Ketika Langit Berabu

Oleh: Nurul Jannah*)

Anak Krakatau dan Pesan yang Dibawa Angin

Pagi ini, langit kembali mengingatkan kita: betapa kecilnya manusia, betapa terbatas daya kita, dan betapa kita bukan siapa-siapa di hadapan kebesaran Allah SWT.

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menunjukkan denyutnya. Berdasarkan laporan resmi Badan Geologi, episode erupsi menerus berlangsung sekitar 25 jam, sejak Jumat malam, 4 September, hingga Minggu dini hari, 6 September 2026.

Setelah episode tersebut berhenti, masih tercatat erupsi susulan bertipe Strombolian. Hingga kini, status Anak Krakatau tetap Level III (Siaga), dengan rekomendasi agar masyarakat tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas.

Namun, yang membuat peristiwa ini terasa begitu dekat bukan hanya cahaya merah yang menyala di tengah Selat Sunda.

Abunya berjalan.

Terbawa atmosfer, abu vulkanik menyebar mengikuti arah dan kecepatan angin. BNPB melaporkan abu mencapai sejumlah wilayah Banten, sementara sebarannya di ruang udara turut memengaruhi operasional beberapa bandara.

Tiba-tiba, gunung yang berdiri di tengah laut itu terasa begitu dekat: hadir di langit, menempel di kaca kendaraan, terbawa udara yang kita hirup, bahkan ikut menentukan perjalanan yang hendak kita lakukan.

Dan saya kembali teringat satu hal:

Alam tidak mengenal pagar rumah kita.

Angin tidak membaca batas administrasi.

Air tidak bertanya di mana batas kabupaten.

Asap tidak membawa paspor.

Dan abu vulkanik tidak berhenti hanya karena kita merasa tinggal jauh dari gunung.

Apa yang terjadi di satu tempat dapat menjalar dan menyentuh kehidupan di tempat lain. Sebab sesungguhnya kita tidak pernah hidup sendiri. Kita tinggal dalam satu rumah besar bernama bumi.

Baca Juga :  Meriahkan Festival Literasi Sumbar 2026, SatuPena Sumbar Gelar Lomba Penulisan Puisi

Tetapi ada hal yang harus kita bedakan dengan jernih.

Erupsi Anak Krakatau adalah proses alamiah bumi. Abu vulkanik dari erupsi tidak dapat begitu saja disamakan dengan pencemaran yang lahir dari aktivitas dan kelalaian manusia.

Namun, peristiwa alam dapat menjadi cermin yang sangat jujur bagi cara kita memperlakukan lingkungan.

Ketika abu turun, kita terganggu.

Ketika kualitas udara berubah, kita khawatir.

Ketika perjalanan terganggu, kita baru menyadari betapa rapuhnya rutinitas yang selama ini kita anggap pasti.

Lalu ada pertanyaan yang seharusnya mengusik kita: Mengapa kita begitu cepat merindukan udara bersih ketika langit berabu, tetapi begitu mudah melupakannya ketika langit kembali biru?

Setiap hari, kita masih menyalakan kendaraan untuk perjalanan yang mungkin dapat ditempuh dengan cara lain.

Kita membakar sampah karena dianggap praktis.

Menggunakan energi seolah tidak akan pernah habis.

Menghasilkan sampah lebih cepat daripada kemampuan kita mengelolanya.

Menebang dan mengurangi pepohonan, lalu mengeluh ketika kota semakin panas.

Kita cemas ketika alam mengirimkan abu dalam hitungan jam.

Namun kita sering tidak cukup cemas terhadap beban lingkungan yang kita tambahkan sendiri; sedikit demi sedikit, hari demi hari, hingga tanpa sadar menjadi masalah besar.

Itulah ironi kita.

Anak Krakatau sedang mengajarkan satu pelajaran penting: kerendahan hati.

Sehebat apa pun teknologi manusia, ada saatnya sebuah gunung membuat pesawat berhenti terbang.

Ada saatnya angin menentukan ke mana abu akan bergerak.

Ada saatnya manusia hanya mampu memantau, mengantisipasi, melindungi diri, lalu menunggu alam kembali tenang.

