Oleh : Nurul Jannah*)
“Aku pernah memeluk bumi begitu erat, tanpa rasa bersalah, hingga suatu hari aku sadar, tanganku juga ikut melukainya.”
Aku tidak tahu sejak kapan
aku mulai mencintainya sedalam ini.
Mungkin sejak pagi pertama
menyentuh kulitku dengan cahaya yang jujur,
Atau sejak angin
memanggil namaku tanpa suara,
namun selalu membuatku mengerti ke mana aku harus kembali.
Aku tumbuh di peluknya.
Di antara daun yang berbisik,
di bawah langit yang tidak pernah menagih apa pun.
Sungai pernah mengajariku mencintai.
Ia mengalir,
melewati luka, melewati batu, tanpa memilih jalan mudah,
tanpa meminta dimengerti.
Dan aku belajar bahwa
cinta tidak selalu harus memiliki,
cukup mengalir…
tanpa berhenti, tanpa berpaling.
Gunung berdiri di hadapanku.
Diam.
Namun mengguncang seluruh isi dadaku.
Ia tidak pernah memanggil,
namun membuatku datang.
Ia tidak pernah meminta,
namun membuatku ingin menjaga.
Aku dan bumiku,
bukan dua yang berdampingan.
Aku adalah tubuh yang berjalan di atasnya,
dan ia adalah jiwa
yang membuatku tetap hidup.
Lalu suatu hari,
aku melihat luka.
Bukan kecil.
Bukan juga samar.
Namun nyata.
Dalam.
Dan, perlahan, membunuh.
Hutan yang dulu memelukku,
kini berdiri diam, tak bersuara,
seperti kehilangan alasan untuk hidup.
Sungai yang pernah jernih,
kini membawa beban
yang tidak pernah ia pilih.
Langit yang dulu biru,
kini menahan luka
yang kita paksa ia sembunyikan.
Dan aku,
yang pernah sebegitu bahagia di dalamnya,
tiba-tiba tidak lagi bisa bernapas dengan lega.
Bagaimana mungkin aku tetap menyebut ini cinta, jika aku hanya diam saat ia dilukai?
Bagaimana mungkin aku mengaku pulang, jika rumah yang kupijak perlahan hancur oleh tanganku sendiri?
Cinta ini tidak lagi lembut.
Ia berubah menjadi kegelisahan
yang menolak untuk diam,
menjadi luka
yang menolak untuk dilupakan.
Aku tidak ingin hanya menjadi penikmat keindahan,
yang datang, tersenyum, lalu pergi.
Aku tidak ingin menjadi tamu,
di rumah yang seharusnya aku jaga.
Aku ingin tinggal.
Meski harus melawan.
Meski harus berbeda.
Meski harus berdiri sendirian.
Karena mencintai bumi
bukan tentang memuji keindahannya.
Mencintai bumi
adalah keberanian memperjuangkannya,
saat melihatnya terluka.
Dan jika suatu hari
ia benar-benar lelah,
benar-benar diam,
dan benar-benar berhenti memberi,
aku tidak ingin menjadi bagian
dari penyesalan
yang datang terlambat.
Aku ingin tetap bisa berkata,
aku pernah mencintainya
dengan seluruh yang aku miliki,
dan aku tidak akan pernah membiarkannya
hancur sendirian.
Pada akhirnya, mencintai bumi bukan tentang menikmati keindahannya,
melainkan tentang keberanian berdiri menjaganya
saat ia mulai hilang,
saat ia dilukai,
dan saat dunia memilih berpaling.
Bogor, 20 April 2026❤️
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)




