Oleh : H. Abdel Haq, SM-IQ, S.Ag, MA. *)
DALAM suasana menikmati hari raya Idul Fitri 1447 H, yang merupakan momentum istimewa bagi umat Islam, untuk kembali menemui jati dirinya sebagai hamba Allah yang suci, terlepas dari aneka kesalahan, kekhilafan dan dosa.
Setelah sukses dan mampu menyelesaikan rangkaian amal ibadah di bulan suci Ramadhan Keberhasilan meraih kemenangan di bulan Syawal, setelah mereka berjuang dalam menundukkan hawa nafsu, keinginan yang tak terbendung selama bulan Ramadhan.
Berkat rangkaian ibadah di bulan suci Ramadhan, dengan penuh keikhlasan dalam mengharapkan keridhaan Allah Swt, umat Islam diberikan kemuliaan oleh Allah Swt dan berhak menyandang titel muttaqin.
Sesuai dengan yang dijanjikan Allah Swt dalam Al-Quran.
” La’allakum tattaquuna “, agar kamu bertakwa ( Q.S.2.183 ).
Keberhasilan menggondol predikat orang yang bertaqwa, tidak luput dari melakukan rangkaian ibadah di bulan suci Ramadhan. Seperti : berpuasa di siang hari mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari, yang dilakukan dengan penuh keimanan, keikhlasan, dengan memelihara diri dari segala hal yang akan merusak dan membatalkan nilai ibadah puasa.
Mereka mendirikan shalat wajib secara berjamaah, mengerjakan shalat sunnah rawatib, shalat dhuha, shalat tarwih dan witir, ibadah shalat sunnah lainnya serta mendirikan malam-malam Ramadhan.
Selama bulan suci Ramadhan penuh keberkahan, ampunan dan keistimewaan, umat Islam tidak menyia-nyiakan waktu yang dimiliki. Mereka bertadarrus, mempelajari, membaca dan mentadabbur Al-Quran selama bulan suci Ramadhan.
Selama bulan Ramadhan umat Islam banyak mendapatkan pengayaaan ilmu pengetahuan dan wawasan keislaman. Karena hampir semua masjid, mushalla mengagendakan acara taushiyah, ceramah di malam bulan suci Ramadhan.
Dengan adanya taushiyah, ceramah agama yang disampaikan oleh para da’i, da’iyah, muballigh, muballighah. Para penceramah agama itu menyampaikan nilai-nilai keislaman, akhkak, cara bermuamalah yang baik, memotivasi jamaahnya untuk memaksimalkan amal kebaikan di bulan Ramadhan.
Umat Islam menjadikan bulan Ramadhan sebagai ladang ibadah, untuk menambah pundi-pundi amal kebaikan, dengan gemar berinfaq, peduli terhadap kaum dhu’afa, memberikan perbukaan serta melakukan berbagai amal kebaikan.
Dengan pelaksanaan rangkaian ibadah di bulan penuh rahmah, kasih sayang Allah, sarat dengan ampunan dan keberkahan-Nya bagi umat Islam.
Allah Swt sengaja menyediakan aneka bonus, berupa ampunan dosa yang telah berlalu, kembali kepada fitrah, kesucian dirinya, bagaikan seorang bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya. Hal ini dijelaskan Rasulullah Muhammad SAW :
“Man shaama Ramadhaana iimaanan wahtisaaban kharaja min dzunuubihi kayaumi waladathu ummuhu”.
Artinya : ” Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, keluar dosa-dosanya seperti hari dilahirkan ibunya “. ( H.R. Bukhari ).
Setelah berhak menyandang titel muttaqin dan kembali mendapat kesucian, bagaikan seorang bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya. Apakah tugas dan tanggung jawab selaku hamba Allah Swt berhenti sampai disini?
Tidak, tugas dan tanggung jawab setelah berhasil meraih kemenangan, memerangi hawa nafsu selama bulan suci Ramadhan, malah semakin masif dan semakin berat. Yaitu, bagaimana upaya keras untuk merealisasikan amal kebaikan yang telah dilakukan dan dibiasakan di bulan suci Ramadhan menjadi kebiasaan sehari-hari, setelah memasuki bulan Syawal.