Baca Juga :  Serial Kurenah Malanca: Hape Seken!

Kita memang tidak dapat mengendalikan semuanya.

Namun justru karena itulah, jangan rusak bagian yang masih berada dalam kendali kita.

Kita tidak dapat menghentikan gunung meletus.

Tetapi kita dapat berhenti membakar sampah sembarangan.

Kita tidak dapat memerintah angin.

Tetapi kita dapat mengurangi emisi dari kebiasaan sehari-hari.

Kita tidak dapat menentukan kapan bumi bergetar.

Tetapi kita dapat menjaga pohon, tanah, sungai, air, dan ruang hidup di sekitar kita.

Kita tidak dapat mencegah seluruh bencana.

Tetapi kita dapat membangun kehidupan yang lebih siap, lebih tangguh, lebih peduli, dan lebih menghormati daya dukung alam.

Di situlah perilaku sehari-hari menemukan maknanya.

Menjaga bumi tidak selalu harus dimulai dari proyek besar.

Ia bisa dimulai dari rumah.

Mematikan lampu ketika tidak diperlukan.

Membawa botol minum sendiri.

Mengurangi plastik sekali pakai.

Mengambil makanan secukupnya.

Tidak membakar sampah.

Menanam dan merawat pohon.

Menjaga saluran air agar tidak menjadi tempat pembuangan sampah.

Dan mengajarkan kepada anak-anak bahwa bumi bukan tempat kita membuang sisa-sisa kehidupan.

Kecil?

Mungkin.

Tetapi bukankah banyak kerusakan lingkungan juga tumbuh dari jutaan tindakan kecil yang terus-menerus kita anggap tidak berarti?

Maka pemulihannya pun dapat dimulai dengan cara yang sama: jutaan tindakan kecil, dilakukan oleh jutaan tangan, dengan kesadaran yang tidak pernah lelah.


Hari ini, Anak Krakatau masih berstatus Siaga.

Masyarakat perlu mengikuti informasi dan arahan resmi, tidak memasuki radius yang direkomendasikan, serta tidak membiarkan informasi yang belum terverifikasi berubah menjadi kepanikan.

Masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak juga perlu terus mengikuti perkembangan resmi dari PVMBG, BNPB, dan BPBD setempat.

Baca Juga :  Bupati Khairunas Ingatkan PPPK: Hak Gaji Harus Sejalan dengan Disiplin dan Kinerja

Namun kelak, ketika erupsi mereda, abu tersapu hujan, perjalanan kembali normal, dan langit kembali biru, semoga pesannya tidak ikut hilang.

Sebab kita mungkin tidak dapat memilih kapan gunung akan meletus.

Tetapi setiap hari kita masih diberi pilihan: apakah kehadiran kita akan menambah beban bumi, atau justru mengurangi sedikit lukanya?

Anak Krakatau tidak sedang marah kepada kita. Ia sedang menjalani proses alamnya.

Kitalah yang perlu bercermin.

Sebab alam tidak selalu membutuhkan manusia untuk menyelamatkannya.

Sering kali, justru manusialah yang perlu menyelamatkan dirinya dengan kembali belajar menghormati alam.

Maka ketika langit berabu, lindungi diri.

Tetapi ketika langit kembali biru, jangan kembali lupa.

Jangan menunggu udara sesak untuk merindukan udara bersih.

Jangan menunggu sungai meluap untuk berhenti membuang sampah.

Jangan menunggu pohon terakhir tumbang untuk mencari teduh.

Dan jangan menunggu bumi terluka lebih dalam untuk mulai mencintainya.

Sebab udara bersih yang hari ini kita rindukan bukanlah kemewahan.

Ia adalah kehidupan.

Dan, menjaga bumi adalah salah satu cara paling sederhana untuk mengatakan:

“Kami masih ingin tinggal di rumah ini. Maka mulai hari ini, kami akan belajar menjadi penghuni yang lebih tahu diri.”💞🌏

Jakarta, 7 September 2026

Penulis | Akademisi | Pemerhati Lingkungan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *