga sungainya tetap bersih?
Kita terharu mendengar Indonesia Raya.
Tetapi, apakah hati kita juga terusik ketika hutan menghilang, sungai menghitam, udara semakin sesak, dan tanah perlahan kehilangan daya hidupnya?
Indonesia bukan hanya tentang peta di dinding.
Indonesia adalah juga sungai yang mengalir di belakang rumah.
Pohon yang menaungi perjalanan.
Air yang diminum anak-anak.
Tanah yang menumbuhkan pangan.
Laut yang menghidupi jutaan keluarga.
Maka, merusak bumi Indonesia sesungguhnya sama dengan melukai rumah sendiri.
Kerusakan besar sering kali dimulai dari kalimat kecil, seperti:
“Ah, cuma satu sampah.”
“Ah, cuma satu pohon.”
“Ah, cuma sedikit limbah.”
“Tidak akan berpengaruh.”
Tetapi, jutaan “cuma satu” yang dibiarkan akhirnya berkumpul menjadi persoalan besar.
Lalu suatu hari, datang banjir, longsor, kekeringan, panas yang semakin menyengat, dan sumber air yang semakin sulit ditemukan.
Kita pun bertanya,
“Mengapa alam begitu kejam?”
Padahal, alam tidak sedang membalas dendam.
Alam hanya mengembalikan akibat dari jejak yang pernah kita tinggalkan.
Barangkali kelak, cucu-cucu kita tidak akan bertanya berapa kali kita mengikuti upacara kemerdekaan.
Mereka mungkin justru bertanya: “Ketika sungai masih bisa diselamatkan, apa yang kalian lakukan?”
“Ketika pohon masih bisa ditanam, mengapa kalian diam?”
“Ketika kalian sudah tahu bumi sedang terluka, mengapa kalian tetap membiarkannya?”
Lalu, apa yang akan kita jawab?
Sebab, mereka akan meminum air yang hari ini kita jaga atau kita cemari.
Mereka akan menghirup udara yang hari ini kita bersihkan atau kita kotori.
Dan mereka akan hidup di bumi yang sedang kita bentuk melalui pilihan-pilihan hari ini.
Karena itu, sebelum Agustus pergi, kita tidak membutuhkan janji-janji besar.
Mulailah dari yang kecil.
Pungut satu sampah.
Kurangi satu plastik.
Hemat satu ember air.
Tanam satu pohon.
Jaga satu sungai.
Ajari satu anak mencintai bumi.
Dan jika kita memiliki kewenangan, sekecil apa pun, gunakanlah untuk menjaga kehidupan: bukan menghabiskannya.
Sebentar lagi Agustus benar-benar pergi.
Benderanya boleh diturunkan.
Umbul-umbul boleh dilipat.
Panggung boleh dibongkar.
Tetapi jangan pernah menurunkan Merah Putih dari hati.
Sebab, Indonesia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang lantang berteriak, “Merdeka!”.
Indonesia membutuhkan orang-orang yang tetap menjaganya ketika kamera telah dimatikan, panggung telah kosong, dan tidak ada lagi tepuk tangan.
Kelak, semoga anak cucu kita masih dapat berdiri di bawah langit Indonesia yang biru, di antara pohon-pohon hijau dan sungai yang jernih, lalu bersyukur: “Terima kasih. Kalian tidak hanya mewariskan negeri yang merdeka. Kalian juga mewariskan bumi yang masih layak kami cintai.”
Selamat jalan, Agustus.
Bawalah kemeriahanmu.
Namun, tinggalkan kepedulianmu di hati kami.
Sebab, September dan bulan-bulan setelahnya akan menjadi ujian yang sesungguhnya.
Ketika bendera telah diturunkan, lagu perjuangan tak lagi terdengar, dan perayaan telah selesai: apakah cinta kita kepada Indonesia masih tetap menyala?
Karena, cinta kepada negeri tidak diukur dari seberapa meriah kita merayakan kemerdekaannya, tetapi dari seberapa sungguh-sungguh kita menjaga tanah, air, udara, dan kehidupan di dalamnya.
Agustus boleh pergi.
Namun, Merah Putih jangan pernah pergi dari hati.
Sebab Indonesia tidak hanya membutuhkan mereka yang pandai merayakannya. Indonesia membutuhkan kita yang bersedia menjaganya. ❤️
Jakarta, 30 Agustus 2026
Dosen Sekolah Vokasi IPB University*)