Peningkatan Kecerdasan Pasca bulan suci Ramadhan
Keberhasilan meraih kemenangan dengan menggondol predikat muttaqin dan kembali kepada kesucian, fitrah seperti seorang bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya. Akan terlihat dan terealisasi dari peningkatan kecerdasan. Setidaknya akan terlihat dari beberapa peningkatan kecerdasan, sebagai berikut :
- Peningkatan Kecerdasan Spritual, setelah memasuki bulan Syawal yang berarti peningkatan. Mereka yang betul-betul ikhlas dalam menjalani ritual, ibadah selama bulan suci Ramadhan, akan terus melakukan berbagai aktivitas, kegiatan untuk meningkatkan kecerdasan spritual, mengasah jiwa dan rohaninya kepada Allah Swt dengan rangkaian ibadah.
Mereka akan tetap melanjutkan trend positif, seperti di bulan Ramadhan mereka melaksanakan shalat berjamaah, membaca dan mentadabbur Al-Quran. Meningkatkan kesabaran, peduli terhadap kaum dhu’afa. Berpikir positif dan selalu berupaya untuk memberikan pencerahan, kedamaian, kemajuan, kesejahteraan dan kemaslahatan untuk masyarakat umum.
- Peningkatan Kecerdasan Intelektual, setelah melalui proses panjang selama sebulan Ramadhan menunaikan ibadah puasa dan melakukan rangkaian ibadah lainnya. Insya Allah, dipastikan mampu menstimulan, merangsang, memotivasi diri untuk terus berusaha memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, dengan terus menerus belajar dan belajar. Karena dalam agama Islam, menuntut ilmu pengetahuan adalah sebuah kewajiban bagi umatnya.
Seperti digambarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW :
“Thalabul ‘ilmi fariidhatun ‘alaa kulli muslimin wa muslimatin “.
Artinya : ” Menuntut ilmu itu kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah “.
( H.R. Ibnu Majah dari Anas Bin Malik).
Bagi pecinta ilmu pengetahuan, setelah menikmati indahnya berlatih, mengikuti rangkaian ibadah selama bulan suci Ramadhan, dipastikan akan menambah keyakinan dan kesadarannya untuk meningkatkan kualitas intelektualnya, dengan banyak membaca, menelaah, mengalisa dan mengkritisi fenomena yang terjadi. Di samping itu, para komunitas Intelektual ini, akan terus berupaya dan mengembangkan pola pikirnya.
Selanjutnya kaum intelektual sejati akan berupaya mencarikan solusi, problem solving dari permasalahan yang terjadi. Mereka tidak akan berdiam diri, apalagi melacurkan ilmu pengetahuan, wawasan dan keterampilannya untuk membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar. Merekalah punggawa dan penjaga akal sehat, yang selalu kritis, berpikiran logis, kreatif dan selalu berinovasi dengan penemuan barunya untuk kemaslahatan.
- Peningkatan Kecerdasan Emosional, adalah sebuah keniscayaan setelah mendapatkan pembinaan, bimbingan dan pelatihan selama bulan suci Ramadhan. Ibadah puasa yang dilakukan pada siang hari, mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Merupakan ibadah yang sangat strategis untuk melatih, membimbing dan membina kecerdasan emosional.
Terutama dalam pembinaan kesabaran, kedisiplinan, kepatuhan dan kejujuran dalam hidup dan kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat luas.
Yang tak kalah pentingnya ibadah puasa adalah wadah yang sangat strategis untuk memenej hawa nafsu, keinginan, kemauan yang tak terbendung arusnya, agar bisa dikendalikan. Agar mampu memahami, mengetahui dan mampu membedakan mana yang termasuk kebutuhan dan mana yang termasuk kemauan dan menurutkan hawa nafsu belaka.
Justeru itu, dengan pelaksanaan ibadah puasa dan rangkaian amal ibadah di bulan suci Ramadhan, dipastikan akan membuat kecerdasan emosional, semakin kokoh dan kuat dalam menghadapi berbagai masalah yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Sifat-sifat sombong, angkuh, hasad, iri hati, membenci dapat dikunci.
Maka beruntunglah orang yang selalu menyucikan jiwanya dan celakalah mereka yang mengotorinya. Seperti dijelaskan Allah Swt dalam Al-Quran :
” Qad aflaha man zakkaahaa wa qad khaaba man dassaahaa “.
Artinya : ” Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya ( jiwa itu ), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya “. (Q.S.91.9 – 10).
- Peningkatan Kecerdasan Lingual, bagi mereka yang telah mendapatkan latihan, pembinaan, pendidikan, penggemblengan selama bulan suci Ramadhan. Tentu akan banyak mendatangkan hal yang baru, semangat yang membara, menyala dan memunculnya aura positif, menyenangkan melalui ungkapan yang menyejukkan.
Karena dalam menjalankan ibadah puasa, bukanlah sekedar menahan haus dan lapar saja. Akan tetapi ibadah puasa bagaikan sebuah pendidikan dan latihan, yang sarat dengan nilai, mengajarkan tata krama berbahasa yang baik, santun, melarang berkata kasar, bertengkar, apalagi sampai berkelahi, katakan : ” Inniy Shaa-imuun “.
Bagaimana tata cara bergaul, beretika, bermuamalah, bersikap dan berperilaku terhadap diri sendiri, kepada orang lain dan terhadap Allah Swt sebagai pencipta alam semesta. Ibadah puasa mengajarkan kita untuk berbicara apa adanya, jujur, tidak menyakiti orang lain, tidak berdusta dan melakukan kefasikan. Seperti dijelaskan Rasulullah Muhammad SAW :
” Man lam yada’ qaulaz zuuri wal ‘amali bihi falaisa lillaahi haajatun fiy ayyada’a tha’aamahu wa syaraabahu “.
Artinya : ” Barang siapa yang tidak meninggalkan kebodohan, perkataan dusta dan pengamalannya, niscaya Allah tidak mempunyai urusan terhadap perbuatannya dalam meninggalkan makanan dan minuman “. ( H.R. Bukhari ).
- Peningkatan Kecerdasan Individual dan Sosial. Sungguh sangat nyata sekali dari hasil pendidikan, pelatihan, pembinaan dan penggemblengan selama bulan suci Ramadhan terhadap kecerdasan Individual dan sosial. Terutama dalam pelaksanaan ibadah puasa, para shaa-imiin dan Shaa-imaat mendapatkan pembelajaran yang sangat strategis tentang keberadaan Allah Swt sebagai Maha Pencipta Segalanya, Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Berkuasa, Maha Mengetahui apa yang terjadi dan bakal terjadi. Selama berpuasa Allah Swt terasa amat dekat dengan kita.
Sebagai firman Allah Swt :
” Wa huwa ma’akum ainamaa kuntum, wallaahu bimaa ta’maluuna bashiirun “.
Artinya : ” Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan “. ( Q.S.57.4 ).
Dengan pelaksanaan ibadah puasa, mendirikan shalat wajib secara berjamaah, mengerjakan shalat sunnah rawatib, shalat tahajjud, shalat dhuha, shalat tarwih dan witir serta berbagai amal kebaikan yang bernilai ibadah.
Seperti : membaca dan mentadabbur Al-Quran, gemar berinfaq, mendirikan malam-malam Ramadhan, membayar zakat fitrah, memberikan perbukaan, mendengarkan ceramah agama, taushiyah dan pencerahan dan aneka kegiatan untuk meramaikan masjid.
Semuanya itu akan memperkuat aqidah keyakinan kepada Allah Swt, sekaligus membentuk karakter individu yang jujur, sabar, berintegritas, penuh tanggung jawab, disiplin, mematuhi aturan Allah Swt dan Rasul-Nya serta taat aturan, regulasi yang telah disepakati untuk kepentingan umum.
Demikianlah penjelasan tentang Idul Fitri dan dampaknya terhadap peningkatan kecerdasan spritual, intelektual, emosional, lingual, kecerdasan individual dan Sosial. Idul Fitri bukanlah mementingkan pribadi, menjaga gengsi, menyombongkan diri, tetapi meningkatkan silaturahmi, ukhuwah, saling memaafkan dan berupaya terus menerus meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt.
Penulis adalah Jurnalis, Aktivis Dakwah Pendidikan, Pemerhati Sosial dan terakhir Kakankemenag Dharmasraya.*)




